The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
30. Lambat



Kurir paket yang ditunggu Cut Ha dengan harap-harap cemas baru saja undur diri. Dua paket kecil di tangan erat digenggam dan akan dibawa ke dalam kamarnya.


"Cut Ha, apa itu?!" seru Khaisan yang mendadak muncul di pintu kamarnya.


Cut Ha berdiri di tempat dengan rasa kikuk. Perkiraan dan harapan agar Khaisan sedikit lama bersiap untuk shalat Jum'at di dalam kamar, seketika serasa ambyar. Kepala indah itu sedang berpikir dengan cepat.


"Ini, aku beli online pakaiann dalamm," sahut Cut Ha buru-buru. Tidak ingin Khaisan mendekat dan mengambil paketnya.


"Bukalah dulu!" seru Khaisan dengan berjalan mendekat.


"Ini aku beli yang steril siap pakai. Ini mau kupakai sekarang!" seru Cut Ha sambil memburu pintu kamar dengan cepat. Berhasil masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan cepat. Cut Ha sangat menghindari rampasan Khaisan pada paket miliknya.


Sejak ada Khaisan, belanja online Cut Ha yang datang dalam bentuk paket dan kemasan, lelaki itulah yang membuka. Cut Ha tak habis pikir dengan tugas Khaisan yang telah merambah ke hal milik pribadi. Tapi Cut Ha juga tak ada daya menolak. Khaisan seperti sang ayah yang tak mampu dibantahnya.


Paket yang satu berisi bius spray dan yang satu berisi pisau lipat super tajam, kini sudah aman tersimpan dalam tas. Bius spray dan pisau lipat yang telah dikirim dari negara Singapura atas orderan mendadaknya pagi-pagi.


Cut Ha akan menemui Felix siang ini seperti yang diminta lelaki itu subuh tadi. Jumat tengah hari, adalah batas maksimal yang ditentukan lelaki gila itu padanya.


Bukan tidak ingin membagikan masalah berat yang sedang ditanggungnya pada Khaisan. Tapi Cut Ha begitu takut menanggung resiko jika mengatakannya pada lelaki itu. Jujur saja, Cut Ha masih menyimpan sisa rasa takut dan curiga pada Khaisan. Bukan tidak mungkin jika sang pengawal diam-diam telah berkhianat padanya.


Cut Ha percaya dengan Felix yang mengatakan memiliki seorang mata-mata. Hal itu terbukti saat Felix tahu jika dirinya pergi berjumpa dengan Andres semalam. Lelaki gila itu bahkan juga tahu jika semalam tidur sangat larut setelah makan nasi goreng bersama Khaisan di rumah.


Cut Ha benar-benar dilanda ketakutan yang dahsyat. Antara percaya dan tak percaya pada Khaisan, sang pengawal pribadi yang belum terlalu dimengertinya.


Cut Ha keluar kamar bersamaan Khaisan yang juga berdiri di pintu kamar seberang. Lelaki itu sudah sangat rapi dengan baju koko dan peci. Yang kali ini tidak memakai celana panjang. Tetapi Khaisan mengenakan sarung bergaris hitam dan merah berselingan. Khaisan terlihat sangat tampan siang ini.


"Cut, dua jam ini kamu di rumah saja. Jangan ke mana-mana. Saat free timeku habis, aku akan segera kembali," ucap Khaisan meninggalkan pesan untuk Cut Ha. Wanita itu nampak termangu mangu mendengar pesannya.


"Kamu akan ke mana? Apa menjumpai teman atau bertemu dengan orang tuamu??" tanya Cut Ha dari depan pintu kamarnya.


"Bertemu ortuku. Kamu tidak marah tanpa kubawa??" tanya Khaisan sambil membenarkan posisi peci di kepalanya.


Lelaki itu tidak lagi berkalung sorban. Cut Ha ingat jika kain penutup kepala punya Khaisan, sedang tersimpan aman di almarinya. Lelaki itu tidak mau dikembalikan, tetapi ingin sering-sering saja dipakai. Tentu saja Cut Ha tidak ingin. Sedang stok kerudung asli punyanya banyak sekali.


"Siap sudah kopi kamu, pengawal Khaisan!" ucap Mariah. Kopi berkebul asap itu baru diletak Mariah di meja.


"Kamu tidak makan denganku?" tanya Cut Ha yang juga sudah duduk di meja makan. Area dapur dipenuhi aroma Khaisan yang wangi.


"Tidak, Cut. Ketua agensiku akan memberiku makan sehabis Jumat. Aku buru-buru." Khaisan berbicara sambil menatap Cut Ha yang sedang menerima piring dan sendok dari Mariah untuknya. Lalu menunduk pada kopi panasnya dan mulai menuang ditatakan berulangkali hingga habis. Tinggal sisa ampas kopi di dasar gelas yang tak mungkin dituang.


"Mariah, jaga nonamu! Jangan bolehkan dia pergi ke manapun!" Khaisan berdiri dari kursi dengan berpesan pada Mariah yang berdiri di samping meja. Gadis eksotis dan mungil dengan rambut keriting itu sedang menuang air putih di gelas untuk Cut Ha.


Cut Ha nampak tertegun memandang Khaisan. Mendengar pesan Khaisan barusan, Cut Ha berpikir tidak mungkin Khaisan memberi larangan keluar bahkan juga berpesan pada Mariah, jika dirinya bekerja sama dengan Felix. Lalu siapa mata-mata yang bekerja sedemikian detail pada Felix. Isi dalam kepala Cut Ha berputar cepat nemikirkan.


"Aku pergi dulu, Cut!" pamit Khaisan. Memandang Cut Ha sejenak dan kemudian berjalan cepat menuju pintu. Lelaki itu telah menghilang dari pandangan matanya.


Tidak ingin bimbang lagi, Cut Ha cepat berdiri dan memburu pintu ingin menyusul sang pengawal. Ingin membicarakan ancaman si gila Felix, sekaligus menanyakan huhungan Khaisan dengan Felix.


"Pengawal Kha!!!" seru Cut Ha memanggil Khaisan yang hampir masuk ke dalam taksi di depan pagar. Lelaki itu berbalik dan memandang ke arahnya.


"Ada apa?!" tanya Khaisan berseru dari pintu taksi.


"Aku ingin bicara sebentar saja!" sahut Cut Ha sambil berjalan mendekat.


"Tidak bisa, Cut. Aku buru-buru. Aku tidak ingin tertinggal!" sahut Khaisan dengan gelagat akan masuk ke dalam taksi.


"Sebentar saja, pengawal Kha!" sahut Cut Ha mencoba menahan.


"Tunggu aku kembali saja, Cut! Aku segan dengan para tetua di masjid! Masuklah ke dalam!" sahut Khaisan dengan tegas.


Cut Ha memandang putus asa taksi itu di tempat. Bahkan taksi telah bergerak maju dan melaju. Membawa sang pengawal yang sempat selalu dia ragukan dan sekarang benar-benar dia percayakan. Namun, telah pergi dan tidak ada sisa waktu lagi untuk mendengar luahan masalahnya.


Bukan salah Khaisan jika ibadah wajib Jumat itu lebih dipentingkan daripada wanita hina sepertinya. Salah sendirilah yang terus memiliki rasa buruk sangka pada lelaki itu hingga batas akhir yang diminta.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ