
Malam pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Khaisan membawa Cut Ha meluncur membelah jalan raya di kota Nagoya pinggiran menuju kota Nagoya pusat. Jalanan nampak basah sebab aliran air hujan yang tidak kunjung reda turun sedari sore tadi.
"Kenapa tidak kamu undang untuk makan malam saja di rumahmu, Cut?" tanya Khaisan di antara deras hujan.
"Tidak etis mengundang lelaki datang ke rumah. Lagipula kami ini belum saling menerima. Dia saja yang terlalu cepat mengaminkan perjodohan ini. Dia belum tahu keadaanku," sahut Cut Ha agak menjeling pada Khaisan.
Khaisan tersenyum masam dengan pandangan yang lurus, tapi Cut Ha bisa melihat senyum itu.
"Kenapa kamu tersenyum kecut seperti itu, pengawal Kha?" tanya Cut Ha memprotes.
"Bagaimana parasaanmu? Apa hatimu cemas atau sedang berdebar?" tanya Khaisan dengan usil.
Cut Ha menoleh cepat pada sang pengawal. Wajah mulus itu nampak pias ditanya sedemikian oleh Khaisan.
"Dua-duanya kurasakan. Aku sedang cemas dan berdebar. Tapi aku tidak sedang jatuh cinta. Kamu paham kan, kenapa hatiku terasa begini, pengawal Kha?" tanya Cut Ha pada Khaisan. Seperti bertanya pada seorang ayah atau juga sahabatnya.
"Andai dia menerima kamu apa adanya, kamu gembira?" tanya Khaisan merespon sikap Cut Ha yang sedang akrab padanya.
"Akan kuusahakan gembira. Setidaknya ada lelaki yang sudah disukai orang tuaku dan bisa menerima keadaanku," sahut Cut Ha. Namun, wajah cantik itu tanpa senyum.
"Apa orang tuamu hanya menyukai calon menantu seorang pegawai?" tanya Khaisan dengan menoleh Cut Ha sejenak.
"Aku tidak tahu,," sahut Cut Ha enggan berkomentar.
"Calon suami kamu dulu, yang sekarang jadi suami sahabat kamu. Apa kerjaannya, Cut?" tanya Khaisan kembali menyelidik.
"Ortunya punya rumah makan dan penginapan. Mas Errushqi sendiri jadi manager di perusahaan besar," sahut Cut Ha dengan enggan.
Khaisan menanggapi penjelasan Cut Ha dengan mengangguk. Mengakui jika lelaki pilihan orang tua Cut Ha bukanlah lelaki yang berasal dari keluarga sembarangan.
"Apa betul ini tempat untuk kalian bertemu, Cut?" tanya Khaisan sambil memasuki latar parkir dari sebuah rumah makan yang lengang. Tapi Khaisan tahu jika harga menu di restoran ini sungguh selangit.
"Iya. Apa tidak masalah jika kamu tunggu aku di sini saja, pengawal Kha?" tanya Cut Ha dengan harap.
"Bukan, tapi rasanya akan malu jika Andres menolakku. Aku tidak ingin kamu melihatku ditolak. Aku akan merasa sangat malu denganmu," ucap Cut Ha mengatakan alasan sejujurnya.
"Kamu tidak perlu malu denganku, Cut. Aku akan mengikuti kamu jarak satu atau dua meja. Bukan jauh-jauh. Jangan merasa malu denganku," Khaisan berkata sambil mengulurkan sebuah payung besar pada Cut Ha. Juga sebuah payung lagi untuk dipakainya sendiri. Meski ragu, Cut Ha menerima dan bergegas turun seperti Khaisan yang telah keluar lebih dulu.
Cut Ha dan Khaisan sama-sama mengenali adanya Andres sedang duduk di salah satu meja sendirian. Cut Ha bergegas mendekat dengan diikuti Khaisan. Namun, tiba-tiba Cut Ha berhenti dan berbalik pada Khaisan.
"Kamu tunggu lah di sini, pangawal Kha. Aku benar-benar tidak ingin terlalu diawasi. Kumohon mengertilah," ucap Cut Ha sangat memohon pada Khaisan.
"Baiklah, kutunggu di sini. Tapi aku tidak akan berdiri. Aku akan duduk," ucap Khaisan menerangkan.
"Duduklah sesukamu. Bahkan jika kamu tidur dalam mobil pun, aku tidak akan melarangnya, pengawal Kha!" Cut Ha berseru lirih pada Khaisan dengan tersenyum. Ada raut lega di wajahnya.
Payung basah tadi telah diterima oleh salah satu pegawai rumah makan untuk disimpankan di sebuah locker khusus. Yang akan dikembalikan jika pelanggan sudah selesai makan dan keluar dengan menyerahkan nomor stiker penitipan darinya.
Memang free tanpa adanya tarif. Tapi saat pengambilan, penitip akan memberi banyak uang tip atau membelikan botol minuman mahal yang juga dijual berjajar di samping locker penitipan. Yang mana bukan menerima barang titipan payung saja, tetapi barang-barang pembeban pelanggan lainnya.
Sepertinya, Andres adalah pria yang lihai menyikapi wanita. Setelah bersalam sapa dan berbasa basi sejenak, Cut Ha nampak gembira dengan mulai makan malam bersamanya. Sesekali sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Andres lontar untuknya dengan raut penuh senyum.
Khaisan terus mencuri pandang hingga Cut Ha meletek sendok garpu di piringnya. Mengambil beberapa menu penyegar mulut pun sudah juga dilakukan. Wanita itu sedang memandang Andres dengan ekspresi wajah yang tegang.
Khaisan yang memandang pun tak terasa ikut menahan nafas saat Cut Ha mulai berbicara. Yakin jika wanita cantik itu sedang berbicara hal serius. Mengatakan sejujurnya pada lelaki yang berniat akan memperistri dirinya. Cut Ha tidak ingin lelaki itu akan kecewa dan menyakiti hati justru setelah menikahi.
Pengawal tampan kembali menoleh ke meja pertemuan dengan nafas yang serasa jadi sendat. Cut Ha nampak tersenyum dengan Andres yang juga tengah tersenyum. Sepertinya, Andres tidak merasa masalah dengan kejujuran Cut Ha akan keadaan dirinya yang tidak lagi bermahkota.
Khaisan menghembuskan nafas panjang. Yang ternyata tetap ada bongkah batu terasa tersangkut di dadanya. Setelah Cut Ha mengatakan segalanya dan kini nampak kembali kembira dengan senyum cerah di wajah mereka, pandangan Khaisan berubah kurang nyaman tiba-tiba.
Namun, berusaha ikut gembira dengan memandang senyum Cut Ha yang indah adalah peluntur bongkah batu di dadanya. Berusaha tetap lurus dengan tugas dan posisi bahwa dirinya hanyalah sekedar seorang pengawal.
πΈπΈπππΈπΈ