The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
72. Dipilih dan Memilih



Kembali didatanginya bagian dapur malam ini. Menghabiskan satu butir kentang jumbo, satu butir telur rebus, satu irus acar nanas plus wortel dan satu iris steak empuk yang tebal. Dinikmatinya suguhan koki home stay itu di samping ruang dapur.


Ruang makan yang serupa rumah makan kecil dan bersebelahan dengan dapur itu adalah pusat pelayanan konsumsi di penginapan. Setiap pengunjung akan mendapat selembar peta lokasi beserta saji menu setiap datang check in di home stay.


Pengunjung boleh meminta pelayanan kamar, bisa juga datang sendiri ke dapur. Setiap brosur itu tertulis nomor telepon dapur di penginapan.


Segelas moka panas yang telah hangat, diteguk Khaisan dengan pelan lalu diletak. Diteguk lagi dan lalu diletak, berulang demikian hingga habis isi moka dalam gelas. Wajah tampan itu menikmati legit moka dengan tatapan jauh menerawang. Seperti sedang membimbangkan sesuatu di dalam benaknya.


Khaisan berdiri meninggalkan kursi dan membayarkan sendiri tagihannya dengan selembar kartu pada sebuah mesin mini cash register tanpa berbicara sepatah pun. Lelaki muda di mesin kasir hanya memandangnya dangan tatap segan dan canggung. Khaisan pun berlalu dengan meninggalkan selembar uang tip yang lumayan untuk pekerja kasir yang sedang hoki di meja kerjanya.


"Terimakasih, Sir!" seru petugas kasir pada Khaisan yang dibalas acungan jempol saja dari pemilik penginapan.


Theo sudah memenuhi permintaan Khaisan agar membuat briefing pada seluruh pegawai di penginapan. Agar bersikap biasa saja, seolah tidak mengenali Khaisan sebagai sesiapapun pada kedatangannya di penginapan kembali kali ini. Khaisan hanya ingin menghindari berbagai tegur sapa dari pekerjanya secara berlebihan.


"Boss!" seru Theo yang sudah menunggu dan menyongsongnya di pintu dapur.


"Sudah dapat?" tanya Khaisan.


"Ini. Sandinya delapan angka, tanggal lahirku," ucap Theo sambil mengulurkan satu kartu warna putih berhologram. Khaisan segera mengambilnya dari tangan Theo.


"Thanks Theo, aku masuk," ucap Khaisan menepuk pundak Theo sekali.


"Sama-sama, boss. Lancarlah urusanmu," ucap Theo pada Khaisan yang mengangguk untuknya.


Penguasa penginapan itu kemudian berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya. Melalui pintu resmi di balkon depan, bukan pintu terselubung dalam aula. Sebab itu sudah dipersulit sekarang. Aula sudah dalam kendali panitia prnyewanya malam ini. Sedang Khaisan belum ingin mengikuti acara itu buru-buru.


Aula yang sudah disewa eksklusife dengan tarif selangit, tidak sembarang orang akan boleh mengikut masuk di sana. Hanya yang terdaftar sebagai member dan pemegang kartu member yang boleh masuk ke dalamnya.


Telah dipastikan, hanya orang berlatar belakang baik dan tidak pernah berurusan dengan hukum yang dibolehkan masuk ke dalamnya. Yang Khaisan sudah memegang kartu member itu atas nama Theo, sang asisten sudah mengurus untuk dirinya.


Setelah membersihkan diri, shalat isya dan tidur sejenak, Khaisan yang sudah tidak perlu lagi menggunakan obat tidur, kini terbangun dan mencuci muka di wastafel. Berjalan keluar dengan wajah basah menuju pintu aula.


"Selamat malam," seorang lelaki berbadan besar yang berjaga di pintu aula menyambut Khaisan.


"Keluarkan kartu member Anda, Sir," ucap lelaki penjaga pintu dengan tegas.


Khaisan segera mencabut kartu warna putih dari dalam dompet. Penjaga itu menerima dan disimak dengan cepat, lalu dipulangkannya lagi pada Khaisan.


"Member baru? Validasikan member Anda padanya," ucap penjaga pada Khaisan. Tangannya menunjuk seorang lelaki yang berdiri siaga di ujung. Khaisan pun berjalan mendekati orang itu sambil melirik di tengah aula.


Sudah banyak orang yang berjalan hilir mudik dengan wanita dan laki-laki yang sama banyaknya di sana.


"Selamat malam. Anda ingin melakukan register sendiri atau saya bantu?" tanya lelaki di ujung yang kini sudah berhadapan dengan Khaisan.


"Akun kulakukan sendiri," sahut Khaisan sambil mendekati sebuah mesin monitor dan memasukkan kartu membernya di sana.


Segera muncul permintaan penulisan nama beserta nomor sandi di layar. Khaisan segera menuliskan nama lengkap Theo beserta tanggal lahir sabg asisten dengan teliti. Ditunggunya proses itu sesaat.


Kartu itu muncul kembali keluar setelah melaporkan kevalidan dan kesuksesan register di layar. Serta memberikan nomor register tiga angka pada Khaisan.


"Anda sebagai pemilih, atau dipilih malam ini?" tanya lelaki itu mendekati Khaisan.


"Keduanya?" tanya Khaisan memastikan.


"Anda perlu menambahkan pembayaran lagi jika memilih," kata lelaki itu kembali. Lalu menyodorkan mesin cash pada Khaisan.


"Anda akan membayar lagi sesuai harga yang diminta oleh partner yang Anda pilih. Jika anda tidak memilih malam ini, harga daftar pilih Anda masih tertanam setengahnya. Anda bisa menambahkan lagi jika ingin menggunakannya di malam pertemuan berikutnya," terang lelaki itu.


"Jika ada seseorang yang memilihku?" tanya Khaisan ingin tahu.


"Mintalah harga yang Anda inginkan pada pemilihmu," sahut lelaki itu menjelaskan dengan sabar.


"Aku mengerti," sahut Khaisan kemudian.


"Gunakan ini jika merasa memerlukannya. Anda bisa duduk dengan mencari meja sesuai nomor register," jelas lelaki itu sambil mengulir sebuah topeng mata seperti topeng zorro pada Khaisan.


"Akan ada orang-orang kami yang akan menjelaskan lagi di sana. Silahkan," ucap si lelaki sambil membentang sebelah tangan pada Khaisan.


Topeng yang sudah dipegang, segera dipakainya. Khaisan menyadari kejelian pengelola acara ini yang cukup privasi. Telah memikirkan hal yang kemungkinan penting bagi membernya. Hal yang sangat diperlukan, tetapi Khaisan lupa meminta Theo menyiapkan untuknya.


Kini Khaisan terlihat sebagai lelaki gagah atletis yang bertopeng. Menampakkan rahang, dagu, bibir dan hidung yang sangat menarik dan menggiurkan. Semenarik kedua alis tebal di dahi serta rambut pendek lebatnya yang menly. Khaisan telah duduk tenang di meja bernomor register miliknya dengan tenang mengamati.


Seorang lelaki telah standby berdiri di mejanya. Sedikit membungkuk pada Khaisan.


"Selamat malam, Anda duduk di meja special. Jika Anda melihat seorang yang menarik, Anda boleh mendekatinya. Anda pun bisa dihampiri oleh seseorang yang merasa tertarik pada Anda. Sebab Anda sudah terdaftar sebagai pemilih sekaligus dipilih. Selamat bergembira dan menikmati malam, Tuan," ucap lelaki itu. Kini telah tegak lurus dan tetap berdiri di tempatnya di belakang Khaisan.


"Apa aku bisa berkeliling?" tanya Khaisan pada lelaki itu.


"Silahkan, saya akan menemani Anda. Jika tidak keberatan," ucap lelaki itu dengan sopan.


"Ikutlah," sahut Khaisan. Merasa tidak terlalu paham dengan segala aturan dari permainan mewah terselubung ini.


Khaisan di ikuti lelaki dari bagian pengelola mulai berjalan untuk berkeliling di aula.


Hampir seluruh pengunjung saling menoleh, memandang dan menilai satu sama lain. Sebagai pemilih, berharap mendapat seseorang yang dipandang bagus dan diinginkan.


Sedang di posisi dipilih, berharap dihampiri seseorang yang berminat meminang untuk membawa menikmati malam bersama sekaligus mendapat bayaran yang diinginkan dan disepakati.


"Apa aku boleh menolak jika aku tidak menyukai seseorang yang memilihku?" tanya Khaisan pada pendampingnya. Baru disadari, setiap pemilih akan mendapat pelayanan satu lelaki pendamping.


"Tentu saja, itu hak Anda," sahut si pendamping.


"Lalu apa fungsimu?" tanya Khaisan ingin tahu.


"Segala fungsi. Saya akan ada hingga pagi di sekitarmu, Tuan." Lelaki itu menerangkan dengan sopan.


"Apa setiap pemilih dan yang dipilih akan berakhir di kamar?" tanya Khaisan.


"Tidak selalu, tetapi hampir semua. Terserah kesepakatan masing-masing," jelas si pendamping.


"Apakah pemilih selalu yang berkeliling?" tanya Khaisan. Melihat para pria dan wanita yang tidak duduk itu juga disertai penjaga sepertinya.


"Benar, tuan. Pengunjung pilihan tidak dibiarkan berjalan-jalan seperti pengunjung pemilih. Mereka hanya dibolehkan duduk." Penjaga berkata membenarkan.


"Jadi pengunjung yang dipilih berperan sebaga pelacurnya di sini?" tanya Khaisan dengan lugas.


"Benar sekali, seperti itulah sebutan mudahnya, tuan. Tetapi mereka juga bisa menjadi pemilih, seperti anda misalnya. Anda terdaftar sebagai pemilih sekaligus pilihan," sahut lelaki penjaga menjelaskan dengan terang.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ