The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
42. Cut Ha Mengikut



Meski Khaisan sudah menjadi pria dewasa, keberadaan orang tua juga jauh, tetapi cukup mendapat perhatian terutama segi keuangan dan fasilitas. Namun, Khaisan adalah lelaki cerdas yang tidak terlena pada segala kemudahan dan kelonggaran yang diberikan orang tua. Khaisan adalah pria dewasa yang berpikir matang demi masa depan dan tuanya.


Dengan kemeja panjang warna navy, hampir semua kemejanya berwarna gelap antara hitam dan navy, Khaisan keluar kamar dengan hati yang senang. Akan berjumpa dengan kedua orang tua yang sudah lama tidak saling bertemu membuatnya bersemangat.


Hanya sata ganjalan yang agak memberatkan hatinya, orang tua yang ditunda dijumpai itu sedang membawa lagi seorang wanita untuknya. Meski mereka tidak pernah memaksa Khaisan agar menerima wanita yang disodorkan, itu cukup nembuat beban tersendiri baginya.


Kedua orang tua, terutama sang ibu, sangat getol mencari pandangan siapa wanita betikut yang layak dibawa kepada putranya kembali. Ibarat patah dua tumbuh tiga, dan seperti itu terus selanjutnya. Sang ibu tidak pernah pantang menyerah. Tapi justru membuat si anak lelaki menjadi merasa jengah.


Cejklek!


Khaisan keluar dari pintu kamar dengan terkejut. Cut Ha juga sedang menutup pintu kamar hampir berbareng dengan dirinya. Cut Ha telah berubah penampilan dan kostum. Mereka saling pandang di pintu kamar masing-masing yang berseberangan.


Bukan hanya make up tipisnya yang membuat Cut Ha tampil lain. Tapi telah bertukar kostum dengan dress panjang atau gamis modis beserta hijab yang dipasang model milenial yang indah. Cut Ha terlihat sangat cantik bagai dewi.


"Cut,,?" sebut Khaisan dengan canggung. Cut Ha menatap lekat dan melempar senyuman. Wanita jelita itu terlihat semakin menawan.


"Mau ke mana kamu? Bukankah sudah kuminta menungguku dulu sebentar?" tanya Khaisan dengan berusaha bersuara tenang.


"Aku juga ingin keluar menjumpai orang, sama hal denganmu, pengawal Kha." Cut Ha berkata datar dan berjalan meninggalkan Khaisan.


"Siapa orang yang akan kamu temui? Di mana kalian bertemu, Cut?" desak Khaisan dengan berjalan menyusul di belakang Cut Ha. Ada rasa resah andai Cut Ha pergi menemui orang lain tanpanya.


Tiba-tiba Cut Ha berhenti melangkah dan berbalik.


Bughh..


Khaisan yang tidak menyangka jika Cut Ha akan bertindak begitu, merasa tidak tahu. Maka terjadilah benturan dua badan yang tidak mungkin lagi dielakkan.


"Aduh,," keluh Cut Ha sambil memegangi dahinya. Segera tegak berdiri dan mundur satu langkah dari Khaisan.


"Eh, sorry, Cut. Aku tidak tahu jika kamu akan berbalik tiba-tiba. Aku berjalan buru-buru," ucap Khaisan tanpa ingin menyalahkan tingkah Cut Ha.


"Eh, tidak. Akulah yang salah," sahut Cut Ha dengan bingung. Kini tidak lagi memegangi dahi, tetapi membenarkan lengkung kain kerudungnya.


"Sebenarnya kamu ini mau ke mana? Apa akan bertemu dengan Velingga?" tanya Khaisan yang tidak lupa dengan muasal perbincangan mereka.


"Tidak, aku sedang tidak ingin bertemu dengan Velingga saat ini," sahut Cut Ha membantah.


"Lalu jumpa dengan siapa, Cut? Sampai kamu harus memakai kerudung?" tanya Khaisan dengan heran. Cut Ha lekat menatapnya.


Sebenarnya Khaisan terkejut. Namun, tiba-tiba merasa tersentuh dan iba. Tidak tega menolak. Mendadak Khaisan ingin tertawa, namun ditahan mulut dan bibir untuk tidak menampakkan giginya.


"Kenapa kamu pakai hijab jika hanya ikut denganku, Cut?" tanya Khaisan dengan tanpa ekspresi. Tidak ingin membuat Cut Ha kecewa dengan tawanya.


"Aku pikir, aku harus nampak sopan. Untuk menghargai keluarga kalian. Agamamu terlihat baik sekarang, pengawal Kha. Apa orang tuamu tidak?" Cut Ha menyampaikan alasannya dengan terus terang.


"Maksudmu bagus sekali, Cut. Baiklah, ayo, ikutlah denganku," sambut Khaisan kemudian. Tidak ingin menjelaskan detail bagaimana orang tuanya pada Cut Ha. Memilih agar wanita cantik itu sendiri yang menilai.


"Apa kamu tidak memiliki janji bertemu dengan calon pembeli?" tanya Khaisan setelah mereka berada dalam mobil dan mulai meluncur.


Khaisan merasa Cut Ha tidak lagi nampak promosi atau pun mengendorse sendiri prodak barang yang dijual di toko. Serta tidak lagi menemui calon pembeli besar dan partai di tokonya.


"Tidak ada. Aku sedang tidak mood. Sementara segala urusan kuserahkan pada menager toko," jelas Cut Ha. Wanita yang anggun berkerudung itu sedang sibuk dengan layar ponselnya. Khaisan pun terdiam, tidak lagi bertanya.


Perjalanan yang ditempuh Khaisan terasa lancar dan aman. Kondisi jalan raya tidak padat dan sedikit leluasa. Sebab bukan jam berangkat atau jam pulang kerja, jalanan terasa sangat kondusif dilalui.


"Pengawal Kha, boleh aku bertanya?" Cut Ha memecah senyap pada Khaisan.


"Ada apa, Cut?" tanya Khaisan menoleh. Hanya sebentar, lalu kembali membuang matanya di jalanan.


"Kemarin, pas aku dibawa Felix, kenapa kamu selalu bisa mengejar?" tanya Cut Ha. Ponselnya telah dimasukkan ke dalam tas.


"Aku melacak nomor kamu, kamu pun paham itu. Yang terakhir, kulihat taksi yang membawa kalian di cctv rumah inap Te Ka. Lalu kupergi ke perusaahan taksi yang dipakai Felix membawamu. Dari sanalah aku mendapat jelas ke mana taksi mereka membawa kalian. Setiba di hotel, kalian tidak ada."


" Tidak lama, aku mendapat telepon dari pekerja di Home Stay Te Ka, jika kalian sudah kembali ke sana dan menempati rumah Felix," jelas Khaisan dengan detail.


"Kamu pergi menyusulku tidak dengan mobil ini?" tanya Cut Ha dengan melirik Khaisan sejenak.


"Mulanya memang kupakai mobil ini. Tapi setelah di perusahaan jasa taksi, aku dibawa taksi dan mobil ini kuminta dikembalikan mereka ke rumahmu, Cut," terang Khaisan sebenarnya. Cut Ha yang serius mendengar, nampak lega dan menghempas nafas panjang.


" Jadi begitu. Terimakasih, pengawal Kha." Cut Ha berbicara dengan sepenuh jiwanya yang bersyukur.


"Iya, Cut. Tapi ingat, jangan sekalipun mengulangi. Apapun, bicarakan denganku. Atau jika kamu sudah menikah, bicarakan segala masalah dengan suami kamu terlebih dulu, Cu."


Khaisan sudah memberinya nasihat terbaik dan itu benar sekali. Tapi demi mengingat pesan Khaisan pada kalimat yang terakhir, rasanya sangat tidak nyaman dan seperti terasa menyiksa.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ