
Cut Ha sedang makan malam saat Khaisan keluar dari kamarnya. Sang bodyguard baru mendekam di dalam selama tiga puluh menit untuk istirahat saat maghrib.
Seperti biasa, berdiri diam di samping Cut Ha adalah posisi terfavorit dirinya. Cut Ha menoleh sebentar dengan lirik mata yang jengah. Merasa jika Khaisan terlalu bersikap formal dan terlalu kaku mengawalnya. Jauh beda saat lelaki itu mengambil free time dua jamnya. Khaisan bersikap sangat hangat bagai teman.
"Pengawal Kha, ini sudah satu bulan kita bekerja sama. Aku tidak pernah berbuat hal yang menyusahkan kerjamu dan kamu pun selalu siaga dengan baik di sampingku. Kenapa kamu masih bersikap formal padaku?" tanya Cut Ha dengan nada yang kesal.
"Ini sudah cara kerja dan tanggung jawab kami, Cut," sahut Khaisan menegaskan.
"Tapi tidak ada cctv. Aku sangat risih, aku tidak bebas. Ini kan di rumahku. Aku merasa jika kamu justru mengawasiku, bukan menjagaku dari penjahat. Penjahat itu datang dari luar, bukan datang dariku," ucap Cut Ha seperti mengomel.
"Kenapa kamu tidak menganggapku tidak ada saja? Kamu pernah bilang seperti itu." Khaisan berusaha bersikap formal tanpa sedikitpun tersenyum.
"Tapi tidak bisa semudah itu. Mungkin jika kamu tidak berbau, tidak berwujud dan tidak bersuara, aku bisa menganggapmu tak ada. Tapi kamu ini berwujud dengab bentuk yang nampak. Serta ada suara saat kamu bergerak, dann,,, kamu ini ada baunya," ucap Cut Ha lagi di kursinya. Cut Ha sambil menyentil-nyentil makanan dengan sendok di tangannya.
"Apa aku berbau masam? Kamu merasa sangat tidak suka, jika aku berjaga sangat dekat?" tanya Khaisan mulai mengalah.
"Eh, bukan,,, eh, iya," ucap Cut Ha. Berharap agar Khaisan mau bersikap santai mengawal. Yang sebenarnya bau Khaisan tidak masam, tapi aroma wangi yang khas.
"Mariah!" tiba-tiba Khaisan menyeru nama asistent rumah itu.
"Ada apa memanggil, pengawal Khaisan?!" sambut Mariah yabg datang mendekat.
"Buatkan kopi pahit untukku, letak di meja sofa, Mariah!" seru Khaisan memerintah pada Mariah.
Cut Ha melirik Khaisan yang berjalan santai menuju ruang televisi dan duduk menghenyak di sofa. Merasa lega dan itu seperti harapannya.
Pada awal kedatangan Khaisan, rasanya tidak masalah dan bisa dia abaikan. Tapi akhir-akhir ini, perasaannya susah untuk abai. Merasa jika Khaisan memperhatikan, membuat Cut Ha serasa kikuk dan sangat tidak nyaman. Bukan bermakna tidak suka..
Khaisan duduk menghenyak di sofa. Menyandar punggung dengan rapat. Berusaha nyaman sambil melonggarkan otot tegangnya.
Wajah tampannya terbit senyum yang berusaha disamarkan. Cut Ha sudah banyak kali meminta untuk tidak terlalu dekat menjaga. Khaisan sangat paham dan mengerti maksud wanita itu.
Namun, Khaisan selalu lupa, bisa juga mengabaikan. Cut Ha seperti magnit yang berlainan kutub dengannya. Khaisan selalu berdiri dekat begitu saja. Menjaga wanita itu sedekat biasanya, rasanya menyenangkan.
"Ini silahkan minum kopimu, pengawal Khaisan!" ucap Mariah dengan wajahnya yang ramah. Gadis itu selalu mengerling jenaka sambil tersenyum saat berbicara santai pada Khaisan.
"Terimakasih, Mariah," sambut Khaisan dengan mengangguk.
"Sama-sama anda, pengawal Khaisan!" Mariah sempat melempar senyum sekali lagi sebelum bergeser dan pergi. Gadis itu masih banyak cucian perkakas di belakang jam segini. Sisa perkakas kotor yang baru dipakai untuk persiapan menu makan malam.
Meski merasa tidak terbiasa, Khaisan menikmati kopinya dengan duduk seperti yang diarahkan Cut Ha selama ini. Dengan sesekali memandang Cut Ha yang tidak sekalipun meliriknya.
Khaisan hampir tersedak dengan kopi yang diseruput saat kaki Cut Ha yang bercelana tidur panjang itu tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Cut? Ada apa?" tanya Khaisan sambil berdiri cepat, menindas rasa kagetnya. Cut Ha sedikit mendongak memandang.
"Orang tuaku baru saja mengirim pesan agar aku pulang sebentar," ucap Cut Ha.
"Iya. Antar aku pergi. Dua puluh menit lagi aku keluar," kata Cut Ha sebelum meninggalkan Khaisan di ruang sofa.
Khaisan menggagalkan langkah, ingat jika Cut Ha pun tidak ingin ditunggui di pintu kamar. Cut Ha telah melempar kode lama waktunya berhias. Sebab saat malam, wajah cantik itu polos tanpa bedak dan lipstik. Wajib bagi wanita itu untuk tampil mempesona.
Khaisan menggunakan waktu kosong itu untuk makan malam. Juga menghabiskan bersih sisa kopi di meja. Serta pergi ke toilet seperlunya sebelum bersiap kembali menunggu Cut Ha keluar kamar.
Dua puluh menit lebih sedikit, wanita anggun itu membuka pintu dan pergi keluar. Menghampiri Khaisan yang berdiri di sebelah ruang televisi semula.
Cut Ha sangat cantik kali ini. Bibirnya merah menyala tidak seperti biasanya. Khaisan yang menyangka jika warna lipstik kesukaan Cut Ha adalah pink soft atau matte, kali ini merasa salah sangka. Wajah itu kian cerah mempesona dengan bibir berwarna merah terang.
"Sudah?" tanya Khaisan berusaha tenang meski rasanya agak susah.
"Ayolah," sahut Cut Ha sambil mengerlingkan matanya. Cut Ha seperti sengaja memamerkan riasan wajahnya pada Khaisan malam ini.
"Mariah, jaga rumah baik-baik!" pesan Khaisan pada Mariah yang sedang berdiri di alamari dapur. Ekspresi Mariah juga nampak takjub memandang Cut Ha yabg telah berjalan menuju pintu.
"Siap, pengawal Khaisan! Nona Cut Ha, hati-hati anda!" seru Mariah dari dapur. Tapi menyusul kemudian, pintu rumah harus segera ditutup dan dikunci dengan aman.
πΈ
Kota besar Nagoya pusat adalah tujuan Khaisan malam ini. Sang nona meminta agar diantar mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Khaisan pun dengan patuh menuruti, tidak juga bertanya apa tujuan Cut Ha tiba-tiba mengunjungi orang tua. Merasa enggan bertanya sebab itu bukan hak Khaisan untuk tahu.
"Apa kamu tidak ingin tahu, kenapa orang tuaku ingin aku pulang?" tanya Cut Ha tiba-tiba. Memacah hening bisu dalam mobilnya.
"Kenapa??" sambar Khaisan dengan cepat. Merasa lega jika Cut Ha mau mengatakan padanya sendiri.
"Mempertemukanku dengan pria yang ingin melihatku," sahut Cut Ha memandang Khaisan dengan lekat.
Khaisan berpaling lurus ke depan, memutus pandangan Cut Ha yang kembali membuatnya tidak tenang.
"Jadi itu alasanmu berdandan seperti ini?" tanya Khaisan tanpa menolehkan wajahnya.
"Aku berdandan seperti apa??" tanya Cut Ha cepat, nafasnya seperti susah dihembuskan. Sangat ingin tahu dengan konentar Khaisan akan dirinya malam ini.
"Kamu cantik sekali, Cut," ucap Khaisan. Kembali meluncurkan pujiannya pada Cut Ha.
"Jangan memujiku, ini bukan hari free timemu, pengawal Kha," ucap Cut Ha demi menutupi perasaan hati yang sebenarnya. Komentar baik Khaisan sama sekali tidak mengecewakan, bahkan memang diharapkan.
"Apa kamu ingin memberiku free time tanpa henti?" tanya Khaisan yang mungkin ingin menggoda wanita di sampingnya. Namun, Khaisan tidak memandang, hanya menatap lurus jalanan hitam di depannya.
"Aku tidak pernah melarangmu mengambil free time. Justru aku yang menganjurkan, tapi kamu sendiri yang keberatan," timpal Cut Ha akan sikap Khaisan yang disiplin.
Khaisan kian diam dengan pandangan menajam di aspal hitam jalan raya. Merasa jika Cut Ha bersikap cukup longgar padanya. Khaisan justru risau jika kebaikan Cut Ha akan menjadi bumerang untuk kelancaran kerjanya.
πΈπΈπππΈπΈ