The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
68. Berpisah



Meski gelap, Khaisan sangat tahu di mana posisi kamar Cut Ha. Segera dibuka dengan kunci kartu yang dipungutnya saat kartu itu jatuh di ranjang dari saku baju. Cut Ha tidak menyadari, sebab sedang hanyut dalam cumbuan Khaisan yang memabukkan malam tadi.


"Cut, bangun dan mandilah. Sudah subuh, nanti kamu terlewat." Khaisan kembali bicara lirih setelah meletak Cut Ha di ranjang kamarnya dengan cepat. Gelap tidak membuat Khaisan menjadi kesusahan.Cut Ha tidak bersuara dan tidak terasa bergerak. Mungkin juga terus tidur memejam.


"Aku sudah membawa kamu kembali ke kamarmu. Aku menggendong kamu ke sini. Bangunlah, aku akan kembali ke kamarku sekarang, Cut," Khaisan terus berbicara dalam gelap.


Tiba-tiba Cut Ha bergerak dan mungkin sudah bangun, berusaha memandang Khaisan. Cut Ha mungkin sedang menajam dan melebarkan tangkapan matanya. Namun, tetap tidak terlihat di mana wajah dan mata Khaisan.


"Aku sudah di kamarku? Kenapa gelap gulita?" tanya Cut Ha sambil mengangkat kepala dan memandang ke sekitar.


"Orangku mematikan aliran listrik. Agar tidak ada yang melihat kita saat kubawa kamu ke kamarmu ini, Cut," jelas Khaisan dqlam gelap.


"Kamu mengangkatku?" Cut Ha telah duduk dengan pandangan yang terus gelap pada Khaisan. Hanya dengan suara Cut Ha mengira di mana wajah Khaisan. Juga hanya ruang kosong saat berusaha menggapai Khaisan.


"Kamu tidak merasa kugendong?" tanya Khaisan dengan lembut dalam gelap.


"Aku terasa, tapi kupikir hanya mimpi," sahut Cut Ha dengan bingung. Keadaan sangat gelap.


"Subuh akan lewat, cepat mandi, Cut. Aku akan keluar sekarang." Khaisan mengejar waktu lima belas menit mati lampu.


"Aku sudah bangun sekarang. Tapi sangat gelap jika ke kamar mandi. Lebih baik jangan keluar, pengawal Kha." Cut Ha kembali menghiba. Mulai sadar pada perpisahannya dengan Khaisan yang akan menghampiri dan menjelang se bentar lagi.


"Lampu akan menyala kembali beberapa menit dari sekarang, Cut. Bisa jadi calon suami kamu sedang di luar kamarnya. Kamar kalian berseberangan. Lebih baik aku pergi sekarang." Khaisan kembali mengeraskan diri.


"Tidak, aku tidak mau ditinggal! Aku tidak ingin menikah selain denganmu!" seru Cut Ha dalam gelap.


"Cut, sadarlah. Kita sudah dewasa. Kamu juga sudah dewasa. Jalani saja, kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita serba bisa dan hebat. Selamat tinggal, Cut. Semoga kamu bahagia. Kamu harus ikhlas. Assalamu'alaikum, Cut,"


Khaisan mundur dengan cepat setelah sempat mencium rambut dan kepala Cut Ha sekilas. Juga sebelum Cut Ha sempat menyambar lagi dirinya.


"Pengawal Kha! Khaisan!!" panggil Cut Ha.


"Pengawal Kha?!" ulang Cut Ha dengan berseru lirih.


Ceklerk !!


" Pengawal Kha aaaa,,,," rintih Cut Ha saat sadar jika Khaisan sudah pergi dan keluar dari kamar. Merasa sangat sakit dan tidak ada semangat sedikit pun jiwa raga.


Tap,,


Kamar yang gelap gulita telah terang benderang. Menambah kesedihan hatinya yang terasa hampa dan kosong. Sesunyi dalam kamarnya.


Cut Ha sangat merasa tidak bersemangat. Keinginan menyusul Khaisan dan kembali bersama di kamar lorong meracuni hatinya.


Ceklerk..!


"Cut Ha,,,!" sapa lelaki di depan kamar Cut Ha, yang tak bukan adalah sang calon suami. Bersamaan kemunculan Cut Ha di pintu.


Selain Andres, juga telah ada calon ibu mertua nya. Serta sang ayah dan juga ibu Cut Ha sendiri. Semua memandang Cut Ha dengan tatapan mata yang sayang. Memandangi Cut Ha yang berbaju tidur kusut dengan sorot mata makhlum mereka.


"Cut, kami jemput kamu untuk melakukan perawatan," ucap sang ibu dengan senyum yang tulus.


"Perawatan, Ma?" tanya Cut Ha tergugu. Ucapan sang mama menciutkan niatan dan nyalinya.


"Iya, Cut. Kamu harus senam, lalu yoga, lulur, ratus,, dan yang terakhir dipijat. Itu akan menghabiskan waktu setengah hari sendiri lho, Cut," terang sang ibu.


"Habis itu, kalian dirias. Lamaaa... Bisa sampai ashar. Sambil nunggu penghulu datang, Cut. Ayo, kalian berdua ikut senam dulu, kami akan temani. Sarapan pun nanti akan diantar dan dilayani," ucap sang mama panjang menerangkan. Cut Ha merasa lemas lunglai tiada daya.


"Apa yang nyusun semua itu orang wedding organizer, Ma?" tanya Cut Ha mengambang tak semangat.


"Iya, Cut. Kita tinggal ngikutin arahan orang W O." Andres tegas menyahut.


"Apa we o dari pihak penginapan?" tanya Cut Ha dengan termangau.


"Tentu saja, Cut. Perencanaan di rumah penginapan ini sudah sempurna, selevel hotel berkelas. Bukankah kamu yang mengurusi serta bersepakat? Kenapa kamu tidak paham, Cut?" tanya Andres nampak heran dan sedikit sinis tiba-tiba.


"Oh, aku paham, Bang Andres. Tapi aku tiba-tiba lupa," sahut Cut Ha cepat-cepat.


"Ah, sudah,sudah. Ayo kita pergi ke lantai paling atas. Fasilitas olah raga sangat lengkap di sana. Orang panitia juga sudah menunggu." Kali ini adalah sang calon mertua, alias ibunya Andres yang bicara pada Cut Ha.


"Tapi aku ingin mandi sebentar. Aku belum shalat subuh, Ma," ucap Cut Ha memandang sang mama. Ayah Cut Ha tampak terkejut.


"Cut! Sesiang ini kamu belum subuhan,,, apa saja yang telah kamu lakukan, Cut?!" tegur pak Latif cukup keras.


"Maaf, Pa,,, aku lambat bangun,," jawab Cut Ha lembut pada sang ayah. Namun, tidak ada kekesalan di wajah Cut Ha yang cantik. Hanya memandang ayah dan ibunya dengan tatapan yang segan.


Mungkin Cut Ha menyadari, ini adalah detik-detik sang ayah diwajibkan menegur kesilapan sang putri. Sebelum penghulu datang dan acara akad nikah dilakukan sore nanti.


"Saya permisi dulu ke kamar," pamit Cut Ha pada mereka sebelum berbalik. Akan kembali ke dalam untuk mandi dan shalat. Buru-buru ditutupnya pintu kamar sebelum satu orang pun sadar pada tas bahu yang erat dipegangnya diam-diam. Tidak ingin mendapat pertanyaan apapun tentang itu dari mereka.


"Kutunggu kamu di depan sini, Cut. Mandilah dengan tenang!" Seruan Andres yang sempat terdengar sebelum pintu menutup rapat, membuatnya kian tegang, putus harapan dan segalanya terasa tiada daya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ