
Satu guncangan keras membuat Khaisan terkesiap bangun. Meskipun terasa linglung, segera disadari apa yang baru terjadi padanya. Yakin jika Philips, atau juga Shirakhi telah memberi hipnotis hingga kesadarannya pun melayang.
Meskipun tidak habis pikir bahwa hebatnya hipnotis itu nyata, masih merasa bersyukur dirinya selamat tanpa sedikitpun ada cacat. Khaisan menyadari jika orang sekuat dan sekaya Philips, tidak akan mungkin kosongan dan tanpa sebarang pun kekuatan. Dirinya pun pernah belajar, tetapi tidak sungguh-sungguh mengingatnya.
"Dari mana aku, Pak?" tanya Khaisan pada driver taksi yang membawanya.
"Ah, kau sudah bangun? Aku sama sekali tidak tahu. Beberapa lelaki membawamu ke tempatku melapak dan memintaku mengantarmu kemari," ucap supir taksi agak bingung sendiri.
"Ke mana mereka memintamu membawaku?" tanya Khaisan.
"Ke sebuah penginapan di kota Muka Kuning. Di Home Stay Te Ka, apa betul?" tanya driver memandang Khaisan dari spion yang dalam.
"Benar, pak. Antarkan aku ke sana," sahut Khaisan. Kini menyandar dan meletak kepala untuk menutup matanya.
Menikmati kenyamanan yang bebas tanpa lagi belenggu. Meski tidak ada apapun bukti jaminan dari Philips, Khaisan yakin jika dirinya telah aman dan selamat.
Theo sedang berjalan mondar mandir dengan gelisah di lobi. Sangat terkejut melihat Khaisan datang dengan jalannya yang cepat. Melewatinya begitu saja, seolah tidak saling mengenal sama sekali.
Namun, Theo memahami jika sesuatu terjadi. Segera diikutinya Khaisan menuju lift. Kini telah masuk ke dalam dengan hanya berdua bersama Khaisan.
"Kamu dari mana saja, Bos Kha?!" tanya Theo tampak khawatir. Makhlum, sudah lima hari Khaisan tak tentu rimbanya.
"Kau jangan panik seperti itu, Theo. Sudah kubilang, kau boleh khawatir padaku jika aku kembali hanya pulang tinggal nama," ucap Khaisan lirih.
"Kau bilang pergi ke hotel Big Star, tapi tidak ada jejakmu di sana," sungut Theo masih waswas.
"Ternyata bukan Big Star A. Tetapi di Big Star B, Theo," ucap Khaisan. Kali ini memahami keresahan yang Theo rasakan.
"Apa Cut Ha, baik-baik saja?" tanya Khaisan.
"Nasib baik sudah kamu ungsikan, Boss. Anak buah Andres datang membuat kekacauan. Aku sampai meminta tolong pada kepolisian. Untung lagi namamu sudah berubah sangat bagus, mereka melindungi penginapanmu," ucap Theo menjelaskan.
"Kamu tidak keluar banyak uang?" tanya Khaisan menebak yang sesungguhnya. Theo tampak tersenyum dengan kecut.
"Tentu saja juga sambil keluar uang," sahut Theo terkekeh sendirian. Khaisan terlihat bungkam tanpa senyum.
"Theo, kembalilah ke lobi. Berjagalah di sana. Aku akan istirahat sejenak di kamarku." Khaisan bersiap keluar dari lift.
"Kamu tentu aka menjumpai Cut Ha, Boss?" tanya Theo meledek.
"Tentu saja setelah kubersihkan diriku dan aku sudah terlihat tampan lagi, Theo," ucap Khaisan yang sedikit tersenyum.
"Huh, bucin. Hatimu masih saja berbunga-bunga." Theo melagak bersungut.
"Kembalilah ke lobi, Theo," ucap Khaisan. Sambil tangannya memencet tombol lift.
Pintu besi yang membelah itu kembali menyatu, menutup penampakan Theo di dalamnya. Yakin jika Theo akan meluncur ke bawah kembali.
Khaisan bergegas menuju kamar dan tidak melewati aula. Namun, memilih jalan tercepat di teras balkon depan kamarnya.
Khaisan melakukan segalanya dengan cepat. Tidak ingin menunda lebih lama untuk mendatangi Cut Ha di kamarnya. Ingin mengajak keluar menghirup hawa segar. Sudah dibayangkan jika Cut Ha pasti merasa jenuh telah mendekam lama dalam kamar.
Ceklerk
"Assalamu'alaikum, Cut," sapa Khaisan akhirnya. Setelah merasa tidak puas jika hanya saling pandang.
"Wa'alaikumsalam. Khaisan,,??!" seru Cut Ha tertahan. Bahagia hatinya sudah meluah hingga naik dan terbaca di wajahnya.
Khaisan menerobos masuk dengan menyambar tangannya. Membawa Cut Ha ke dalam kamar yang pintu sudah terkunci sendirinya.
"Ah, Cut," bisik Khaisan di sela erat pelukannya.
"Kha, aku sangat rindu. Lama sekali pergimu, ke mana saja sebenarnya kamu?" ucap Cut Ha sambil memeluki Khaisan. Rasanya ingin tenggelam saja di badan besar yang beraroma wangi itu. Rasanya sangat hangat dan liat.
"Apa ada kabar? Andres mencarimu?" tanya Khaisan sambil menciumi dalam rambut di kepala kekasihnya.
"Aku tidak tahu apa saja yang dilakukan Andres. Aku tidak pernah keluar sekali saja. Theo pun benar-benar melarangku. Hanya ponselku yang terus berdering, banyak panggilan masuk darinya. Seluruh chat dan pesan, adalah darinya. Semua berisi ancaman. Aku takut sekali pada Andres. Untung Theo sering memantauku. Kamu sebenarnya ke mana?" tanya Cut Ha dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca bahagia.
"Sementara jangan membahas ke mana pergiku, Cut. Yang jelas, aku pergi demi mengurusi kebebasanmu dari Andres. Aku sudah bilang padamu, kan?" ucap Khaisan.
"Iya,, dan kamu berhasil, Khaisan. Andres baru saja mengirim pesan. Surat cerai akan segera diurusnya. Sebentar lagi aku bebas. Aku tidak menyangka dia akan semudah itu melepasku,, aku sangat lega," ucap Cut Ha tambak lega dan bahagia. Dipeluknya Khaisan dengan erat.
"Benarkah, Cut??" tanya Khaisan terkejut. Tidak menyangka secepat iitu. Tiba-tiba sangat ingin menjumpai Philips, lelaki itu berkata bukan hanya isapan jempol dan bibir saja. Khaisan sangat iba dengan jalan hidup yang terlanjur Philips pilih.
"Lihatlah," ucap Cut Ha sambil menyodorkan ponsel pada Khaisan.
"Benar, Cut. Alhamdulillah, jalan kita telah lapang," sahut Khaisan setelah membaca seluruh pesan dari Andres. Isi pesan sama sekali bukan lagi ancaman. Justru terkesan rela dan seperti permintaan maaf. Khaisan semakin ingin menemui Philips.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan keluar, Cut?" tanya Khaisan sambil melonggarkan pelukan. Cut Ha langsung menengadah wajah penuh binar.
"Aman? Sudah seperti setahun aku tidak keluar dari ruangan ini. Aku sangat bosan, Kha," sambut Cut Ha bergembira.
"Bersiaplah, kutunggu di luar," ucap Khaisan.
"Kenapa di luar?" tanya Cut Ha terheran.
"Aku khawatir tidak sanggup mengendalikan diri kali ini. Aku sangat rindu padamu," bisik Khaisan dengan mata yang redup. Lalu berbalik cepat menuju pintu dan keluar. Meninggalkan Cut Ha yang masih memandangnya dengan mata yang selalu berbinar. Ucapan Khaisan sama juga dengan apa yang tengah dirasakannya.
Cut Ha tidak lama bersiap. Telah keluar kamar dan kini berjalan bersama Khaisan. Rasanya bahagia dan seperti mimpi saja. Sudah sedemikian lama tidak berjalan bersama Khaisan di hari yang terang benderang, dua tahun lebih!
"Cut, kamu kenal Philips?" tanya Khaisan sambil terus berjalan. Cut Ha menolehnya heran.
"Kenapa? Philips adalah pria seribu wajah," ucap Cut Ha.
"Maksudmu apa, Cut?" tanya Khaisan tidak paham.
"Dia pria aneh, lebih aneh dari Andres. Suka sekali bertukar wajah. Jika hari ini kamu merasa kenal, bisa jadi saat bertemu kalian sudah tidak saling mengenali. Wajahnya sering berubah," ucap Cut Ha menjelaskan.
"Dia operasi wajah?" tanya Khaisan.
"Itu yang aku tidak paham. Entah operasi, atau dengan topeng silikon elastis. Aku tidak paham, yang kutahu, dia bukanlah lelaki baik. Sama dengan pacarnya, Andres," ucap Cut Ha seperti emosi. Meluahkan rasa tertekan selama hidup seatap dengan Andres. Khaisan menggenggam tangan Cut Ha dengan lembut dan hangat. Ingin memberi kekuatan dan semangat.
Sedang perasaan Khaisan terasa bergolak. Merasa miris memikirkan kehidupan Philips yang tidak memiliki ketenangan. Menilai jika Philips terlalu mengejar kehidupan dunianya. Sedang akhirat diabaikan tanpa sedikit saja diingatnya.
πΈπΈπππΈπΈ