The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
67. Dikembalikan



Dua jam lebih sekian menit kemudian..


Alarm penunjuk pukul empat lebih lima belas menit sedang berdering kecil di telepon selular milik Khaisan. Seperti yang diinginkan si pemilik untuk terjaga beberapa saat sebelum tiba waktu subuh.


Alarm yang diatur Khaisan dengan bunyi kecil itu tidak sanggup membangunkan teman tidurnya. Wanita yang beberapa detik lalu masih dipeluk, kini telah dijauhkan dengan mata yang terus memejam. Tidak terusik sedikit pun oleh dering alarm di ponsel, juga tidak terjaga oleh gerakan Khaisan saat meletak lagi di bantalnya semula.


Khaisan segera menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ingin mengguyur badan dengan air hangat di shower yang berusaha dilakukan sangat cepat. Adzan sedang terdengar sayup berkumandang dari Mushola Home Stay Te Ka di ujung belakang penginapan.


Subuh dengan gerakan dua rakaat juga dilakukan Khaisan sangat cepat. Berakhir juga dengan panjat doa terpenting yang singkat. Tidak ingin Cut Ha kembali ke kamarnya dengan waktu yang terlewat.


Wajah yang semalam terlihat sedih meski sedang tidur, kini terlihat tenang dan cerah dalam pejam. Susah payah Khaisan berusaha menghempas hasrat raga untuk tidak mengulang menyentuhnya.


Hanya menciumi sekilas seluruh wajah dan bibir Cut Ha yang Khaisan nekat curi dan lakukan, merasa sebenarnya sangat berat menahannya.


"Cut, bangun. Sudah subuh,," usik Khaisan dengan menepuk-nepuk lembut lengan Cut Ha.


Namun yang dibangunkan hanya menggeliat kecil dan membuka mata sekejap, kemudian tidur lagi. Berulangkali Khaisan mencoba bangunkan, tetap saja seperti itu respon yang Cut Ha tunjukkan.


Khaisan sadar dan memahami jika Cut Ha tidaklah pura-pura. Obat tidur milik Khaisan memanglah dosis spesial yang khusus dimilikinya. Padahal Cut Ha hanya diberikan sangat sedikit dengan bercampur sebotol air minum sekali. Itupun berbagi minum dengannya.


Namun, efek berat itu tidak berlaku pada Khaisan. Obat itu hanya bereaksi sebentar saja untuk raganya. Merasa jika jenis obat tidur yang dipilihnya sangat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuhnya. Khaisan merasa fine dan aman-aman saja mengonsumsi. Meski hanya diambilnya di saat senggang tanpa tugas dengan terpaksa.


"Cut, sudah pagi. Nanti kamu kelewat subuh. Juga akan ada banyak orang di aula, mereka sebentar lagi mendekorasinya untuk acara kamu nanti malam. Bangunlah,," bisik Khaisan pada Cut Ha.


Kelopak mata cantik itu sedang bergerak. Kemudian terbuka dan memandang Khaisan. Yang kemudian menggeleng.


"Tidak mau. Aku tidak mau ke kamarku. Aku ingin tidur dulu denganmu di siniiii,,," rengek Cut Ha sambil terus tidur kembali. Tangannya sambil mengulur menggapai leher Khaisan.


Khaisan melepas perlahan kalungan tangan Cut Ha di lehernya. Tidak ingin jadi kalap di pagi yang menyesakkan ini. Calon istri orang itu sudah saatnya harus kembali ke kamar pengantin.


Khaisan beranjak turun dari ranjang dan pergi ke balkon teras depan. Suasana sudah mulai samar dan terang. Mungkin hampir melewati pukul lima pagi. Yang Khaisan rasa tidak mungkin lagi mengeluarkan Cut Ha melalui pintu di balkon depan.


"Apakah tim pencipta dekor sudah turun?" tanya Khaisan dalam panggilan ponsel pada orang di seberang. Kemudian tampak menyimak dan lalu mengangguk-angguk.


"Mintalah orangmu untuk mematikan aliran listrik lima belas menit saja. Aku sedang memerlukannya. Lima menit dari sekarang,"


Khaisan kembali berkata kepada orang dalam panggilan teleponnya. Diam menyimak sejenak yang kemudian dimatikan panggilannya. Menoleh dan memandang redup pada tubuh indah yang tengah tergolek pasrah di ranjang besarnya.


Tidak ada pilihan lagi bagi Khaisan. Harus diangkat dan diantar diam-diam ke kamarnya. Jika tidak, Cut H akan terus tidur di kamarnya, sebab sangat susah untuk bangun. Jikapun terbangun, kewarasannya akan merespon lambat dan menunjukkan efek sikap yang malas. Khaisan tidak ingin Cut Ha terlambat kembali ke kamarnya.


Khaisan menghampiri Cut Ha di ranjang setelah meminun sebotol air putih murni dan tanpa bercampur obat tidur. Yang lumayan menjadi bekal tenaganya.


Khaisan memperhatikan Cut Ha sejenak, merasa jika pakaian Cut Ha sudah rapi sedia kala. Segera di sambarnya Cut Ha dan digendong setelah sempat merapalkan doanya sejenak.


Khaisan membawa Cut Ha keluar kamar melalui pintu belakang dengan berjalan agak pelan. Sambil menunggu orangnya di penginapan melakukkan arahannya.


Tap..


Lampu di lorong telah mati, berubah gelap gulita yang pekat. Namun, Khaisan telah berdiri tepat di pintu tersembunyi itu dan sempat menunggu sejenak. Kini dibukanya dengan cepat dan segera menyelip keluar tergesa. Melewati aula sedikit dan kembali menyambung ke lorong yang juga lantai dua.


Khaisan berhasil menghindar dari aula dengan aman dan selamat. Sebelum orang-orang yang sedang riuh di aula sebagai pengatur dekorasi pelaminan itu berusaha menerangi aula dengan ponsel masing-masing.


Khaisan tidak ingin dicurigai dan ditangkap basah sedang membawa wanita di saat pagi buta. Yang bisa jadi di antara mereka juga asa calon suami Cut Ha, Andres. Khaisan berusaha keras agar aib calon pengantin wanita senantiasa tertutupi.


Berjalan cepat dengan menggendong Cut Ha di depan terasa sedikit susah kali ini. Jauh beda saat digendongnya Cut Ha kala diantarnya ke rumah sakit waktu dulu itu.


Entah sebab kenapa, apa karena Cut Ha berubah gemuk saat tidur ataukah sebab Khaisan merasa berat berpisah sebentar lagi.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ