The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
31. Cut Ha



Ponselnya benar-benar terus berkedip menyala setelah diatur ke dalam mode senyap setengah jam yang lalu. Tidak tahan dengan dering panggilan dari Felix yang terus mendesak dan mengancam.


Felix tidak main-main. Bahkan akun miliknya yang hampir sepuluh tahun lalu dan Cut Ha telah lupa sandi, Felix membajaknya. Tiba-tiba muncul di notifikasi baru bahwa Cut Ha telah update postingan pribadi dengan foto-foto syur saat dirinya masih gadis dan belia.


Felix masih mengatur ke mode postingan pribadi dan terkunci. Cut Ha percaya jika Felix cukup lihai bidang IT dan tentu ada bakat juga sebagai seorang hacker. Lelaki itu mengancam jika Cut Ha tidak keluar, postingan terkuncinya dengan mudah akan muncul di muka halaman media sosial di seluruh jagad raya.


Rasanya sangat cemas dan was-was. Apalagi jika Felix menyebar foto-foto di akun miliknya dan Dias. Sangat takut andai Dias mengambil jalan pintas sebab tidak kuat menahan aibnya yang disebar sang suami sendiri. Dias memiliki perasaan yang jauh lebih sensitiv darinya.


Ponselnya kembali berkedip menyala terang, tetapi bukanlah panggilan masuk. Hanya pertanda adanya pesan masuk.


Cut Ha segera menyambar ponsel dan membacanya. Merasa habis sabar tapi juga simalakama. Felix kembali memberinya gertakan dan ancaman. Menulis pesan jika ada orang suruhan yang kini sudah berada di toko orang tuanya di kota Nagoya pusat.


Bersiap menunjukkan segala foto pada orang tuanya di toko saat ini. Foto aib dari beberapa akun lama milik Cut Ha yang Felix berhasil korek dan telusuri dengan skillnya yang sesat.


Cut Ha begitu gelisah. Waktu sembilan puluh menit yang dirasa paling lama selama ini. Khaisan akan kembali satu setengah jam lagi. Sudah tiga puluh menit berhasil diulurnya waktu demi menunggu kedatangan Khaisan.


Ponselnya kembali berkedip, yang kali ini adalah panggilan masuk dari Felix. Diangkat oleh Cut Ha sebab merasa risau yang sangat andai Felix benar-benar menunjukkan foto-foto aibnya pada ayah dan ibunya. Yakin jika sang ibu yang sedang menderita jantung lemah tidak akan kuat melihat foto-foto kegilaan Cut Ha saat dulu.


"Bangsat kau, jangan usik orang tuaku! Felix, Kau gila!!" jerit Cut Ha begitu telpon itu dia angkat. Rasanya begitu susah berkata-kata sebab rasa panik, takut dan marah.


"Terserah, Ke! Aku kamu maki psikopat pun, tidak peduli. Keluarlah!!" Felix membentak Cut Ha di telepon.


"Tidak sudi!" Cut Ha menyembunyikan rasa takut dan panik. Cut Ha juga tidak tahu menahu ke mana Felix akan membawanya pergi kemudian. Lelaki gila itu hanya menyuruh keluar dari toko dan masuk ke taksi bersamanya.


"Tiga menit, Ke. Aku ada di depan toko. Masuklah ke taksi, kutunggu. Tiga menit habis, kamu tidak masuk taksi, kupastikan orang tuamu kejang-kejang! Terutama ibumu!" seru Felix dengan dingin di telepon.


"Jangan usik mamaku!" pekik Cut Ha sangat panik.


"Cepat, tiga menit sudah berjalan! Habis waktumu, habis juga mamamu!" ujar Felix kian mengancam. Darah di tubuh Cut Ha serasa menumpah di ubun dan jantung. Rasanya panik dan takut sekali mendengar ancaman Felix yang barusan. Sang mama adalah segalanya baginya. Cut Ha merasa tidak lagi punya pilihan.


Cut Ha mengambil tas yang dari tadi sudah disiapkan dan akhirnya berguna juga saat itu. Kembali menyambar ponselnya dan menyelipkan juga di dalam tas. Keinginan menghubungi Khaisan ditepisnya. Takut jika tiga menit akan berjalan lebih cepat.


"Nona Cut Ha! Akan ke mana anda?!" seru Mariah dari dapur dan mendekat menyongsong. Cut Ha juga segera mendekati Mariah dan berbisik di telinganya.


"Mariah, ada hal penting yang harus kuurus. Jika pengawal Kha datang. Mintalah melacak ponselku di mana. Aku sedang bersama Felix," ucap Cut Ha pada Mariah dengan lirih berbisik.


"Felix?!" seru Mariah dengan cepat.


"Hussh, jangan bicara lagi Mariah!" bisik Cut Ha dengan cepat.


"Mariah! Kunci pintu ini!" ucap Cut Ha menyeru Mariah yang sedang kebingungan memandang perginya.


Kepala Cut Ha sudah dipenuhi rasa cemas dan takut. Sangat waswas dengan waktu tiga menitnya yang bisa saja akan dihabiskan Felix sesukanya. Cut Ha pun tidak lupa jika Felix memiliki mata-mata. Perasaan dan kepala Cut Ha sudah tertup oleh rasa panik dan takut.


πŸ•Έ


Sang Khatib membawakan khutbah Jumat kali ini lebih panjang. Demikian juga kepala agensi pengawalan, Kyai Yusuf cukup lama mengajaknya berbincang sambil menikmati sepiring nasi dan sayur urap serta telur dadar bertabur kerupuk ikan.


Perbincangan kali ini Khaisan rasa begitu lama dan panjang. Rasa khidmat setiap berbincang dengan sang kepala agensi, terasa berkurang kali ini. Pesan dari kepala agensi agar berhati-hati dan tidak lupa mengendalikan diri, diiyakan sang bodyguard dengan perasaan yang hambar.


Kyai Yusuf tidak lupa jika Khaisan menjaga seorang wanita mempesona dan lajang. Mewanti-wanti pada Khaisan agar tidak terperdaya dan juga terlena. Kepala agensi tidak ingin Khaisan kembali mengulangi kesalahannya tempo dulu.


Bodyguard gagah itu hanya mengangguk mengiyakan tidak fokus. Sedikit abai andai kepala agensi sedang menyelami isi hati dan kepalanya. Sedang kepala Khaisan terus terbayang wajah Cut Ha saat memohon berbincang sesuatu padanya. Perasaan Khaisan sangatlah tidak tenang. Merasa resah dan gelisah yang tidak jelas hanya sebab tersebut nama Cut Ha.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ