The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
29. Khilaf



Lezatnya bau masakan yang menghembus ke dalam kamar, semakin ingin membuatnya keluar dan menjumpai sang bodyguard. Cut Ha yakin jika Khaisan sedang membuat nasi goreng lezat yang beberapa kali pernah dilakukan lelaki itu saat malam sebelumnya.


Cut Ha yakin jika Khaisan sedang mengambil free time rutin di dua jam malamnya. Yang memang selalu menggoda seperti itu aroma nasi gorengnya. Khaisan sangat lihai membuatnya.


Benar sekali, Khaisan tengah menuang nasi putih dari piring ke dalam panci penggorengan di atas kompor. Lelaki itu sigap menoleh saat Cut Ha menyentuh lantai dapur dengan telapak kakinya. Instink sebagai bodyguard, memang bukan isapan jempol belaka di kepalanya.


"Cut Ha, kenapa kamu bangun?!" tanya Khaisan dengan serunya yang lirih. Nampak tertegun sejenak memandang Cut Ha. Lalu memalingkan cepat kepalanya ke panci.


"Bau nasi gorengmu sangat enak. Boleh aku minta?" tanya Cut Ha dengan mendekati Khaisan di depan kompor.


"Duduk saja di meja makan, Cut," ucap Khaisan mengarahkan.


"Aku ingin lihat caramu bikin." Cut Ha bersikeras berdiri di samping Khaisan.


Bukan tanpa maksud, rasanya kurang fokus dengan adanya Cut Ha yang berbaju tidur sebatas lutut. Namun, tanpa lengan dengan potongan leher yang rendah di dadanya. Cut Ha yang sebelumnya selalu berbaju tidur panjang atas bawah, kali ini sangatlah meresahkan. Wanita itu seperti dewi malam yang sedang menebar hasrat padanya.


"Jika kamu memang ingin melihatku membuatnya, pakailah jaketmu. Bajumu sangat tidak pantas, Cut." Khaisan berkata tegas tanpa melihat lagi ke samping. Hanya pada panci cekung berisi nasi itulah pandangan matanya berlabuh.


Cut Ha sedikit menjauh, bibirnya rapat dengan senyuman yang masam. Jika dengan lelaki lain ucapan Khaisan cukup menyakitkan, tapi tidak dengannya. Cut Ha merasa hanya sedang mendapat teguran dari seorang lelaki tua seperti hal sang ayah.


Yang padahal paut usianya dengan sang pengawal hanyalah tiga atau empat tahun saja. Namun, berdekatan dengan Khaisan serta mendapat hardikan seperti itu, membuat hatinya bergemuruh.


"Kenapa kamu tidak segera pergi, Cut. Penampilanmu meresahkan. Apa kamu ingin mendapat pelecahan dari pengawalmu sendiri?" tanya Khaisan tajam tiba-tiba. Cut Ha yang sekian detik lalu nampak tenang dan cerah, mendadak tegang dan canggung. Tidak menyangka jika Khaisan akan berani berbicara sekasar itu padanya. Kelebat bayang Felix muncul di benaknya.


"Kamu adalah bodyguardku, tidak mungkin berbuat nista padaku. Kamu pernah bilang, tidak akan tergoda meski orang yang kamu jaga tidak dengan baju sekalipun. Tugasmu hanya mengawalku. Apa kamu lupa ucapanmu waktu itu, Khaisan,,?" sahut Cut Ha. Dirinya sengaja memancing respon sang pengawal dengan nada abainya.


Khaisan memang terkejut dengan ucapan Cut Ha yang seperti mengejek dan menantang dirinya.


"Kenapa tidak, Cut?? Kamu meremehkan aku? Kamu pikir aku hanya pengawal yang tidak punya keinginan? Kamu lupa apa yang kulakukan pada pelayan bar dulu? Kamu tidak paham, kamulah yang kuinginkan saat itu. Apa kamu tidak takut jika tiba-tiba inginku itu datang lagi saat ini, Cut??" gertak Khaisan dengan serius. Serasa tidak sadar jika sudah berbicara tanpa batas dan seperti tanpa kontrol pada Cut Ha.


Merasa jika Cut Ha mengabaikan arahannya. Bagaimana pun dirinya memanglah lelaki normal dengan iman yang bisa menipis tiba-tiba. Serta lelaki dengan taqwa yang bisa saja memudar kapan pun. Hawa dingin malam ini, membuatnya mendadak eror sebab sikap Cut Ha sendiri yang abai.


"Aku tidak takut," jawab Cut Ha meremehkan.


"Benarkah? Kamu ingin mencoba memancingku, Cut?" tanya Khaisan dengan suara tak biasanya. Suara berat empuknya telah terdengar dalam dan berbisik.


"Aku tidak takut," ucap Cut Ha mengulangi. Sebenarnya sudah merasa gelisah dan was-was. Ragu jika sang pengawal tidaklah main-main.


Khaisan dengan cepat mematikan nyala api di kompor. Mencuci tangan di wastafel sebelahnya. Lalu berbalik lagi mendekati Cut Ha dan menatap dalam matanya.


Perasaan Cut Ha yang semula waswas dan resah, berubah debar hangat tiba-tiba. Tatapan dalam Khaisan membuat detak jantung di dadanya mengencang.


"Seperti ini kamu masih tidak takut?" tanya Khaisan dengan merapati Cut Ha perlahan.


"Aku tidak takut," sahut Cut Ha dengan serak.


"Seperti ini?" Khaisan bertanya sambil mengulur tangan memegang kedua bahu Cut Ha yang terbuka.


"Seperti ini?" tanya Khaisan lagi dengan tangan bergeser ke leher dan pinggang Cut Ha dengan gerakan mengelus sekilas.


"Ak,,ku,,, akku tidak,," ucap Cut Ha kembali tersendat dan terbata. Ucapannya menggantung saat Khaisan mendekatkan wajah dengan tidak sabar ke wajahnya.


"Kamu masih tidak takut?" Khaisan bertanya dengan suara rendah dan lirih. Hembus nafasnya sedang menyapu hangat wajah Cut Ha.


"Ak,, akku akan,, pergi ke kamarku. Akan kupakai jeket,, di badanku," ucap Cut Ha dengan cepat namun terasa sangat susah.


Tangan Khaisan yang masih melekat di pinggang, leher dan wajah sangat dekat, membuat Cut Ha seperti berat bernafas. Bukan tidak tahu itu kenapa dan meski belum pernah dengan lelaki, tapi Cut Ha sangat paham akan reaksi dirinya.


Waswas dirinya akan hanyut andai Khaisan sedang benar-benar ingin berbuat sesat padanya.


Bukan sangat lega, tapi perasannya justru hampa saat Khaisan menjauh dengan melepas tangan darinya.


"Kamu takut juga akhirnya? Jangan ulang lagi memancingku. Pergilah ke kamar dan pakailah jaketmu, Cut," ucap Khaisan pelan dan sudah berdiri menjauh. Kembali menyalakan kompor dan memegang pengaduk nasi di panci.


Aura gelap berkabut itu perlahan pudar dari wajah tampannya. Tetapi Cut Ha justru merasa agak kecewa. Ada rasa suka dan teruja saat Khaisan menyentuhnya. Merasa sebenarnya akan rela.


Tok ! Tok !


Ketukan dua kali membuatnya cepat bangun. Cut Ha duduk di ranjang dengan rasa berdebar. Sayup terdengar panggilan Khaisan untuknya. Meminta keluar demi makan nasi goreng buatannya bersama. Khaisan juga tidak lupa meminta agar Cut Ha memakai jaket rumah biasanya.


"Iya. Tunggu saja di meja, pengawal Kha!" Cut Ha berseru sambil meloncat turun dari ranjang. Menyambar jaket dan mengenakan celana tidur panjang. Rasa enggan untuk keluar kamar lagi beberapa menit lalu, berubah semangat yang berderu.


Khaisan merasa lega saat Cut Ha kembali ke dapur dan duduk di meja makan menyusulnya. Telah memakai jaket berbahan rajut tipis dengan tambahan celana tidur panjang. Khaisan merasa suka, Cut Ha tidak menyimpan amarah dan justru mengikuti apa yang tadi di mintanya.


"Makanlah, Cut. Lupakan yang kulakukan padamu barusan. Aku khilaf," ucap Khaisan dengan meletak sendok di piring milik Cut Ha.


" Itu salahku sendiri. Aku lupa jika dua jam ini adalah free time malammu. Kamu sedang tidak mengawalku," timpal Cut Ha.


Disendokkannya nasi goreng ke dalam mulutnya perlahan. Rasanya sangat enak.


"Kamu berfikir seperti itu?" tanya Khaisan seksama memandang Cut Ha.


"Lalu alasan apa lagi? Kamu tidak ingin aku jadi benar-benar takut padamu sepanjang waktu, kan?" tanya Cut Ha menyambar.


"Iya, Cut Ha. Apa yang kamu katakan itu memang benar. Maafkan aku," sahut Khaisan sambil mengangguk.


Cut Ha tidak lagi menanggapi. Khaisan pun telah menaruh perhatian pada nasi goreng lezat di piringnya. Tidak ada lagi perbincangan pribadi di antara kedua insan itu di meja. Hanya bunyi detik jam yang berdetak bersama denting sendok yang beradu dengan piring mereka saja yang bergema.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Vote, please...πŸ˜˜πŸ“