
Sebab merasa canggung saat berjalan bersama Theo, Cut Ha meminta ditunjukkan jalan menuju pintu di balkon depan. Mengingat jika lorong dengan melewati pintu di aula menuju kamar pribadi Khaisan terasa lengang dan panjang.
Cut Ha tidak pernah melupakan rasa menyedihkan saat melewati lorong untuk menjumpai Khaisan kala itu. Meski sekarang pun keadaan tidak jauh beda, masih diliputi kesedihan untuk menjumpai lelaki itu, Cut Ha tidak ingin menambah pilu dengan melewati jalan yang sama.
Ceklerk
Degub dalam dada serasa tertahan saat Khaisan muncul bersama terbukanya pintu kamar. Cut Ha telah mengetuk pintu kokoh itu beberapa detik lalu dan Khaisan membukakan dengan laju.
"Cut," sapa Khaisan dengan wajah yang cerah.
"Dah, masuk sana. Ingat, kalian belum halal. Ingat untuk mengendalikan dirimu, Kha. Semua tergantung dirimu," ucap Theo penuh penyindiran. Namun, itu adalah hal biasa bagi Khaisan, hanya dipandangnya Theo dengan ekspresi masamnya.
"Kamar resmi atas nama kamu di kamar sebelah itu, Cut. Kamu bisa lari ke kamar sebelah jika Khaisan memaksakan hal buruk padamu," ucap Theo tersenyum pada Cut Ha yang berdiri canggung di depannya. Selembar kartu telah berpindah dari tangannya ke tangan wanita itu.
Theo kemudian pergi setelah berpamitan. Menyisakan dua insan yang saling pandang dengan sejuta rasa debar tak menentu. Khaisan dan Cut Ha kemudian sama-sama melemparkan senyuman.
"Apa kamu akan membawaku ke kamarmu?" tanya Cut Ha tampak tersenyum.
"Seharusnya tidak usah tanya. Biasanya kamu hanya perlu menerobos?" tanya Khaisan tersenyum.
"Apa aku wanita murahan bagimu?" tanya Cut Ha merasa tersindir, namun juga tidak merasa tersinggung.
"Tidak tahu," jawab Khaisan bermaksud hanya menggoda.
"Jahat kamu, Khaisan," ucap Cut Ha yang tiba-tiba pergi meninggalkan Khaisan tanpa berkata. Ternyata menuju ke kamar sebelah di pintunya. Khaisan tidak menyangka jika Cut Ha berubah sedemikian sensitif dan peka.
Cut Ha sangat cepat membuka pintu dan menyelipkan dirinya ke dalam. Pintu kamarnya dikunci rapat bersama kedatangan Khaisan di sana.
Di dalam kamar, Cut Ha menghempas badan di ranjang. Meskipun tahu Khaisan tidak sungguh-sungguh bicara dan hanya ingin menggoda, tetapi perasaan Cut Ha sedang sensitif dan mudah bersedih. Merasa tersentil dengan jawaban Khaisan yang baginya tidak memiliki pengayoman untuknya. Rasanya kecewa dan sedih.
Cut Ha mengabaikan ketukan di pintu kamar yang sudah beberapa kali didengar. Yakin jika itu adalah Khaisan yang berusaha menyusul. Lupa jika Khaisan adalah pengusa di penginapan, Cut Ha merasa tenang sebab pintu sudah berhasil rapat dikunci.
Mata indah itu tertidur setelah lelah bersedih. Membayangkan andai Khaisan menganggapnya sebagai wanita yang murah dan gampang. Yang tentu dirinya tidak ada harga lagi di mata Khaisan. Cut Ha meratapi nasib yang rasanya sungguh malang dan banyak cobaan. Kisah percintaannya tidak pernah berakhir bahagia dan tidak berjalan semulus bayangannya.
Tidur lelapnya terganggu saat hidungnya terasa terganggu. Begitu heran saat diciumnya aroma tembakau terbakar, yakin jika seseorang telah merokok dengan asap yang berlari menyelip ke dalam kamarnya.
Cut Ha meloncat bangut saat bau asap rokok kian tercium menyengat, sangat penasaran bagaimana bau tembakau terbakar bisa mencemari isi dalam kamar.
Cut Ha hampir meloncat sebab demikian terkejut. Asal batuk lelaki sangat dekat terdengar, serasa dalam kamar. Sofa di samping tempat tidur tampak lengang tanpa orang. Cut Ha berniat menuju balkon kamar.
Ketakutannya terhempas dan keterkejutannya terjawab. Seorang lelaki berdiri memunggung di teras balkon belakang kamar. Punggung lebar dan sasa yang tampak nyaman dan menenangkan dipandang itu adalah Khaisan.
"Kha,,, Khaisan?!" sebut Cut Ha dengan berjalan mendekat. Khaisan berbalik dan masih sibuk dengan sisa batuk kecilnya.
"Sudah bangun, Cut?" tanya Khaisan sambil mendekati wastafel di balkon. Mencuci sisa rokok dari nyala apinya di sana.
"Bagaimana kamu sudah berdiri di sana??" tanya Cut Ha sangat heran.
"Apa kamu lupa, semua kunci di penginapan ini adalah milikku, Cut?" tanya Khaisan tersenyum. Wajah itu terlihat sangat tampan. Cut Ha membuang muka, menyimpan wajahnya yang tersenyum merasa kesal.
"Bau rokokmu menyengat. Jangan memaksa jika sebenarnya kamu tidak pandai menghisapnya. Mengganggu tidurku saja," sungut Cut Ha, dia berbicara sambil menunjuk puntung rokok basah yang masih dipegang Khaisan.
"Kamu terganggu? Maaf jika begitu, Cut. Aku akan segera keluar sebentar lagi. Tetapi, aku ingin mengatakan padamu satu hal," ucap Khaisan.
"Apa? Apa sangat penting?" tanya Cut Ha berkernyit dahinya. Khaisan berjalan mendekat setelah melempar puntung rokok pada keranjang sampah di balkon.
"Kamu tinggallah sementara di sini. Besok aku akan pergi ke Nagoya sebentar, Cut," ujar Khaisan.
"Untuk apa?" tanya Cut Ha.
"Andres dan Philips sedang berada di salah satu kamar hotel milik kawanku," sahut Khaisan dengan tatapan lekat pada Cut Ha. Cut Ha nampak terkejut.
"Ka,, kamu tahu tentang mereka??" tanya Cut Ha tampak tegang.
"Kenapa kamu tidak terus terang padaku?" tanya Khaisan dengan pertanyaan tegasnya.
"Aku merasa sangat malu dengan nasibku ini, aku malu denganmu, Khaisan,," ucap Cut Ha terdengar sedih dan kesal. Khaisan pun merasa seperti diiris perasaannya mendengar alasan itu.
Khaisan menarik Cut Ha ke dalam pelukan. Menenangkannya sebab air mata telah menumpah dan mengalir lagi dari kedua matanya. Cut Ha justru kian terisak dengan menyandar kepala di dada bidang Khaisan yang empuk dan hangat.
πΈπΈπππΈπΈ