
Sudah lima hari berada dalam kamar sekapan tanpa adanya kejelasan. Khaisan mulai hilang sabar dan ingin segera bebas. Namun, Lelaki itu tidak sekali saja tampak lubang hidungnya kembali.
Pria tua pelayan meskipun bersikap baik, keras sekali kesetiannya. Tidak ada ucapan berguna bagi Khaisan yang menerangkan di mana bosnya berada.
Sayup terdengar langkah tegas yang terdengar lain dari biasanya. Bukan langkah pria tua pelayan bersama dorongan trolleynya. Derap langkah itu kian mendekat ke arah kamar. Khaisan segera membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak.
Ceklerk
Penampilan lelaki bermasker dan berkacama hitam itu masih sama. Namun, Khaisan tetap yakin jika dia adalah Philips, pacar sesatnya Andres.
"Apa tujuanmu??!" tanya Khaisan keras dan tajam tanpa basa basi, sudah hilang sabarnya.
"Jadilah orangku!" Lelaki itu berjalan mendekat. Menjawab sama yang tanpa basa basi.
"Aku tak sudi!" Khaisan cepat menyahut.
"Kau akan mati!" Lelaki itu telah berhenti dan berdiri di depan tiang pengikat rantai tangan Khaisan.
"Dengan siapa kau bekerja sama?!" tanya Khaisan.
"Kau mulai tertarik? Kau takut mati??" tanya lelaki itu terdengar mengejek. Khaisan diam dengan pandangan tajamnya.
"Kau tahu, orangku telah menyelamatkanmu dari kematian. Kau kularikan ke sini. Balaslah kebaikanku. Aku perlu orang kuat sepertimu untuk pengendali bisnisku," sahut lelaki bermasker.
"Aku tidak berminat dengan apapun bisnis harammu. Aku sudah memiliki bisnis sendiri. Pendapatan dari penginapanku sudah tidak kurang. Aku tidak ingin terlalu serakah pada dunia. Untuk apa itu semua, jika aku mati sepeser pun tidak bisa kubawa!" Khaisan berkata tajam dan tegas.
"Kau bisa mewariskannya pada keturunanmu. Bukankah kau ingin menikahi wanita yang kausuka??" tanya lelaki itu yang kini duduk di ranjang.
"Untuk apa memikirkan warisan untuk keturunanku? Mereka akan mencari dan memiliki harta sendiri. Aku tidak risau akan rezeki yang diberikan Tuhanku," ucap Khaisan dengan tegas.
"Kau benar-benar tidak tertarik? Bisnis ini memiliki pendapatan ribuan dollar tiap malam. Ini sudah berjalan dan kau tinggal mengawasi," ucap Lelaki bermasker.
"Bisnis bagaimana seperti itu?" tanya Khaisan terkesan tertarik.
"Ini adalah prostitusi berkelas paling mahal di Indonesia, juga di Asia Tenggara," ucap lelaki itu sambil berdiri kembali.
"Jadi, kau pemilik prostitusi yang pernah menggunakan penginapanku malam-malam itu??" tanya Khaisan tajam.
"Kau masih keberatan??" tanya lelaki itu.
"Aku tidak sudi. Tutup saja bisnis prostitusimu yang sesat semacam itu. Benar-benar merugikan penginapanku!" Khaisan berkata keras dan tegas.
"Jadi kau gigih menolak? Kau memilih kehilangan nyawa? Kau tidak ingin menikahi wanitamu? Jika kauambil tawaranku, kupastikan wanitamu akan menikmati kebebasannya dan kau akan leluasa memeluknya. Kau juga bisa lebih cepat mengawininya." Lelaki itu berbicara penuh nada mengancam.
"Bukankah sudah kubilang, aku bisa menikahinya dengan memiliki bukti kesesatan kalian. Andres sangat takut jika penyimpangannya bocor dan tersebar." Khaisan mengancam.
"Apa kau lupa di mana kamu berada? Kau di bawah kendaliku, apa yang bisa kamu lakukan??!" bentak lelaki itu kesal.
"Apa kau benar-benar sudah tidak mengenal Tuhan?! Aku akan bebas dan selamat sewaktu-waktu. Aku percaya dan tidak takut ancamanmu, Philips," ucap Khaisan tegas, memancing kebenaran nama lelaki itu.
"Kau bersiap-siaplah dengan baik. Lebih baik kau matilah, kau sangat tidak ada gunanya. Akan kukembalikan kematianmu pada orang yang menginginkanmu. Penginapanmu akan kukacau dan akan jadi milikku. Wanitamu, akan tetap terbelenggu dengan nasib buruknya sampai dia juga mati menyusulmu," ucap lelaki bermasker dan berkacamata hitam itu dengan dingin.
"Bangsat!! Bedebah!!" Khaisan merutuk keras dengan berseru. Tidak hanya itu, Khaisan melempari Philips dengan sepatu kulitnya.
Dugh!
Dada Khaisan begitu sakit, Philips telah menendang telak di dadanya. Namun, Khaisan mengambil kesempatan untuk menyambar kaki Philips. Kini lelaki bermasker dan berkacamata yang terus melekat di hidung, tengah terjengkang dengan kaki dicengkeram oleh tangan kiri Khaisan. Lelaki itu sedang terkapar di lantai dengan sebelah kaki di atas.
"Kau berani? Kau melawanku? Kau memang tidak memiliki rasa terimakasih. Tidak perlu menunggu orangku lagi untuk mematikanmu," kata lelaki yang terduga kuat adalah Philips.
Dia telah mengeluarkan senjata api- senpi kecil dari kantung di celananya. Mengacungkan senpi itu lurus pada Khaisan.
"Kau berdoalah hingga hitungan ke tiga-ku," ucapnya dingin.
Khaisan tahu lelaki itu tidak pernah main-main. Dia pun telah mulai menghitung. Bahkan kakinya begitu kuat dengan kuda-kuda yang menahan diri. Khaisan tidak berhasil menghentak kakinya.
Namun, lelaki itu membiarkan saja kakinya terhentak. Tetap menghitung dengan dingin. Khaisan mengakui jika dia adalah lelaki yang kuat.
Saat lelaki itu menyebut hitungan ke dua, Khaisan yang sedang berpikir keras tidak sengaja memandang jari kaki yang sedang dicengkeramnya.
Sangat terkejut, tiga jari kakinya tidak ada. Hanya sebatas pangkal jari dan itu tidak rata. Khaisan yakin jika cacatnya bukanlah tanda lahir. Sangat shock, dipandangnya lelaki yang bibirnya sudah menyebut angka tiga.
"Shirakhi san,,?" ucap Khaisan dengan bibir sedikit bergetar. Antara susah dan terkejut.
Prang!!
Lukisan Monalisa yang menempel di dinding, jatuh dengan kaca berserakan. Lelaki itu telah menembak tepat di gantungannya.
"Siapa kau??!" bentak lelaki itu dengan keras. Pertanyaan itu membuat Khaisan yakin akan dugaannya. Dia adalah Philips yang ternyata putra sulung sang paman yang telah dinyatakan hilang oleh keluarga dan juga kepolisian Jepang. Dia adalah sepupu tertua Khaisan, yakni Shirakhi.
"Aku Khaisan. Putra sulung Ahmed Tauji," sebut Khaisan seraya menurunkan kaki panjang itu dari cengkeramannya.
"Kau??" ucap lelaki kuat itu tercengang. Lalu berdiri dengan cepat untuk tegak kembali.
"Kau anak lelaki yang hilang itu?" tanyanya kembali pada Khaisan.
"Aku tidak pernah hilang. Orang tuaku memang menempatkanku di rumah nenek dan kakekku di Indonesia. Aku bukan hilang," ucap Khaisan meluruskan.
"Kau sudah sebesar ini, Khaisan," ucap lelaki itu datar. Tangannya mengulur ke arah wajah Khaisan dan menangkup rahangnya.
"Maafkan aku. Besar sekali kesalahanku. Tapi, sungguh tepat aku menyabotase kamu darinya. Jika tidak, kau sudah mati." Lelaki itu telah menarik tangannya dan tidak lagi memegang rahang Khaisan.
"Apa yang kau maksud dia adalah Andres? Kau adalah Philips?" tanya Khaisan menyelidik. Lelaki itu mendekati wajah Khaisan.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku merasa beruntung tidak jadi membunuhmu. Aku tidak akan pernah lagi mencelakaimu. Jika memungkinkan akan kupermudah urasanmu, Chan," ucap lelaki itu.
"Anggap saja kejadian ini adalah mimpimu. Jangan membincangkan apapun di kemudian hari tentangku. Maafkan aku, Chan," ucap lelaki itu berbisik.
Tidak sempat terkejut, dengan sangat cepat, lelaki itu telah meraup wajah Khaisan. Seketika Khaisan hilang kesadaran, yang kemudian lelaki itu dengan sigap menahan tubuh Khaisan untuk di dudukkan di sofa.
*Chan, panggilan sayang pada saudara dekat di Jepang.
πΈπΈπππΈπΈ