The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
32. Di Mana Mereka



Mariah sangat terkejut saat pintu rumah dibuka kasar dari luar. Segera pergi ke depan untuk memastikan siapa yang berbuat. Ternyata adalah Khaisan yang nampak tergesa masuk dan berjalan menghampirinya.


"Mariah, apa nonamu tidur?!" tanya Khaisan yang matanya sempat menelusur ruangan. Tidak ada Cut Ha di manapun.


"Maaf, pengawal Khaisan. Pergi sudah nona Cut Ha. Bersama Felix pergi dia kata!" ucap Mariah terburu-buru. Suaranya agak terengah sebab waswas.


"Cut Ha pergi dengan Felix!?" tanya Khaisan dengan suara yang keras pada Mariah.


Gadis mungil eksotis itu hingga berjingkat sebab terkejut. Khaisan yang selama itu nampak tenang dan tidak pernah berkata kasar, kini berkata seperti membentak.


Apa salahnya, apa Khaisan murka sebab membiarkan Cut Ha pergi sendiri? Mariah merasa tidak bersalah sebab dirinya pun serba salah dan sulit. Selain Cut Ha adalah tuan baginya, tapi Cut Ha berhak bersikap apapun sebab sudah dewasa dan mandiri.


"Nona Cut Ha minta anda pergi melacak ada di mana dia, pengawal Khaisan," ucap Mariah memberanikan diri bicara. Ingat akan pesan sang nona agar bodyguardnya menyusul perginya.


"Apa Cut Ha bilang pergi ke mana??" tanya Khaisan dengan tajam.


"Tidak ada bilang, pengawal Khaisan," ucap Mariah sambil menggeleng.


Khaisan duduk sejenak di sandaran sofa, merasa lalai akan tugasnya. Sedang kemarin sempat curiga akan gelagat yang janggal antara Cut Ha dan Felix. Namun tidak berfikir dalam sebab Felix adalah orang kepercayaan sekaligus sahabatnya.


Tapi jika Cut Ha tiba-tiba ada urusan dengan Felix, bahkan meminta melacak, maknanya Cut Ha merasa sedang dalam bahaya. Jadi, perihal Felix kah yang ingin dibicarakan Cut Ha padanya tadi? Ada urusan apa mereka? Rasanya sungguh menyesal mengabaikan Cut Ha saat tadi.


Khaisan masuk sejenak ke dalam kamar untuk menukar sarung menjadi celana panjang. Munukar baju koko menjadi kemeja panjang warna gelap favoritnya. Menyimpan peci ke dalam laci dengan rapi. Kemudian keluar kamar dengan cepat. Khaisan berjalan sambil terus memantau ponselnya.


Meski merasa aneh, tidak ada salahnya percaya. Khaisan meluncur menuju Home Stay Te Ka seperti yang ditunjuk oleh aplikasi pelacak ponsel dan nomor. Ponsel milik Cut Ha ada di sana.


Namun, tidak dengan ponsel Felix. Ponsel dan nomor milik lelaki itu menunjuk berada di kota Batam Centre. Dari Home Stay Te Ka di Muka Kuning menuju kota Batam Centre memerlukan waktu lima belas menit. Sedang Khaisan dari Nagoya menuju Muka kuning menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit.


Setelah melaju sangat kencang dengan mobil milik Cut Ha, Khaisan sampai di Home Stay Te Ka yang malam ini agak lengang. Aplikasi penunjuk mengatakan jika ponsel Cut Ha sedang berada di kamar pribadi sang manager.


Bukan masalah bagi Khaisan jika ingin mendatangi tempat tinggal Felix. Khaisan bebas mengaksesnya kapan pun. Kamar pribadi yang ditinggali Felix adalah milik Home Stay Te Ka dan sangat luas, menyamai luas rumah atau pun appartment.


Posisi Felix yang dipantau terakhir tidak menentu tempatnya. Bermakna saat Khaisan memantau, mereka sedang berada di jalanan. Akan tetapi saat ini sedang terdeteksi berhenti posisi di salah satu hotel di Batam Centre. Namun, Khaisan tidak bisa percaya lagi begitu saja.


Sang pengawal sedang berpikir keras. Ke mana Felix membawa Cut Ha sebenarnya. Cara apa yang tepat dan cepat untuk segera menemukan keberadaan mereka.


Khaisan benar-benar merasa heran dengan perasaan yang gelisah. Ada apa sebenarnya di antara mereka. Merasa begitu kecewa dengan sang manager sekaligus sahabatnya. Felix berani sekali membawa orang yang sedang dijaga Khaisan tanpa izin apapun padanya.


πŸ•Έ


Hotel megah berbintang di pusat kota Batam Centre adalah pilihan terakhir Felix untuk menyimpan Cut Ha sementara. Yang sebelumnya sempat menyinggahi dua hotel namun Felix merasa tidak nyaman.


Meski merasa sedikit lega dengan kelakuan Felix yang tidak kunjung puas dengan tempat yang didatangi, tetapi Cut Ha merasa sangat takut. Terlebih, ponsel yang diharap agar Khaisan bisa tahu di mana dirinya berada, telah direbut Felix dan dicampakkan begitu saja di sebuah kamar luas di Home Stay Te Ka Muka Kuning. Yang Felix menyebut jika kamar itu adalah miliknya di sana.


Lebih sedih lagi, ponsel Felix yang diharap Cut Ha agar Khaisan pun bisa melacaknya, tertinggal di lobi hotel yang sempat disinggahi. Felix tidak ingin berpatah balik mengambil ponselnya. Namun, ada harapan jika Felix tidak mampu mengancamnya lagi tanpa ponsel.


Jadilah kini tidak ada alat komunikasi apapun bagi mereka. Kian mengherankan, Felix justru merasa puas tanpa adanya ponsel satupun di antara Cut Ha dan dirinya. Tapi Felix terus saja menunjukkan taring tajamnya.


"Lepaskan, Felix!!" pekik Cut Ha saat Felix menyambar tangannya untuk kesekian dan tak terhitung sudah berapa banyak kali.


"Tidak akan kucari tempat lain, Ke. Di sinilah tempat kita. Jangan membuatku marah atau kehilangan selera padamu. Waktumu sama denganku, tidak banyak!" ucap Felix menghardik. Merasa kesal dengan respon Cut Ha yang terus menolaknya.


"Aku tidak mau, Felix!" seru Cut Ha dengan suara yang hampir menangis.


"Kamu ingkar? Tidak mau melayaniku? Ingin aibmu kusebar sekarang? Kau pikir aku tidak punya ponsel lagi? Lihatlah, Ke!" ucap Felix sinis. Lelaki itu mengeluarkan benda sebesar korek api. Cut Ha tahu bahwa itu adalah ponsel canggih mini termutakhir di Batam. Cut Ha merasa terkejut dan kecewa. Ah, jadi lunglai rasanya.


Rasanya sedih sekali. Harga dirinya sebagai wanita bermartabat seperti sedang di ujung tanduk. Merasa kemungkinan untuk lepas dari jeratan Felix sangat kecil. Meskipun Cut Ha tetap berencana untuk bisa meringkus Felix dengan alat yang masih aman dibawanya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ