The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
78. Bercak Hasrat



Ucapan Cut Ha yang penuh rengekan dan manja, namun sangat menyedihkan, telah mengusik jiwa kelelakian Khaisan. Semakin erat memeluk tubuh indah yang sudah lama dipendam rindu dan hasrat untuknya.


"Kenapa kamu semakin cantik, Cut Hanah?" tanya Khaisan dengan wajah mulai suram berkabut.


"Kamu sendiri,, di mana kumis, jambang juga rambutmu yang agak panjang itu? Sekarang rambutmu sangat pendek, kamu seperti seorang jenderal tampan, Khaisan,," ucap Cut Ha yang juga memuji dengan manja.


"Kubuang dengan harap membuang juga perasaan gilaku padamu, Cut. Tapi aku justru semakin gila mengingatmu," rayu Khaisan dengan suara yang berat.


"Salahmu sendiri, pengecut!" bisik Cut Ha berseru. Ejekannya justru seperti godaan hebat bagi Khaisan.


"Cut, maafkan aku. Aku sangat merindukanmu," bisik Khaisan sambil beringsut dari sofa. Lalu berdiri dengan di bawanya Cut Ha di pelukan. Disambut Cut Ha dengan bergelayut manja di gendongan.


"Apa kamu akan menyuruhku tidur?" tanya Cut Ha lirih dan dekat di wajah Khaisan.


"Iya, kita tidur bersama. Kamu sudah membayarku cukup mahal. Aku ingin malam ini membuat kamu gembira. Lupakan sejenak suamimu, Cut," ucap Khaisan dengan suara sedikit berdesah juga sambil tersenyum mesum pada Cut Ha.


"Tidak, tidak malam ini saja. Buatlah aku melupakan Andres selamanya, Khaisaaann.." Cut Ha berbicara tak kalah menggoda.


"Ah, Cut, aku sangat merindukanmu," sahut Khaisan dengan suara yang berdesis dan serak. Ucapan mesranya disambut kalungan erat tangan Cut Ha di lehernya. Lelaki gagah itu suka sekali membopong Cut Ha di depan.


Khaisan yang berniat ingin membawa Cut Ha sedikit merasa senang malam ini, dalam perjumpaan setelah sekian lama memendam rindu dan hasrat tertahannya, semakin terasa menggelora. Ingin menghabiskan moment bersama yang penuh bahagia dengan masa depan sejuta asa di nostalgia malam ini.


πŸ•Έ


Pelukan erat yang lama dan panjang, diakhiri dengan perasaan berat oleh keduanya. Cut Ha telah beberapa menit lalu mendapat panggilan dari Andres agar segera turun di lobi.


Khaisan melepas Cut Ha dengan di antar pendampingnya meluncur menuju lobi di lantai satu. Sedang dirinya pergi ke aula yang sudah lengang pagi ini. Menuju kamar pribadinya di lantai dua dengan pintu di balik rumpun palem.


Ingin segera meredam amarah dan sakit hati dengan mengguyur tubuh menggunakan air hangat pagi ini. Niat sekali menghampiri Andres untuk telak menghajarnya. Namun, terpaksa meredam sebab rayuan Cut Ha yang tidak ingin terlibat masalah besar dengan suaminya sedikit pun. Cut Ha merasa risau jika kecemburuan Andres pada Khaisan tidak akan terkendali dan justru terlampias padanya.


πŸ•Έ


"Baru malam ini kau pergi ke kamar dengan cepat, sayangku," ucap Andres tersenyum smirk penuh arti.


"Apa keberatan?" tanya Cut Ha datar.


"Aku hanya terkejut. Ingin sekali bertemu dengan lelaki bernama Theo Jayakarta, yang telah membuat istriku memasuki kamar lebih cepat dan menghabiskan malam jauh lebih lama dari sebelum ini. Aku ingin segera menemuinya," ucap Andres dengan nada berkuasa. Cut Ha membungkam tiada niat menanggapi.


Cut Ha dan Andres memasuki rumah megah bernuansa putih bersih dengan tiang penyangga bangunan kokoh dan pintu yang tinggi.


Memasuki lagi ke sebuah kamar besar dan luas yang ada pot guci jumbo berisikan rumpun bunga tulip di tiap pojok kamarnya. Aroma kamar begitu harum semerbak dan segar.


Cut Ha yang tadi masuk ke kamar mandi dan kini sudah keluar setelah mandi cukup lama, terkejut dengan masih adanya Andres di luar kamar.


"Kamu tidak pergi kerja?" tanya Cut Ha heran.


Andres telah menyambar tangannya dan mendudukkan di depan meja rias. Cut Ha yang hanya berhanduk lilit dan diselip sebatas dada itu terkejut. Merasa lalai dengan penampilannya sendiri. Namun, Andres telah memandangi leher dan dadanya dengan raut senyum dan gembira.


"Sayangku, kau tidak pernah seperti ini. Aku sangat ingin tahu dan bertemu dengan lelaki yang telah membuatmu melayang semalaman. Kuharap benih yang ditabur di rahimmu akan menjadi seorang bayi yang sangat kuinginkan. Terimakasih, sayangku. Akan segera kutanyakan pada pengelola, siapa lelaki yang memeluk hangatmu tadi malam, sayang,,," ucap Andres dengan wajah yang berubah serius tanpa senyum.


Cut Ha bungkam dan mematung. Andres yang selalunya pergi bekerja setelah menjemput dan mengantarkannya ke dalam rumah, entah kenapa hari ini masih mendekam di dalam kamar dengan lama, bahkan hingga dirinya selesai mandi.


Cut Ha memandang dirinya di cermin sebagai wanita dewasa yang mempesona dan cantik. Namun, pemandangan di dada yang mulus dan seputih susu itu ternoda dengan beberapa bercak merah kecil yang membuat Andres begitu gembira penuh harap. Sedang nyatanya, Khaisan adalah lelaki yang tidak pernah lupa untuk berjaga agar tidak menabur benih sebelum pernikahan.


Namun bagi Andres, itu adalah noda pertanda hasrat yang Cut Ha bawa pertama kalinya semenjak sang istri diantar mengikuti pertemuan. Wajah Cut Ha yang berbinar meski tampak lelah, membuatnya penasaran hingga menghalanginya pergi kerja. Hingga mendapati tanda itu dan membuatnya sangat puas.


Andres berencana akan mencari dan menemui lelaki yang telah disewa Cut Ha malam tadi. Akan disewanya secara pribadi sementara untuk menemani sang istri tanpa harus pergi lagi ke pertemuan itu selanjutnya. Hingga sang istri benar-benar mendapat kehamilan di rahimnya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ