The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
28. Teror



Waktu yang diperlukan Cut Ha pergi ke toilet sudah demikian lama bagi Khaisan. Beberapa orang yang masuk ke toilet setelah Cut Ha bahkan sudah keluar bergantian. Tetapi wanita yang dijaganya itu belum juga terlihat tanda keluar.


Khaisan akan nekat menerobos ke dalam jika Cut Ha tidak terburu nampak di pintu keluar dan masuk toilet itu.


"Cut,,!" seru Khaisan saat Cut Ha berjalan keluar sambil menoleh ke kanan dan kiri cepat tapi tidak fokus.


"Pengawal Kha!" sambut Cut Ha mendekati Khaisan.


Wajah Cut Ha nampak memerah dengan mata yang basah. Khaisan terheran dengan yang dilihatnya.


"Pengawal Kha, aku belum bayar toilet. Aku,, aku lupa tidak bawa duit lagi. Beri aku uang lima ribu saja. Aku pinjam," ucap Cut Ha dengan tersendat. Lubang hidung yang manis itu sedang mengembang kempis dengan cepat.


" Ada apa denganmu, Cut?" tanya Khaisan. Tangannya mengeluarkan dompet dan menarik lembaran rupiah untuk Cut Ha.


"Kelilipan," sahut Cut Ha cepat. Disambarnya selembar uang dari tangan Khaisan.


"Terimakasih," ucap Cut Ha sambil pergi.


Khaisan termangu memandang Cut Ha yang sudah berbalik dan kembali masuk ke dalam toilet. Dia tahu jika Cut Ha berkata tidak benar. Menduga barangkali Cut Ha dibully sebab tidak memiliki uang untuk membayar toilet di rumah makan mewah ini, rasanya sangatlah tidak mungkin. Lalu kenapa Cut Ha menangis setelah nampak bahagia dengan Andres..


Cut Ha telah meninggalkan toilet dengan diam seribu bahasa. Khaisan berjalan mengikuti di belakang, juga dengan bungkam tanpa kata. Khaisan berjalan cepat mengimbangi langkah Cut Ha yang setengah berlari. Berjalan beriringan menuju arah depan rumah makan dengan langkah yang sama tergesanya


"Cut Ha! Tunggu!" Khaisan berseru saat Cut Ha terus berjalan menerobos lebat hujan. Sedang dirinya masih berusaha membentangkan payung dengan cepat.


"Cut Ha!" Khaisan menghardik sambil menyambar lengan Cut Ha yang rasanya sudah basah dengan air.


Khaisan merasa geram dengan penataan rumah makan yang mewah, tapi jalur jalan menuju latar parkir tidak terlindungi. Meski tidak jauh, jika hujan selebat ini, tentu saja akan menyebabkan basah kuyub. Juga merasa agak kesal dengan wanita jagaannya yang tidak mendengar ucapannya.


"Kamu ada apa, Cut?" tanya Khaisan dengan lembut. Mengenyahkan rasa kesal yang baru saja menyapa. Namun, Cut Ha membungkam dan tidak menjawab pertanyaannya.


Cut Ha telah dimasukkan ke mobil dan dirinya pun baru saja duduk benar. Khaisan merasa tidak tenang melihat baju dan rambut Cut Ha yang basah. Tidak jauh beda dengan keadaan dirinya, meski tidak terlalu berair, rasanya sangat lembab dan sangat tidak nyaman.


Khaisan membawa Cut Ha meluncur membelah jalanan cukup kencang. Bibirnya rapat dengan mata yang tajam. Lurus memandang lajur jalan dengan pandangan yang fokus. Suasana kian senyap sebab hawa hujan dan tanpa percakapan. Cut Ha menoleh Khaisan dan merasa sedang didiamkan.


"Maaf, pengawal Kha. Apa kamu marah?" tanya Cut Ha dengan lirih. Bibir merah menggemaskan itu bersuara setelah Khaisan mendiamkan cukup lama. Belakangan ini, Cut Ha memang paling tidak tahan jika Khaisan diam saja.


Khaisan mengencangkan laju kemudi di tengah hujan lebat. Tidak berniat menyahut pertanyaan Cut Ha yang sementara ini tidak penting. Menduga jika Cut Ha merasa dingin dan merasa tidak nyaman.


"Pengawal Kha. Maaf, aku selalu merepotkanmu. Kamu marah?" tanya Cut Ha lagi dengan suara rendah dan lirih. Wanita itu memang menahan rasa dingin.


"Tidak, Cut," sahut Khaisan singkat. Fokus pada laju dan keamanan mobil yang dibawanya.


Berfikir jika Cut Ha harus segera menukar baju basahnya di rumah. Sedang jaket Khaisan di laci dashboard, baru dicuci dan masih belum kering. Khaisan tidak membawa banyak pakaian di ranselnya.


Cut Ha tidak lagi bersuara. Memandang Khaisan dengan perasaan tidak nyaman. Rasa dingin kian terasa sebab Khaisan yang terus diam dan nampak memendam marah padanya. Merasa tidak tenang jika bodyguard tampan itu menampakkan wajah garang di depannya.


Khaisan terus diam, mengabaikan pandangan Cut Ha yang terus menatapnya. Hingga sampai di garasi rumah dan lelaki itu membuka pintu untuknya dengan diam.


"Nona Cut Ha! Basah kuyub baju Anda?!" sambut Mariah dengan memegangi daun pintu.


"Kamu juga, pengawal Khaisan?!" seru Mariah lagi dengan wajah yang bingung.


"Bantu nonamu tukar baju, Mariah. Jika dia mau, suruhlah berendam di air hangat sebentar! Lihat juga lukanya!" seru Khaisan pada Mariah yang sedang berjalan mengikuti Cut Ha ke arah kamar.


Lelaki itu juga pergi ke kamarnya setelah pintu kamar sang nona ditutup oleh Mariah rapat-rapat. Khaisan ingin membersihkan diri dari ujung rambut hingga ke ujung jari kaki. Juga menukar seluruh pakaian meski hanya lembab di celana luar saja.


Sudah hampir dini hari, teror di ponsel Cut Ha baru saja berhenti. Tidak ada lagi panggilan menyusul di sana.


Felix memang benar-benar gila. Tidak berhenti memintanya datang malam ini. Tidak habis pikir bagaimana lelaki itu tahu jika dirinya mendatangi rumah makan dan bertemu dengan Andres.


Felix memberi ancaman akan membocorkan juga pada Andres. Cut Ha benar-benar merasa seperti akan diterjang semburan gunung api. Membuatnya panik dan tak bisa menahan tangisan saat Felix menelepon di toilet rumah makan.


Juga sempat berburuk sangka jika Felix diam-diam bekerja sama dengan Khaisan. Secara Khaisan pernah terjungkir balik sebab dirinya. Hingga hilang juga jabatannya di pemerintah sabab kasus beratnya kala itu.


Namun, Cut Ha berusaha keras menepis prasangka buruknya pada Khaisan. Mempertebal rasa percayanya. Menghadirkan sesal yang benar-benar membuatnya merasa bersalah pada lelaki itu.


Rasanya bahkan ingin menebus kesalahan pada Khaisan dengan apapun. Namun, dengan apa,, apa yang sudi diterima Khaisan agar rasa salah Cut Ha tidak lagi mengahantui jiwanya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Beloved readers... Vote seninmu yaaa..πŸ˜˜πŸ™