
Seperti biasa, Cut Ha berjalan menuju pintu rumah melewati toko elektronik orang tuanya lebih dulu di depan. Meninggalkan Khaisan yang masih merapat di trotoar, mengatur posisi mobil agar lebih aman menyandar.
Garasi di rumah orang tua Cut Ha hanyalah muat satu mobil. Rumah mereka begitu rapat dengan jalan raya di depan. Hanya tepi jalan di trotoar milik umum sajalah tempat pengunjung toko menyandar.
Khaisan bimbang sejenak, Cut Ha bahkan sudah tidak ada di sekitar teras toko dan teras di samping toko. Wanita itu sudah masuk ke dalam rumah tanpa bermulut manis sepatah kata pun pada Khaisan.
Maka, Khaisan pun bergegas menyusul ke dalam rumah orang tua Cut Ha yang juga pernah didatangi sekali itu. Tidak susah baginya untuk menuju posisi ruang tamu dengan cepat.
Khaisan tidak menyangka jika rumah yang nampak senyap itu telah banyak orang duduk di sofa ruang tamu. Sofa yang juga pernah diduduki olehnya saat negosiasi sebulan lebih yang lalu.
Tidak lagi meneruskan langkah kaki untuk mendekati Cut Ha yang duduk sendiri di sofa single. Khaisan berhenti untuk menatap orang-orang di ruang sofa sejenak. Memberi anggukan kecil dan kemudian berbalik.
Cut Ha dan kedua orang tuanya nampak duduk berhadapan dengan pria muda yang tampan. Serta sepasang lagi orang tua, Khaisan yakin jika mereka adalah orang tua si pria muda. Mereka benar-benar sedang melakukan perjodohan untuk anak-anak mereka.
Bodyguard yang tugasnya nampak ringan itu memilih berdiri di depan pintu. Enggan mendekati Cut Ha yang sedang ada urusan pribadi dengan keluarga. Selain sadar bukan ranah urusannya, Khaisan merasa malas melihat Cut Ha yang nampak tersenyum merona di sana.
Hanya kedua telinga lebar Khaisan yang benar-benar tak mungkin dilipat atau dipalingkan. Telinganya terus meradar dengan pandangan yang jauh menemhus ke depan di jalan raya. Obrolan akrab kedua kubu terus saja terdengar.
"Jadi, Cut Ha yang cantik ini benar-benar tidak memiliki teman lelaki spesial, kaan? Cocok sekali bertemu dengan Andres anakku yang juga jomblo, kalian memang sangat serasi lhooo," ucap wanita yang pasti adalah ibunda si Andres. Nama pria muda yang disebutkannya barusan.
"Apa lagi,, Cut Ha berusia dua puluh sembilan tahun, anakku Andres tiga puluh tahun. Pasti kalian bisa sangat klop. Tunggu apa lagi, kalian berdua tidak muda lagi lhoo," sambung ibu Andres yang diselingi oleh tawanya sendiri.
"Terlebih lagi kamu itu, Cut. Sebagai perempuan, di usiamu yang menjelang tiga puluh ini, kebanyakan sudah punya anak," ucap lelaki yang tak lain adalah ayah Cut Ha.
"Jangan khawatir, nak. Anak lelakiku ini sudah mapan. Dia itu menjabat jadi wakil kepala pegadaian di Batam, lhoo. Gaji dan tabungannya sudah cukup untuk menghidupimu. Kalian berdua saling mengenal dulu lah ya..." bujuk wanita tadi. Ibu dari Andres sangat humble dan welcome. Benar yang di katanya, pekerjaan Andres cukuplah menjanjikan.
"Insya Allah, tante. Jika memang jodoh, tak mungkin kutolak. Jika tak jodoh pun, tak mampu juga kupaksa," sahut Cut Ha dengan suara lembutnya. Sepertinya, wanita cantik itu sudah menerima perjodohan dengan dada yang lapang.
"Bener kamu, Cut.. Duh, semoga kamu dan Andres tuh memang sudah dibikin jodoh sama Allah," ucap wanita ceria yang adalah ibunya si Andres.
"Aamiin"! sahut suara pria muda tiba-tiba.
Khaisan yakin jika itu pasti sahutan dari Andres. Khaisan kembali masam tersenyum. Memahami respon si Andres. Yang memang pria mana tidak akan tertarik pada Cut Ha dalam pandangan pertama saat bertemu? Cut Ha memang wanita yang jelita.
Bodyguard tampan itu terus mengikuti perbincangan dua keluarga yang sedang menyusun visi dan misi. Dengan bidik sasar mulia yang sama, yaitu segera memiliki cucu yang unggul dari pernikahan anak mereka.
πΈ
Keluarga Andres telah pergi pulang beberapa menit lalu. Menyisakan Cut Ha yang kini sedang ditahan sang ayah dan ibu agar sudi menginap di rumah keluarga. Merasa jika pertemuan ini sangat singkat dan masih menyisakan gunung rindu sang orang tua kepada putrinya.
"Ini sudah sangat malam, Cut. Sebaiknya menginap satu malam saja. Di sinipun juga rumah kamu. Jangan terlalu lama tidak mengunjungi kami di rumah ini." Sang ibu telah membujuk Cut Ha untuk ke sekian kalinya.
"Tapi kan aku ada pengawal, ma. Jadi jangan risau, lagi pula ini masih pukul sepuluh lebih sedikit saja," rayu Cut Ha agar sang orang tua segera meloloskan dirinya untuk pergi kembali.
"Apa pengawalmu bekerja dengan baik?" tanya ayah Cut Ha. Sambil melirik Khaisan yang terus berdiri di pintu.
"Baik sekali, pa. Aku sangat aman dijaga olehnya," sahut Cut Ha bersemangat.
"Hemm,, makanya kamu ini cepatlah nikah. Ke mana-mana sama suami kamu. Bukan orang lain. Itu, papa rasa Andres adalah lelaki baik, sangat tepat untuk menikahi kamu." Pak Latif, ayah Cut Ha, nampak menepuk-nepuk pundak Cut Ha.
"Jangan tertawa dulu, pa. Ingat papa, aku hanya ingin menikah dengan lelaki yang mau nerima aku seadanya. Papa jangan lupa, aku ini sudah ternoda. Bisa saja Andres pun tidak mau denganku setelah tahu keadaanku. Tentang ini, maafkan aku ya, pa, ma," ucap Cut Ha lirih dan sedikit menunduk. Benar-benar merasa gagal menjadi anak perempuan yang baik.
"Ya nanti kalo ketemu Andres lagi, sebelum terlanjur jauh, katakan saja cepat-cepat, Cut," ucap sang Mama mengingatkan.
"Iya, ma. Nggak besok-besok, kok. Akan kubilang pada Andres secepatnya. Bahkan kalo perlu kutelpon saja malam ini," sahut Cut Ha sambil tersenyum. Cut Ha memegang lengan ibunya dengan sayang.
"Ya jangan, lebih baik kamu ketemuan langsung saja, Cut," ucap sang mama. Wanita jawa itu sangat lembut dan jarang berbicara. Bukan marah atau malas, tetapi memang pendiam seperti itulah sifat sang mama. Ayah Cut Ha lah yang lebih banyak berbicara.
"Iya, maaa. Ma, pa, aku pulang sekarang saja yaa," Cut Ha kembali membujuk.
Kedua orang tua itu saling menoleh sekaligus saling pandang. Kemudian memandang Cut Ha dan mengangguk pelan bersamaan. Meski merasa berat dan ragu, tapi tetap juga mengizinkan. Tak tahan jika sang putri sudah meluncurkan rayuan.
Cut Ha nampak tersenyum senang sekali. Segera dipeluknya ibu dan ayahnya bergantian. Kerelaan mereka berdua sangatlah dia harapkan.
Setelah drama berpamitan berjalan lancar dan mudah, Khaisan membawa Cut Ha kembali ke rumah di kota Nagoya pinggiran. Meninggalkan orang tua kembali demi hidup mandiri yang sedang dikejar. Memahami jika Cut Ha sedang bahagia menikmati kesuksesan dari jerih usahanya.
πΈπΈπππΈπΈ