
Khaisan menahan diri agar terus diam, meski heran kenapa Cut Ha dan Felix terlihat sangat tegang. Merasa tidak ada apapun kesalahan yang dibuat Felix dalam urusan pembeliannya.
Begitu juga dengan Cut Ha, yakin jika tidak ada kendala dengan urusan penjualannya. Mengingat bahwa Felix tidak akan menawar satu sen pun untuk seluruh barang yang sudah dipesannya.
"Oke, pak Felix. Apa anda ingin melihat-lihat barang lain yang kami pajang langsung di toko? Akan kupanggil pegawaiku agar menemanimu," ucap Cut Ha yang bergelagat akan pergi.
"Tidak perlu, nona Cut Ha. Saya pun juga buru-buru. Saya akan pergi juga sekarang," sahut Felix dengan cepat dan sopan.
Khaisan menganggap ini sangat mengherankan. Selama ini Cut Ha tidak pernah meninggalkan pelanggan besar yang datang berkunjung, sebelum benar-benar tidak nampak di pagar tokonya.
"Oh, begitukah. Silahkan jika begitu. Saya pun juga sangat buru-buru," sambut Cut Ha.
Bersama dengan laju langkahnya menuju ke belakang. Khaisan yakin jika Cut Ha pasti akan melewati pintu toko bagian belakang. Bahkan tidak ada salam sapa atau juga jabat tangan dari Cut Ha sebelumnya sebagai basa basi.
"Felix, apa kamu sudah membayar uang muka?" tanya Khaisan lirih dengan menghampiri Felix agak rapat.
"Sudah, bos Kha. Lima puluh persen," sahut Felix sambil mengangguk.
"Kamu tidak menawar?" tanya Khaisan sekali lagi.
"Sama sekali, bos Kha," jawab Felix tegas meyakinkan.
"Baiklah. Sampai jumpa, Felix." Khaisan pun berjalan pergi meninggalkan Felix yang terus berdiri memandang.
Felix memang berkata yang sesungguhnya. Merasa jika sebenarnya tidak ingin melibatkan urusan kerja dengan urusan pribadi. Namun, tidak menyangka, wanita yang sempat dipuja tiba-tiba muncul didepannya. Yang tiba-tiba menghadirkan keinginan liar dan pikiran piciknya yang luar biasa.
Tidak susah untuk kembali berjalan di belakang Cut Ha dengan cepat. Wanita itu telah terkejar sebelum mencapai pintu belakang toko. Yang terus diikutinya hingga masuk kembali ke dalam rumah.
"Ada apa, Cut? Apa ada yang membuatmu tidak suka dari kunjungan manager home stay te ka?" tanya Khaisan setelah Cut Ha duduk menghenyak badan di sofa.
Cut Ha yang bercelana panjang itu menyelinjorkan kaki di sofa. Menampakkan kaki mulus dengan jari-jari kaki yang cantik.
Wajahnya menoleh Khaisan cukup lama. Nampak bimbang dengan tatap mata yang resah. Namun, Cut Ha kian meluruskan bibir agar terus diam merapat.
"Sementara, tidak ada," sahut Cut Ha dengan bimbang. Khaisan berkerut dahi terheran.
"Sementara, jadi kamu ada masalah? Apa masalahmu, Cut?" tanya Khaisan mendesak.
"Tapi aku belum ingin mengatakannya padamu. Ini masalah pribadi," sahut Cut Ha nampak enggan.
Khaisan menghela nafas, tidak bisa juga memaksa Cut Ha untuk membicarakan masalah pribadi padanya. Meski merasa sangatlah ingin tahu.
"Apa Felix membuatmu kesal?" tanya Khaisan merasa tidak puas. Cut Ha cepat mendongak memandang Khaisan yang berdiri di samping kakinya.
"Kenapa kamu tidak berjaga di pintu saat aku dan Felix berbicara di kantor?"
Cut Ha justru bertanya dengan menatap tajam Khaisan. Penasaran dengan siapa Khaisan bertelepon. Hingga lelaki itu tidak siaga di pintu seperti biasanya.
"Soal itu, aku minta maaf. Orang tuaku menelepon dari Jepang. Ada hal yang ingin dikatakannya padaku." Khaisan telah berkata jujur. Merasa jika hal seperti itu tidak perlu ditutupinya dari Cut Ha.
"Aku sama denganmu, Cut. Bukankah ibumu adalah anak dari pekerja di toko orang tua ayahmu?" tanya Khaisan dengan senyum samar di wajahnya.
"Kamu tahu? Kamu juga seperti itu? Tapi jika ayahmu seorang Jepang, kenapa wajah dan fisikmu seperti itu?" Cut Ha memandang Khaisan dengan antusias. Khaisan memandang Cut Ha dengan senyum kecilnya.
"Kenapa wajah dan fisikku, Cut?" tanya Khaisan pada Cut Ha.
"Bukan kenapa, tapi wajahmu bukan sangat jepang, daaann,,, badanmu besar sekali, pengawal Kha," ucap Cut Ha dengan berpaling. Khaisan melihat wajah pias Cut Ha yang cantik.
"Iya, kamu benar, Cut. Sebetulnya kakekku adalah lelaki Turki. Nenekkulah yang Jepang. Ibuku adalah anak dari pekerja di rumah orang tua ayahku di Blitar. Di sanalah ayah dan ibuku jatuh cinta kemudian menikah."
"Tapi kamu beruntung, Cut. Besar dengan orang tua kamu, sedang aku dengan nenek dan kakekku." Khaisan menjelaskan pada Cut Ha yang terus lekat memandangnya.
"Pantas penampilanmu begitu. Kamu tidak pernah tinggal dengan orang tuamu?" tanya Cut Ha. Khaisan sedang menggeleng dengan senyum tipisnya.
"Ibu ikut ayahku pergi ke negaranya. Nenek dan kakek menahanku. Setelah nenek dan kakekku tiada, orang tuaku ingin membawaku ke Jepang. Tapi saat itu aku sudah bekerja di pemerintah dan tidak ingin meninggalkan Indonesia. Jadi, di Batam sinilah tempat strategis untuk kami. Orang tuaku akan lebih mudah mengunjungiku." Khaisan bercerita tentang dirinya tanpa beban pada Cut Ha.
"Jadi, kamu meminta Velingga menyusulmu untuk menemani?" tanya Cut Ha yang tiba-tiba ingat akan sang sahabat. Khaisan sedang menaikkan sebelah alisnya. Lalu menghembus nafas dengan kencang.
"Aku memang salah waktu itu. Tapi tidak menyangka jika dia mendapat penggantiku sangat cepat," sahut Khaisan, meluahkan perasaan yang dia pendam kali ini.
"Kamu menyesal?" kejar Cut Ha ingin tahu. Khaisan yang biasanya tertutup kini telah berkeluh kesah.
"Tentu saja. Tapi sekali lagi bukan jodoh. Lagipula dia memilih lelaki yang lebih dicintainya. Diapun sekarang bahagia. Tidak ada lagi yang perlu kusesali, Cut," ucap Khaisan. Lelaki itu lebih meluruskan lagi berdirinya.
"Tadi, kenapa orang tuamu menelepon?" tanya Cut Ha kembali ke awal pembicaraan.
"Orang tuaku akan datang sore ini. Minta dijemput," ucap Khaisan dengan raut yang gusar.
"Pergilah menjemput," ucap Cut Ha pada Khaisan, wajah cantiknya nampak tulus.
"Sudah kupesankan taksi untuk menunggu mereka di bandara Hangnadim. Aku tidak bisa," sahut Khaisan memutuskan.
"Kamu tidak ingin menemui mereka segera? Pergi saja, aku tidak masalah," tanya Cut Ha nampak heran. Bagaimanapun, orang tua Khaisan sudah datang dari jauh.
"Mereka sangat paham jika aku sedang mendapat job. Kami sudah biasa begini. Lagipula besok sudah Jumat, akan kutemui mereka saat free timeku saja," tegas Khaisan.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Cut Ha dengan cepat.
Khaisan menunduk memandang wajah Cut Ha yang berharap. Tapi untuk kali ini, terpaksa tidak akan dibawanya Cut Ha pergi free time bersama. Sang orang tua sedang menyiapkan kejutan untuk Khaisan.
Sedang Khaisan pun tidak tahu menahu kejutan apa yang oleh orang tuanya akan beri padanya. Orang tua Khaisan suka memberi kejutan aneh yang tidak disangka. Tidak ingin jika Cut Ha tahu terlalu dalam lagi tentang dirinya.
"Sorry, Cut. Untuk free time dua jamku besok, kamu tidak perlu ikut dulu denganku. Istirahat saja di rumah. Tapi kamu jangan pergi ke mana-mana. Tunggu hingga aku kembali," pesan Khaisan sungguh-sungguh pada Cut Ha.
Setelah lama memandang, Cut Ha pun akur mengangguk. Memahami larangan Khaisan yang mungkin sedang ingin quality time bersama orang tua. Tanpa adanya Cut Ha yang bisa jadi sudah sangat membosankan sebab delalu dilihat Khaisan hingga dua puluh empat jam tiap harinya.
πΈπΈππΈπΈ