The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
75. Pria Pengecut



Khaisan menegakkan punggungnya lagi lebih lurus. Menjaga sikap agar terlihat santai dan tenang. Berusaha menutupi perasaan jiwa dan raga yang sebenarnya sedang tegang luar biasa.


Cut Ha berjalan anggun ke arahnya dengan terus memandang. Khaisan pun menyambut dengan tatapan di balik topeng Zorronya. Wanita jelita berbodi indah itu telah berhenti dan berdiri tepat di depan Khaisan.


"Berapa hargamu yang harus kubayar?" tanya Cut Ha tanpa basa basi. Memandang lekat Khaisan yang bertopeng.


"Sudah kubilang, tidak perlu membayarku," jawab Khaisan tegas.


Menyembunyikan denyut kencang jantungnya saat mendengar kembali suara yang sudah bertahun tidak didengar. Suara Cut Ha saat berbicara padanya bagai terpaan salju dingin membekukan.


"Aku tidak suka barang gratis. Apa kamu ini tidak berharga??" tanya Cut Ha tegas namun bukan sinis. Khaisan merasa jika Cut Ha bersikap sama sekali tidak ramah. Kian dingin menggigit saja rasanya.


"Berapa harga tertinggi yang kamu sanggup, Nona??" tanya Khaisan berusaha tenang dan percaya diri, juga tidak ingin basa basi dan membuang waktu lebih lama lagi.


"Aku tidak pernah sudi membayar lelaki di atas lima puluh juta," sahut Cut Ha cepat.


"Baiklah, berikan saja limit maksimalmu padaku," ucap Khaisan tanpa ragu. Meski Raul pernah mengatakan jika Cut Ha adalah wanita royal, tetapi Khaisan tidak mempermasalahkan pada nominal yang digertakkan Cut Ha padanya.


"Catatlah pelunasanku," ucap Cut Ha pada pendampingnya dengan cepat.


Pria pendamping dengan badan lebih besar dari Raul itu mengeluarkan smart phone dari saku kemejanya. Cut Ha sudah selesai melakukan transaksi ke rekeningnya beberapa detik lalu.


"Berapa nomor registrasimu, Sir?" tanya pendampingnya Cut Ha. Khaisan segera menyebutkan tiga digit angka yang baru didapat dan dihapal.


"Nama Anda, Theo Jayakarta, benar?" tanya pendamping memastikan. Khaisan hanya mengangguk. Memandang Cut Ha yang tiba-tiba meluruskan kepala dan melebarkan mata cantiknya pada Khaisan.


"Standart Chartered Bank Indonesia, atas nama Theo Jayakarta, benar?" tanya pendampingnya Cut Ha.


"Ya." Khaisan menyahut cepat.


"Lima puluh juta sudah berada di akun rekening Anda, Sir," ucap sang pendamping.


"Ya, terimakasih," sahut Khaisan cepat.


"Apa Anda tidak memeriksanya terlebih dahulu?" tanya pendamping.


"Tidak, itu tidak perlu. Aku sudah tidak sabar untuk dibawanya malam ini," ucap Khaisan sambil memandang Cut Ha yang juga terus menatapnya.


"Segalanya beres, Nona. Silahkan," ucap pendamping.


Namun, Cut Ha tetap berdiri lurus dan tidak juga berjalan. Terus memandang Khaisan di depannya.


"Ada apa?" tanya Khaisan.


"Lepaskan Zorromu," sahut Cut Ha dengan tegas.


"Aku kamu tidak ingin menghargai privasiku?" tanya Khaisan pada Cut Ha.


"Tuan Theo Jayakarta, Anda sudah menerima tunai sewaku. Aku hanya ingin melihat wajahmu saat ini. Apa Anda lebih suka membuatku tidak berselera membawamu? Jangan khawatir, uang itu tetap milikmu meski aku tidak jadi memakaimu," ucap Cut Ha terdengar dingin dan tegas.


Khaisan sejenak bimbang, khawatir jika Cut Ha tidak menerima statusnya sebagai seorang member palsu. Atau juga terkejut saat melihat siapa dirinya. Namun, Khaisan tidak mungkin menyerah dan Cut Ha benar-benar tidak jadi membawanya. Apalagi uang itu memang sudah dalam rekening Theo Jayakarta seluruhnya.


"Boleh aku tahu, kenapa nona ingin kulepas topengku?" tanya Khaisan.


"Tentu saja, aku hanya ingin memastikan jika wajahmu tidak cacat. Aku tidak ingin memakai pria cacat. Juga,, apa wajahmu setampan namamu, Tuan Theo Jayakarta??" ucap Cut Ha dengan terang. Semakin menatap Khaisan dengan lekat.


"Baiklah jika seperti itu inginmu. Bersiaplah melihat wajah tampanku," sahut Khaisan berseloroh. Namun, Cut Ha tampak semakin tegang di tempatnya.


Topeng mata berkarakter Zorro itu segera di lepas Khaisan dari telinga dan ditarik menjauh dari wajah. Tampak jelas wajah Khaisan yang berkulit putih dan tampan luar biasa berkharisma. Dua tahun tinggal total di Jepang dengan bekerja secara online, membuat kulitnya kembali memutih dan bersih.


Khaisan memandang Cut Ha yang sedang melebar matanya dengan ekspresi terkejut. Namun, ekspresi kaget Cut Ha sangat aman dan tidak seperti yang Khaisan risaukan. Cut Ha tetap tenang dengan terus berdiri anggun di tempatnya.


"Anda sangat tampan, Sir. Seharusnya Anda meminta seratus juta," bisik Raul tiba-tiba di belakangnya. Khaisan tidak menanggapi, perasaannya sedang tegang dengan tanggapan Cut Ha selanjutnya.


"Ti,, tidak. Aku sudah menduga jika kamu memang setampan itu." Cut Ha menyahut jujur dan sedikit gugup. Sedikit menekuk wajah dan tampak salah tingkah. Khaisan merasa lega, juga merasa haru dengan sikap Cut Ha yang berusaha menyikapi keterkejutannya dengan tenang.


"Lalu bagaimana, Nona? Apakah aku masih bisa menemanimu malam ini?" tanya Khaisan mendesak. Cut Ha menatapnya lagi dengan lekat.


"Kamu tidak cacat dan tidak membuat kesalahan sedikit pun. Aku juga sudah membayar penuh padamu, tentu saja kali ini aku tidak ingin merugi. Ikutlah aku!"


Cut Ha memberi kode pada pendampingnya dan lalu berjalan. Sang pendamping berjalan sambil mengoperasikan smart phone untuk mengesahkan check in kamar di penginapan. Raul juga mengode pada Khaisan agar segera mengikuti.


"Anda akan dibawa ke kamar yang sudah disiapkan pendampingnya hingga esok pagi, Sir," jelas Raul tanpa di minta. Mereka terus berjalan di belakang Cut Ha dan penjaganya.


"Hingga pagi pukul berapa, Raul?" tanya Khaisan tanpa menoleh. Wajahnya terus membuntuti punggung Cut Ha yang tampak indah saat berjalan.


"Sehabis subuh pukul lima tepat suaminya datang menjemput," terang Raul berbisik.


Khaisan terus berjalan dengan mengerat rahang dan gigi. Sangat tidak habis pikir dengan kemelut rumah tangga Cut Ha saat ini. Bagaimana bisa seorang suami mengantar jemput istrinya mendatangi rumah bordil meski dengan cara penuh gaya seperti ini sekalipun. Suami macam apakah Andres itu..


Meskipun terlihat tenang, tetapi darah Khaisan seringkali bergolak menahan luap amarah saat memandang Cut Ha yang jelita. Terasa sakit mengetahui pernikahan wanita yang dicinta tidak berjalan bahagia bersama lelaki yang direlakan menikahinya.


Cut Ha telah berhenti di depan sebuah pintu kamar bersama pendamping yang sedang membukakan pintunya. Khaisan pun juga berdiri menunggu di belakang dengan degub dada yang laju.


"Silahkan, Nona. Selamat menikmati malam. Saya akan duduk di depan kamar seperti biasanya," ucap pendamping Cut Ha setelah membuka lebar pintu kamar.


"Silahkan masuk mengikuti nona jelita ini, Sir. Saya akan duduk di sana hingga pagi," ucap Raul yang juga ikut berpamitan. Khaisan mengangguk sambil menyelip kembali uang merah ke tangan Raul banyak lembar.


"Terimakasih banyak, Sir. Semoga urusan Anda lancar," ucap Raul dengan wajah yang berseri. Sang tuan pun mengangguk mengikuti kepergian Raul menuju sebuah bangku di ujung lorong. Sedang pendampingnya Cut Ha duduk dekat di depan kamar.


Khaisan menghela nafas panjang sejenak. Kemudian berjalan cepat melewati pintu menyusul Cut Ha yang sudah masuk ke dalam jantung kamar.


Cut Ha sudah berdiri tegak di samping tempat tidur menatap tajam Khaisan. Mereka berdua berdiri berhadapan dan saling memandang.


"Cut,," ucap Khaisan serasa susah menyebut. Cut Ha maju selangkah lebih mendekati Khaisan. Semakin jelas dalam kamar yang terang benderang bahwa pria sangat tampan di pelupuk mata itu adalah Khaisan.


"Khaisan? Kamu benar-benar Khaisan,," ucap Cut Ha lirih bergumam.


"Apa kamu sudah melupakan aku, Cut?" tanya Khaisan serak. Rasanya sedih sekali, menemui Cut Ha dengan cara dan moment suram seperti itu.


"Aku tidak menyangka melihatmu malam ini," sahut Cut Ha menimpali.


"Kamu tahu, aku sengaja mencarimu di acara itu. Kenapa kamu mengikuti kegiatan sesesat ini, Cut? Ada apa dengan suamimu? Kamu tidak bahagia?" tanya Khaisan, sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya yang besar.


"Benarkah?? Untuk apa kamu masih peduli padaku??" tanya Cut Ha yang mendadak berubah sangat dingin.


"Kamu bahkan membuatku tidak ingin menikah, Cut," sahut Khaisan terus terang. Kesedihan akan apa yang dilakukan Cut Ha membuatnya tidak ingin menutupi segala perasaan hatinya.


"Kamu,, kamu adalah pria pengecut! Aku benci padamu, Khaisan!" Cut Ha mengumpat dengan gemetar. Tangisnya pecah kemudian dan tak kuasa lagi ditahan.


"Cut, maafkan aku, Cut. Saat itu aku masih bertugas. Sekarang aku tidak lagi, seperti pesanmu saat itu," ucap Khaisan sambil mendekat. Cut Ha akan didekap dan dipeluk, rasanya sangat rindu.


"Jangan dekat!" Namun, Cut Ha mundur menjauh dan berseru melarang.


"Cut,," ucap Khaisan dengan tidak peduli. Kakinya berusaha lagi mendekati.


"Jangan membuat gaduh malamku. Pendampingku bersiaga di depan pintu yang tidak kukunci. Jika aku berteriak memanggilnya, saat itu namamu akan tercoret sebagai member. Kamu paham, Khaisan???" tanya Cut Ha memekik perlahan.


Khaisan berhenti mendekati, ucapan Cut Ha tidaklah main-main. Dirinya juga ingat jika pintu itu tidak dikunci, dan sang pendamping memang terus duduk siaga di luar kamar.


"Aku sangat rindu padamu, Cut. Hatiku sangat sakit, kenapa kamu datang ke tempat seperti ini? Tidak bisakah kamu anggap aku seperti lelaki lain yang sudah kamu bayar? Aku pun sangat ingin memelukmu, Cut. Bahkan jika kamu tidak keberatan, biar kukembalikan uangmu," ucap Khaisan mencoba membujuk.


"Jangan harap kamu boleh menyentuhku, Khaisan. Asal kamu tahu, Aku hanya berniat membuang uang suamiku di sini. Para lelaki yang kubayar, hanya kubeli agar tidak memaksa menyentuhku. Tidak terkecuali kamu, Khaisan," ucap Cut Ha sinis sambil menatap tajam Khaisan. Namun, sebutir air bening telah menyusul jatuh di pipinya yang halus dan mulus.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ