
Setelah berjalan di lorong panjang tersembunyi di Home Stay Te Ka, Cut Ha berhenti mengikuti Errushqi di depan sebuah pintu kamar ujung lorong. Sangat berdebar saat Errushqi mulai mengetuk pintu kayu jati tua itu.
Tok! Tok! Tok!
Errushqi yakin jika di sinilah Putra bermalam. Lorong ini buntu dengan satu kamar inilah ujungnya. Yakin jika di balik kamar ini, adalah teras balkon yang menghadap ke luar.
Tok! Tok! Tok!
Errushqi mengulang ketukan dengan pelan, tidak ingin membuat kebisingan di malam sunyi dan larut. Sebab dirinya serasa sedang menyelundupkan barang ilegal yang bahaya.
Ceklerk!
Cut Ha sangat tegang dan menahan nafas. Pintu mulai bergerak ke dalam dan lebar terbuka. Menyembul lelaki yang ternyata memang benar sebagaimana Errushqi dan Velingga janjikan. Khaisan sedang berdiri di pintu memandangnya dengan sangat terkejut.
"Cut,," sebut Khaisan lirih. Merasa tidak percaya dengan pandang matanya.
"Pengawal Kha,, kenapa kamu menghindariku?!" sambut Cut Ha tertahan.
"Mas, apa maksudmu??" tanya Khaisan pada Errushqi, abai pada respon Cut Ha barusan. Pasti hot daddy tampan itulah yang sengaja membawa Cut Ha mendatangi kamarnya.
"Maaf, mas Putra, tidak baik berpisah dengan pergi menghindari. Keke sangat ingin bertemu denganmu. Berilah kesempatan untuknya berbicara," sambut Errushqi. Lelaki itu mundur dan mendekati Cut Ha sedikit.
"Cut, kutunggu di pintu ujung bersama Velingga. Kuharap kamu berbincang tidak terlalu lama," ucap Errushqi dan akan berbalik pergi.
"Mas Rush! Kamu dan Velingga pergilah ke kamar kalian. Bodyguard Khaisan yang akan mengantarku kembali ke kamar. Jangan tunggui aku," ucap Cut Ha dengan tatapan yang sayu.
"Tetapi, Cut,,," ucap Errushqi mengambang. Cut Ha telah berpaling dan tiba-tiba berjalan cepat melewati Khaisan dan menerobos di pintu kamar. Wanita berkerudung handuk itu telah karam di sana dan tidak nampak lagi.
Khaisan terkejut, begitu juga Errushqi, mereka saling pandang sejenak.
"Silakan Mas Putra berbicara di dalam. Harap tidak terlalu lama. Jika sudah selesai, tolong bujuk Cut Ha untuk kembali ke kamarnya. Bagaimana pun, saya dan istri merasa berbuat agak salah. Saya akan menunggu Cut Ha di ujung, mas," ucap Errushqi dengan tatap mengharap makhlum.
"Anda tidak perlu merasa bersalah, mas. Saat ini saya masih berstatus bodyguard Cut Ha. Benar yang Cut Ha minta, saya yang akan nengantarnya kembali ke kamar, saya akan menjaganya. Mungkin dia merasa aman sementara di sini. Anda jangan khawatir, silahkan Mas Rushqi membawa istri istirahat di kamar. Terimakasih sudah menunjukkan tempatku pada Cut Hanah," ujar Khaisan yang mungkin juga setengah menyindir pada Errushqi.
Khaisan melihat di ujung lorong berlawanan, wanita berkerudung sedang berdiri tampak waswas. Sangat jelas jika itu adalah Velingga, mantan kekasihnya yang sudah dinikahi Errushqi.
"Baiklah. Saya akan membawa istriku kembali ke kamar kami. Kuharap jangan berbuat melebihi batas, mas Putra," ucap Errushqi dengan pandangan yang sedikit canggung. "Jangan khawatir, saya tahu batasannya, mas." Khaisan mengangguk, sangat mengerti apa maksud pesan Errushqi.
"Jika begitu, saya permisi. Assalamu'alaikum," pamit Errushqi undur diri.
"Wa'alaikumsalam. Terimakasih, mas," sahut Khaisan dengan cepat.
Errushqi telah berbalik dan berjalan tergesa menyusuri lorong. Tengah ada Velingga sedang berdiri menyambut di ujung. Khaisan melihat samar juka Velingga nampak gelisah menunggu.
Ceklerk!
Khaisan berjalan menghampiri dengan pandangan tak putus pada Cut Ha. Berdiri tegak di depannya dan mereka berdua saling memandang.
"Cut," sebut Khaisan lirih.
"Pengawal Kha, kenapa kamu menghindariku?" tanya Cut Ha dengan getar suara sedihnya.
"Demi kebaikan kamu, Cut," jawab Khaisan dengan ekspresi yang berat.
"Tapi aku semakin tidak baik-baik saja. Kamu pikir isi kepalamu dan isi kepalaku bisa disamakan? Kamu itu kubayar, bukan ayahku yang membayarmu! Kenapa kamu menghilang dariku?! Jika aku ada apa-apa bagaimana? Kamu tega sekali padaku, Khaisan??!" gerutu Cut Ha dengan kembali menangis.
"Maafkan aku, Cut. Aku bukan pengawalmu yang baik," sahut Khaisan dengan rasa serba selah.
"Kamu memang bukan pengawal yang baik. Tapi kamu adalah lelaki terbaik bagiku, Khaisan!" Cut Ha berbicara kesal yang berakhir dengan menubrukkan dirinya pada Khaisan. Tidak mampu lagi menahan inginnya. Memeluk erat sang pengawal serapat mungkin yang dimampu. Rasanya ingin tenggelam di dada Khaisan yang dalam.
"Peluklah aku, kenapa kamu tidak memelukku? Tidak ada ayahku di kamarmu, kan??" tanya Cut Ha mengiba. Sebab Khaisan tidak membalas pelukan menggebunya. Namun, tetap saja hampa dan tidak bergerak menyambut. Tak mendapat sambut peluk dari Khaisan, Cut Ha merasa lebih kecewa dan sakit.
"Apa saat ini aku berubah lebih menjijikkan di matamu? Aku wanita murah yang nekat menerobos dalam kamar mu? Jahat sekali kamu ini, pengawal Kha!" rutuk Cut Ha sambil menangis. Bercampur rasa kesal pada Khaisan. Namun juga tidak ingin segera meninggalkan. Mesih dipeluknya Khaisan.
"Berbicaralah, Cut. Setelah selesai bicara, kuantar kamu kembali ke kamarmu," ucap Khaisan, tidak peduli dengan rutukan Cut Ha padanya.
"Apa kamu ingin memberiku kenangan sangat buruk tentangmu? Kamu ingin aku berubah membencimu lagi seperti dulu?" tanya Cut Ha dengan sedih.
"Bukan seperti itu maksudku, Cut. Jujur, aku hanya ingin mulai melupakanmu," sahut Khaisan tidak ingin menipu. Mendengar, jawaban Khaisan, Cut Ha mencengkeram punggung Khaisan kuat-kuat. Menyakitkan sekali jawabannya.
"Kamu memang jahat. Kamu akan berhasil membuatku membencimu. Sekarang, aku lebih paham lagi, kenapa Velingga sangat sakit hati dan tidak sudi menerimamu kembali. Kamu begitu menyakitkan. Aku akan sangat membencimu! Kamu pikir, hanya kamu saja pria di dunia?! Kamu akan merasa penyesalan yang kedua! Kelak, kamu akan memohon ampunku di kakiku!" Cut Ha menyumpahi sambil menangis.
Namun, Cut Ha justru memeluk Khaisan semakin erat sangat lama. Meski mulutnya baru saja menyumpah tajam dan mengancam, tetapi tampak tidak ingin melepas dan juga berpisah.
Khaisan masih dengan tangan lurusnya yang semakin lama tampak bimbang.
Mendadak, Cut Ha merenggang dan menarik tangan dari memeluk punggung Khaisan. Kini telah menjauh dan berdiri memandang Khaisan. Mata sembabnya membuka lebar dengan kilat marah dan kecewa.
"Kamu telah menyakitiku. Aku akan mengingatmu sebagai lelaki terburuk dan memiliki kepala sangat bebal." Cut Ha mengumpati Khaisan dengan kaki bergerak mundur beberapa langkah.
"Pergilah jauh-jauh dari hidupku, Khaisan! Jangan sekali-kali muncul di depanku!"
Cut Ha berkata dengan tersengal sendiri. Merasa sangat sakit dan kecewa dengan sambutan Khaisan yang abai padanya. Tidak setimpal dengan resah jiwa yang ditanggung sendirian sebelumnya. Rasanya sangat marah pada Khaisan.
"Cut," panggil Khaisan lirih terdengar.
Tangan yang sudah memegang kusen pintu terdiam. Urung memutar dan kini berdiri diam menunggu. Meski sakit dan marah, guyuran es dari Khaisan masih saja diharapnya. Mengakui jika pengaruh Khaisan memang sudah mengakar kuat padanya.
πΈπΈπππΈπΈ