The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
38. Otewe Pulang



Kota industri Muka Kuning telah beberapa menit lalu ditinggalkan. Kini telah mulai memasuki wilayah kota nagoya perbatasan. Jalanan justru mulai sepi dan tidak dipenuhi kendaraan. Para pekerja industri di Muka Kuning sangat jarang yang tinggal di kota Nagoya. Kebanyakan adalah rekrutan dari luar pulau yang tinggal di asrama wilayah Muka Kuning. Berdekatan dengan perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing.


"Boleh kulihat ponselku?" tanya Cut Ha tiba-tiba. Kali ini dengan memandang Khaisan.


"Iya. Aku lupa segera mengembalikan padamu, Cut," ucap Khaisan. Meraba saku jaket yang dipakainya dan menarik satu ponsel slim dari sana.


"Ini. Sorry, aku menyalakan dan sempat melihat-lihat isinya," ucap Khaisan sambil mengulurkan ponsel itu.


Cut Ha menerima tanpa respon. Dibukanya layar ponsel dan membaca beberapa pesan masuk yang tertanda sudah dibaca. Khaisan sudah membaca seluruh pesan untuknya. Baik kotak pesan di menu manual ataupun pesan online di aplikasi.


Cut Ha menutup ponsel dan menyimpan ke dalam tas yang tak lupa selalu dibawanya. Isi beberapa pesan itu kebanyakan dari ayah dan ibunya. Juga beberapa dari calon suaminya, Andres. Kepala Cut Ha terlalu sakit memikirkan, merasa lebih baik pasrah saja.


"Orang tuamu ingin segera membuat acara pernikahanmu dengan Andres?" tanya Khaisan. Wanita yang duduk di sampingnya nampak semakin mendung parasnya.


"Iya," sahut Cut Ha datar namun sambil mengangguk.


"Apa tanggapanmu, Cut?" Khaisan terlihat antusias ingin tahu.


"Terserah. Aku merasa tidak punya pendapat," sahut Cut Ha cepat tanpa menoleh. Tapi Cut Ha menggelengkan kepalanya.


Tidak ada tanggapan dari Khaisan. Lelaki itu juga tidak lagi memandang Cut Ha. Wajah kerasnya fokus pada jalanan di depan.


"Apa ada yang tahu tentangku ini?" tanya Cut Ha yang kali ini menoleh dan memandang Khaisan. Tapi pandangannya sayu dan kosong.


"Tidak ada satu pun, Cut. Hanya Mariah yang tahu," sahut Khaisan. Memandang raut wajah Cut Ha yang masih juga pucat.


"Apa kamu benar-benar bisa menghapus akunku?" tanya Cut Ha memandang datar pada pengawalnya. Khaisan kembali menoleh dan mengangguk.


"Aku bisa mencarikan dan menghapusnya, Cut. Tapi akan lebih mudah lagi jika kamu mau mengingat apa saja nama-nama akunmu. Itu akan lebih memudahkanku dan lebih cepat," terang Khaisan yang kali ini memandang tembus ke depan.


"Akan kutulis daftar kemungkinan nama akun-akunku selama ini. Aku tidak tahu, kenapa dulu rajin sekali bikin akun. Padahal bukan lelaki pun yang kusuka. Buat apa,," ucap Cut Ha dengan setengah menggerutu dan menggumam. Respon ini adalah yang paling sering Cut Ha tunjukkan.


"Sudah, jangan terlalu disesali. Kamu sudah akan menikah. Pikirkan saja hal-hal yang menyenangkan," ucap Khaisan memberikan semangat untuk Cut Ha.


Mungkin ada sesal dengan rasa curiganya pada Khaisan. Jika saja benar-benar percaya, Felix tidak akan berpeluang mengancamnya.


"Felix selalu bilang punya mata-mata. Tapi kamu bilang tidak ada. Kamu yakin, pengawal Kha,,," tanya Cut Ha dengan nada datarnya kembali.


"Dia memang tidak ada mata-mata. Aku sangat yakin dan tahu tentang itu. Kenapa kamu menganggap jika Felix punya mata-mata?" tanya Khaisan dengan pelan.


"Dia sangat tahu kegiatanku dan benar sekali yang dia katakan," sahut Cut Ha dengan ekspresi jauh ke depan.


"Bennarkah?? Seperti apa kegiatanmu yang dia tahu??" tanya Khaisan antusias. Nampak heran sekaligus terkejut dengan fakta yang dibilang oleh Cut Ha.


"Saat aku dan Andres berjumpa di malam hujan deras itu, Felix tahu. Saat malam-malam aku makan nasi goreng denganmu, dia pun tahu, pengawal Kha. Bagaimana bisa."


Cut Ha menjelaskan pada Khaisan dengan ekspresi yang terus saja nampak datar. Ucapannya selalu seperti mengeluh dan bergumam. Sepertinya, isi dalam kepala Cut Ha masih mengambang setengahnya dan belum kembali utuh ke posisi. Terlalu trauma oleh apa yang baru dialami. Felix telah menambah cidera jiwanya lebih dalam.


Khaisan meraup wajah demi memahami dan mengingat pada penjelasn Cut Ha. Mengakui yang dikatakan Cut Ha memang benar. Tapi mata-mata yang dikatakan Cut Ha dan diakui kepunyaan Felix, bukanlah orang lain.


"Mata-mata yang dikatakan Felix itu bukan siapa-siapa, Cut. Bukanlah mata-mata, juga bukanlah penguntit yang bekerja untuk Felix. Sebab orang itu adalah aku."


Khaisan menjelaskannya dengan tenang. Seperti yang dia duga, Cut Ha tidak terkejut. Juga tidak ada ekspresi lain di wajahnya. Hanya menoleh dan memandang wajah Khaisan sebentar.


"Jelaskan," ucap Cut Ha tenang tanpa nada.


"Kuakui, aku dan Felix sangatlah dekat. Tidak kusangka, akhirnya cacat juga dirinya. Tidak jauh beda denganku dulu." Khaisan mengeluh.


"Kami terlalu rapat, Cut. Apapun yang dia tanya, meski dengan pancingan, kuceritakan segalanya. Bukan kamu yang dia tanya sedang apa dan di mana, tapi aku. Ternyata, dia hanya ingin tahu tentang kamu. Aarggh!!"


Khaisan kembali meraup wajahnya dengan kasar dan cepat. Merasa begitu kesal dengan Felix, lelaki yang dipercaya dan dianggap sahabat terbaik, ternyata telah memanfaatkan dirinya. Bahkan cenderung tidak peduli dan berkhianat.


Cut Ha menoleh dan hanya melirik Khaisan dengan ujung mata. Tidak ada ekspresi, respon dan sahutan darinya. Hanya bibir yang biasanya indah merona kini sangat pucatlah yang terus merapat dan lurus mengatup tanpa sekalipun tersenyum.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ