
Cut Ha dan Khaisan telah tenggelam kembali dalam aktivitas panas bergelora. Saling pagut, saling peluk dan saling menggulung di atas ranjang demi meluruh hasrat bersama. Meluah rasa dan rindu menggebu yang terpendam di kalbu. Hingga baju mereka berantakan dengan cover ranjang yang sudah berserabut dan tidak jelas lagi bentuknya.
Namun, bukan redam hasrat yang didapat, justru kian tersulut api gairah di raga. Ingin lebih dan lebih dengan tidak ada puasnya.
"Emh,,," Cut Ha melenguh saat Khaisan sedikit merenggang darinya.
"Apa seperti ini sudah cukup?" tanya Khaisan terengah. Meski serasa kalap, masih sadar akan batasan.
Dipandangnya Cut Ha yang menggeleng dengan wajah memerah dan tampak lebih cantik. Ingin sekali rasanya melakukan apapun yang dihasratkan pada wanita itu. Namun, itu akan membuatnya diberati puncak dosa dan hukuman.
"Belum cukup. Aku ingin minta sesuatu darimu," ucap Cut Ha mengambang dengan deru nafas yang engah. Pandangannya sungguh redup dan sayu pada Khaisan.
"Apa itu?" tanya Khaisan berdesis. Sebelah tangannya kembali menjelajah di raga Cut Ha, sejauh tangan itu meraba di balik baju tidurnya. Menghempas hasrat yang masih terasa menggumpal.
"Pengawal Kha, aku ingin hamil," ucap Cut Ha dengan tegang. Mata indah dan sembab itu sedang membulat dan membesar. Sesekali menggeliat sebab geli. Khaisan terus menggerayangkan tangannya.
"Kamu pasti hamil setelah menikah nanti, Cut. Kamu adalah wanita yang sempurna," ucap Khaisan dengan ekspresi yang muram.
"Tidak, bukan setelah menikah. Aku ingin mengandung anakmu, anak darimu, pengawal Kha. Kumohon padamu," rengek Cut Ha dengan tatap serius berharap.
Wajah Khaisan yang tadi muram, kini kaku dan tidak berkedip sesaat. Bodyguard dengan baju yang sudah compang camping berantakan itu terkesiap. Meski sudah menduga, tapi masih merasa terkejut.
"Jangan sesat terlalu jauh, Cut. Itu tidak akan termaafkan. Kita jangan keterlaluan berkhianat pada calon suamimu. Cukup membuat dosa besar seperti ini saja, jangan mengajak lebih lagi, Cut," ucap Khaisan dengan lembut. Tangannya tidak lagi bergerilya, namun membelai sayang rambut Cut Ha.
"Aku siap menanggung resiko dan dosa itu, Khaisan. Berilah aku kenangan sekali saja untuk hiburan hidupku hingga kelak. Aku ingin memiliki anak darimu," Cut Ha merengek dan tidak peduli lagi dengan yang namanya harga diri.
"Maafkan aku, Cut. Aku dan kamu itu tidak sama. Jika kulakukan seperti itu, aku akan dihukum berat. Selain hukuman berat yang tidak ingin kutanggung, aku tidak mungkin membiarkan anakku dihidupi lelaki lain. Kuharap mengertilah, Cut," jelas Khaisan dengan memeluk Cut Ha lagi dengan erat.
"Lagipula, itu pasti akan menyakitkan bagi seorang suami jika anak yang dilahirkan istrinya sama sekali tidak mirip dirinya. Juga daripada kamu akan menyesal nantinya. Sekarang kamu tidak suka dengan suami kamu. Namun, lambat laun kamu akan ikhlas jiwa raga pada suami kamu," jelas Khaisan dengan lembut, tidak ingin Cut Ha kehilangan semangat dan kembali menangis.
"Tidak mungkin, aku tidak bisa,," sanggah Cut Ha dengan sedih.
"Kenapa tidak mungkin? Apa dulu kamu langsung suka padaku?" tanya Khaisan dangan wajah kembali muram.
"Ah, pengawal Kha. Jangan seperti itu, kamu tega sekali. Apa kamu pun berpikir akan menyukai wanita lain dengan sangat mudah?" tanya Cut Ha.
Khaisan tidak menyahut. Hanya memandang Cut Ha dengan tatapan muramnya. Kembali dipeluknya Cut Ha dengan hangat. Cut Ha pun membalasnya.
"Kenapa kita tidak berani berlari jauh? Kamu takut dengan agensimu, sedang aku juga tidak tega dengan orang tuaku. Tapi andai kamu memaksaku dan membawaku pergi, aku bersedia. Kenapa kamu tidak berani, pengawal Kha?" tanya Cut Ha dengan nada sedihnya.
"Aku bukan tidak berani, aku juga tidak takut, Cut. Tapi aku sudah bersumpah dengan instansi pengirimku, juga bersumpah di hadapan Tuhanku. Bertanggung jawab dunia akhirat dan jiwa raga akan pekerjaanku. Aku tidak ingin merusak nama baik instansi kami. Ini benar-benar tidak mudah, Cut. Mungkin lain cerita jika aku bertugas tidak atas nama agensi," terang Khaisan perlahan.
"Jadi, kamu benar-benar tidak akan melarikanku pergi? Juga tidak sudi menghamiliku?" tanya Cut Ha memperjelas. Tangannya bergerak memegang dada lebar Khaisan yang sudah terlepas kancing-kancing kemejanya. Juga menampakkan perut berpetak-petaknya yang keras.
"Maafkan aku, Cut. Jujur aku sangat menginginkanmu, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu padamu. Sebab juga, aku masih menghargaimu dan keluargamu," ucap Khaisan demi memperjelas alasannya.
Cut Ha membalas pelukan Khaisan lebih erat sejenak. Kemudian tiba-tiba menjauh untuk bangun dan duduk. Merapikan baju tidur dan menautkan seluruh kancingnya lagi dengan tergesa. Lalu melorot turun dari ranjang melewati bawah kaki Khaisan.
"Kamu akan pergi ke mana, Cut?" Khaisan ikut bangun dan berdiri.
Ternyata tidak bisa menerima penolakan Khaisan begitu saja. Meskipun Khaisan sudah menjelaskan cukup panjang. Cut Ha masih saja merasa kecewa dan terhina. Beranggapan jika Khaisan tidak ingin menghargai niatnya.
"Cut," panggil Khaisan dengan cepat telah menghadang Cut Ha di pintu.
"Menepi, aku ingin keluar," ucap Cut Ha.
"Jangan kembali ke kamarmu, Cut. Kamu sudah sampai di sini. Tetap di sini denganku. Kembali ke kamarmu esok pagi," ucap Khaisan yang mendadak tidak rela Cut Ha pergi dari kamarnya. Lelaki dengan kemeja terbuka itu tampak gelisah. Sebenarnya sangat berat dan tidak ingin mengecewakan perasaan Cut Ha.
"Aku,, aku harus kembali ke kamarku, Khaisan,," ucap Cut Ha terdengar bimbang.
"Malam hanya beberapa jam saja berakhir. Kita habiskan sisa malam ini bersama. Pagi-pagi akan kuantar ke kamarmu. Ayolah, Cut," ucap Khaisan membujuk. Sebenarnya tidak ingin jika Cut Ha akan mengingat dirinya dengan kenangan yang buruk.
Cut Ha membiarkan Khaisan memegang tangannya. Pasrah mengikuti Khaisan yang membawanya kembali ke ranjang dan mendudukkan di sana.
"Minumlah, Cut," ucap Khaisan sambil mengulurkan sebotol air tawar. Cut Ha pun meneguknya dengan banyak, rasa mulutnya memang sangatlah dahaga.
Khaisan meletak kembali botol itu di meja setelah Cut Ha mengulur kembali padanya. Tetapi diambil lagi untuk diminum sendiri hingga habis. Khaisan pun merasa haus yang sangat.
"Aku ingin menjagamu untuk yang terakhir kali Tidurlah," ucap Khaisan. Tetapi Cut Ha menolak saat akan direbahkan.
"Aku ingin ke kamar mandi sebentar," pamit Cut Ha sambil berdiri.
"Iya, Cut," sahut Khaisan dengan lega. Sempat mengira jika Cut Ha bersikeras kembali ke kamar.
Khaisan mengikuti Cut Ha pergi ke kamar mandi dengan siaga. Bersikap seperti bodyguard saat menjaga Cut Ha di rumah tokonya. Rasanya sangat sesak mengingat saat itu.
"Tunggu di sini, aku juga akan ke kamar mandi sebentar," pamit Khaisan. Cut Ha telah rebah dan diselimuti rapat hingga dada. Mata indah dan sembab itu berkedip-kedip memandang perginya.
Saat Khaisan kembali dari kamar mandi dengan waktu lebih lama dari Cut Ha, dilihatnya wanita itu sudah hampir tertidur. Namun, dengan susah payah dibuka matanya lagi demi merasa Khaisan naik ke ranjang bersamanya.
"Tiba-tiba aku mengantuk sekali, juga sangat lelah. Temani aku, pengawal Khaaa......" Cut Ha memejam mata bersama selesai bicaranya.
"Aku pun sudah sangat mengantuk, Cut. Maafkan, aku. Kita akan tidur bersama dengan lelap malam ini," sambut Khaisan dengan rasa mengantuk yang hebat.
Merasa bersalah namun sudah yakin dilakukan. Minuman tawar dalam botol adalah miliknya yang sudah bercampur obat tidur.
Khaisan terpaksa meminumnya saat malam jika merasa sangat lelah namun tidak mengantuk. Sedang dirinya tidak sedang berjaga dan bertugas. Khaisan merasa perlu meminum obat tidur meski sangat terpaksa. Demi mengistirahatkan diri dari segala resah dan lelah.
Yang sekarang, Cut Ha pun telah diberinya obat tidur diam-diam. Mengakui jika ini adalah salah, jahat atau pun berbahaya. Namun, Khaisan merasa perlu melakukannya. Demi mencegah nafsu hasrat, baik dari Cut Ha atau pun dirinya.
Juga ingin agar Cut Ha tidur dengan nyaman dan mudah. Yakin jika Cut Ha pun sangat kurang istirahat, sebab terlalu banyak berpikir dan menangis.
Khaisan telah merebah menyusul Cut Ha berselimut. Mengambil tubuh Cut Ha dan dipeluk hangat di dadanya. Tidak ada reaksi apapun di wajah cantik itu. Nampak tenang meski ada sedikit kernyit di dahinya.
Khaisan pun telah lelap dengan perasaan yang gusar. Meski pintu di ujung lorong telah dia amankan, juga alarm subuh pun telah disiagakan, tetap ada debar dan resah yang dirasa. Namun, mata sang bodyguard terus terpejam dengan rapat.
πΈπΈπππΈπΈ