
Khaisan telah pergi keluar dengan cepat meninggalkan Cut Ha yang termangu-mangu memandang. Berjalan memutar dan membuka pintu sebelahnya. Lalu berdiri tegak demi menunggu Cut Ha hingga keluar.
Khaisan bersikap seolah tidak berbicara apapun sebelumnya. Juga seperti abai jika ucapannya telah mengguncang hebat perasaan wanita jelita yang dijaga. Hanya berdiri tegak dengan pandangan lurus bersiaga. Cut Ha masih juga di dalam dan belum juga menyembulkan diri keluar.
"Ada apa, Cut? Apa masih lama? Aku ingin segera ke kamar mandi, seperti tidak akan tahan untuk buang air!" seru Khaisan dengan pelan.
Khaisan terus berdiri tegak di tempatnya semula. Tidak ada suara yang menyahut dari dalam. Namun, Cut Ha nampak keluar tergesa dengan sikap yang canggung. Memandang Khaisan sekilas dan berpaling.
Cut Ha seperti malu dan salah tingkah sendiri. Khaisan melihat Cut Ha dengan raut yang tegang. Berjalan pelan membuntutinya di belakang dan saling diam tanpa percakapan.
"Nona Cut Ha! Pulang juga akhirnya, Anda?! Pergi ke mana saja satu harian bersama pengawal Khaisan, Anda nona Cut Ha?!"
Mariah memberi sambutan cukup riuh. Berbicara seru di depan pintu dengan menyingkir mundur sebab Cut Ha diikuti Khaisan, berjalan tergesa ke dalam rumah melewatinya.
"Hai, makan dululah anda dua orang! Masak sedap saya ini malam!" Mariah berusaha menahan Cut Ha dan Khaisan yang terus berjalan menuju kamar mereka di bagian dalam. Tidak singgah dulu di sofa atau juga di dapur seperti yang seringkali mereka lakukan.
"Nanti aku keluar lagi, Mariah. Aku akan mandi dan shalat Maghrib. Hari ini shalatku banyak lubang!" Cut Ha berseru membalas sapa Mariah.
"Kenapa bisa banyak hutang Anda, nona ?!" seru Mariah bertanya.
"Kerudung di kepalaku ini sangat rumit! Maaf, Mariah, jangan pernah meniruku!" sahut Cut Ha sambil terus berjalan.
Tidak lagi terdengar sahutan Mariah dari dapur. Mungkin asisten itu sedang merasa jika tenggorokannya sudah pedih. Atau memahami maksud Cut Ha yang merasa sulit melepas kerudung saat akan berwudhu.
Seperti biasa dan sudah diduganya, Khaisan akan terus mengikuti hingga di depan pintu kamar. Yang akan terus standby ada hibgga Cut Ha keluar dari kamar kembali.
Cut Ha telah di batas dalam kamar dengan gagang pintu yang masih dipegang. Merasa ragu untuk menutup begitu saja. Sedang dirinya sangat ingin berbicara dengan Khaisan. Namun, masih ingat jika sang pengawal sedang ingin pergi buang air kecil yang sangat.
"Pengawal Kha," sebut Cut Ha setelah membalik cepat badannya. Khaisan nampak terkejut dan memandang heran.
"Ada apa, Cut?" tanya Khaisan dengan mundur ke belakang selangkah. Mungkin Khaisan ingin menetralkan kagetnya yang masih tersisa.
"Tidak perlu bersiaga untukku. Istirahat saja dalam kamarmu. Jangan lupa makanlah dulu." Cut Ha berpesan dengan nada yang hangat. Memandang Khaisan dengan tatapan yang canggung.
"Kamu pun, Cut Ha. Habis maghrib keluarlah. Kutemani kamu makan malam. Makan malammu sudah lambat. Lagipula kasihan Mariah, dia sudah menyiapkan makan malam untukmu," ucap Khaisan dengan lembut dan tatapan yang redup. Seperti berusaha meyakinkan Cut Ha agar menuruti bicaranya.
Tidak sia-sia, Cut Ha pun mengangguk dengah kikuk."Iya, pengawal Kha," sahut Cut Ha singkat. Sepertinya masih kikuk untuk banyak berkata-kata pada Khaisan.
"Lekas. Maghrib cepat habis," ucap Khaisan dengan menggerakkan maju dagunya sedikit. Sambil dua ekor mata yang melirik ke dalam kamar. Cut Ha mengerti maksud ucapan Khaisan.
"Kututup." Cut Ha sempat berkata sebelum menarik dirinya lebih masuk lagi ke dalam kamar dan menutup rapat pintunya.
Begitu susah payah menjaga sikap, ekspreai dan wibawanya di depan Cut Ha. Lupa sedikit saja sudah luruh harga diri dan kendali. Seperti hal yang terlanjur diungkapnya di dalam mobil tadi dengan Cut Ha.
Khaisan sudah terlanjur membuka tabir hatinya dan mempertaruhkan harga diri. Teramat sadar jika pandangan jujurnya pada Cut Ha barusan, sama hal dengan ungkapan perasaannya pada wanita itu.
Khaisan bahkan seperti tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan. Berharap jik Cut Ha hanya mendengarnya sambil lalu. Juga tidak berharap jika ungkapannya membuat Cut Ha jadi resah dan bingung. Sedang drinyapun tidak tahu pasti, perasaan bagaiman yang sedang timbul di hatinya pada Cut Ha. Yang lebih parah lagi, ini adalah detik-detik wanita itu akan diikat lelaki pilihan sendiri dengan janji setia selamanya.
Yang pasti, Khaisan ingin menjaga Cut Ha sangat lama. Tidak rela untuk meninggalkan Cut Ha tanpanya. Merasa sangat senang mendampingi wanita itu ke manapun. Juga merasa tidak nyaman saat Cut Ha berjumpa gembira dengan Andres. Namun apa daya, dirinya hanya sekadar di posisi mengemban tugas sebagai seorang bodyguard.
Khaisan telah meloncat bangun dari ranjang dan melepasi kancing kemeja navynya. Tubuh bagus sempurna itu terlihat nyata dan ada. Tanpa lagi penghalang yang menutup di tubuh bagian atasnya.
Khaisan juga sudah melepasi celana panjang, menyisakan celana pendek tipis ternyaman dan favorit. Tidak ada lagi celanna dallam di baliknya. Yang tadi dipakai untuk berenang, telah dicuci dan ditinggal di kondominium milik mommy dan daddynya. Khaisan pergi masuk ke dalam kamar mandi dengan penampilan setengah polos yang menggoda.
πΈ
Mariah terus duduk di sebelah mengawasi saat Cut Ha dan Khaisan makan malam bersama dengan kursi berhadapan. Tidak ada percakapan di antara kedua orang itu di meja makan. Meski bagi Mariah nampak janggal, sebab sang nona hampir tidak pernah makan bersama sang bodyguard, tetapi Mariah membiarkan dan justru ikut duduk gabung menemani.
Gadis muda kecil itu coba mencairkan senyap dengan mendesak agar mereka menjawab telah pergi ke mana saja seharian. Mengaku jujur jika dirinya sangatlah penasaran dengan kepergian mereka. Juga sangat kesepian jika di rumah hanyalah satu orang sendirian tanpa adanya mereka bersama di rumah.
"Mau ke mana Anda, nona Cut Ha?!" Mariah bertanya saat Cut Ha berdiri dari kursi setelah merasa kenyang dan puas menjawab seluruh soalan Mariah.
"Mariah, malam ini aku tidak menonton tivi juga tidak tidur di sofa. Badanku rasanya tidak enak. Rasanya seperti akan demam. Aku akan tidur di kamarku saja, Mariah," jelas Cut Ha sebelum pergi meninggalkan meja makan.
"Minum moka susumu dulu, Cut!" Khaisan berseru. Cut Ha tidak menyentuh susu moka buatan Mariah. Entah lupa atau sedang tidak ingin.
"Minum ini susunya, nona Cut Ha!" seru Mariah saat sadar akan ucapan Khaisan.
Cut Ha berbalik dan kembali duduk lesu di kursinya tanpa sepatahpun bicara. Meraih gelas dan meneguk isinya dengan cepat. Sangat jelas jika Cut Ha memaksakan diri untuk meminumnya hingga habis.
"Aku duluan," pamit Cut Ha sambil berdiri. Menatap Khaisan sekilas.
"Kamu benar-benar tidak enak badan, Cut?" tanya Khaisan yang juga ikut berdiri tergesa.
"Kurasa sebab aku telat makan. Aku akan tidur cepat agar badanku kembali nyaman dan bugar," sahut Cut Ha dengan menatap sayu Khaisan.
Khaisan keluar dari kursi dan membuntuti Cut Ha buru-buru. Merasa percaya jika Cut Ha benar-benar sedang sakit. Matanya sangat sayu dan sedikit memerah. Sama dengan bibirnya yang justru nampak lebih memerah. Mungkin sebab suhu tubuhnya yang kemungkinan meninggi. Namun, Cut Ha yang tidak bersemangat itu justru terlihat mempesona dan merona.
πΈπΈπππΈπΈ