The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
80. Dibayar Mahal



Khaisan yang bersama Theo mengikuti shalat ashar berjamaah di mushola penginapan, mengambil tempat di sebelah asistennya. Sang imam shalat yang juga sebagai koki di dapur penginapan, belum mengakhiri bilangan rakaat saat ponsel Theo terus saja terdengar getarannya. Tentu saja panggilan bertubi sangat mengurangi kefokusan dua jantan karib itu dalam mencukupkan jumlah sujud mereka.


Khaisan cepat menyambar ponsel Theo yang terus bergetar setelah mengikuti imam hingga salam yang terakhir. Bukan mengangkat, Khaisan hanya mengubah mode getar itu menjadi lampu terang, tanpa sekali pun getaran. Kembali fokus mengikuti sang imam untuk berdoa dengan tugas mengaminkan hingga doa itu tamat bersama.


Theo menyambar ponsel menyala yang diletak Khaisan di sampingnya setelah salam tangan dengan segelintir jamaah itu terpenuhi. Pergi ke samping mushola dan duduk di bangku sambil meletak ponsel rapat di telinganya.


"Bagaimana, Theo?" tanya Khaisan sangat tidak sabar dengan hasil panggilan yang baru saja didapat oleh Theo. Yakin jika si pemanggil adalah orang yang sama dari si pembuat getar beberapa saat yang lalu.


"Dia sudah di parkiran," ucap Theo sambil memasang dua lembar kaos kaki sebelum sepatu hitam berkilatnya.


"Kamu akan menyambutnya? Bawalah ke rumah makan," ujar Khaisan yang berdiri di depan Theo.


"Ya," sahut Theo sambil beranjak.


Theo berjalan di depan dengan diikuti Khaisan. Mereka berdua berpisah di simpang lorong penginapan. Theo menuju lobi, sedang Khaisan menuju rumah makan di sebelah dapur penginapan.


Theo datang bersama Andres ke dalam rumah makan saat seorang pelayan sedang berdiri di meja Khaisan. Mengantar secangkir moka susu hangat serta sebulat donat kentang yang lembut dan liat.


Penampilan Andres tidak banyak berubah dari dua tahun yang lalu. Masih saja tampan dengan rambut sangat pendek dan berwajah halus tampak begitu terawat. Kontra dengan Theo yang berkulit sawo matang, berwajah hitam manis dan tajam. Berambut tebal dan hitam dengan alis yahg lebar. Andres terlihat tampan dan dandy, sedang Theo terlihat sebagai pria yang mently.l


Andres sama sekali tidak mengenali Khaisan yang duduk tepat di meja seberangnya. Dengan kaca gelap meski masih tampak bayang matanya, terlihat jika Khaisan adalah pria yang macho dan dandy, sama rapi dan bersih seperti halnya penampilan Andres saat itu. Hanya,, kulit wajah Khaisan tidak semulus milik Andres.


Penampilan Khaisan berubah lebih rapi dan bersih, jauh beda dengan penampakan Khaisan dua tahun yang lalu, berkulit agak gelap yang sedikit berantakan. Kini Khaisan berkulit putih dan cerah. Kembali ke warna kulit asalnya.


Sang ibu sangat memanjakan selama dirinya dua tahun tinggal bersama keluarga di Jepang. Begitu juga adik perempuan dan seorang lagi adik laki-laki yang berusia sangat jauh di bawah Khaisan. Rutin mengajak Khaisan berolahraga mengunjungi klub gym dan swim di kota besar Tokyo dan bergantian ke kota Osaka.


Khaisan mengalihkan pandangan dari mengamati Andres. Pura-pura sibuk dengan cangkir moka dan bulatan donatnya yang besar. Namun, telinganya begitu tegak dan siaga untuk menyadap setiap kata yang akan di dengarnya dari meja di sebelah.


"Tidak kusangka juga wanita sangat jelita samalam adalah milikmu. Apa kau tidak merasa sayang istrimu telah kumiliki semalaman?" tanya Theo yang juga tersenyum.


"Kau sangat paham denganku, aku tak kuasa melakukannya. Aku ingin dia bahagia, juga ingin membuatnya memiliki anak, meski itu bukan keturunanku," sahut Andres. Wajah tampan itu terlihat muram sekilas.


"Kau tahu jika tak mampu, kenapa waktu itu kau masih tega menikahi calon istrimu, Andria?" tanya Theo sambil menulis pada nota pesanan di meja. Andria adalah nama panggilan untuk Andres dari sebuah komunitas saat di Jakarta.


"Melihat Cut Ha, kurasa aku suka. Ternyata aku tetap tidak mampu," sahut Andres dengan lirih. Sedikit melirik ke arah Khaisan yang berkacamata, kini bahkan menggunakan face mask di mulutnya. Tidak ingin perbincangannya dengan Theo terdengar orang lain.


"Kau sudah terlalu lama berperan sebagai wanita, Andria. Meski gaya dan fisikmu gagah besar seperti itu, kau sudah terlanjur lama dimiliki oleh Philips. Ragamu bahkan lupa bagaimana berperan sebagai lelaki di depan istrimu," ucap Theo dengan tajam tiba-tiba.


"Sebenarnya, aku sangat tidak ingin membahas masalah ini. Aku ingin menemuimu, sebab istriku terlihat gembira setelah menghabiskan malam denganmu. Terus terang aku ingin menyewamu. Bang Te, kau tidak perlu datang lagi diacara itu. Bersamalah dengan istriku untuk sementara." Andres berbicara pada inti tujuan.


"Aku ingin dipandang keluargaku memiliki istri yang hamil dan kemudian memiliki anak. Jadi, aku ingin kau bersama istriku hingga benar-benar hamil. Kuharap kau tidak keberatan, Bang Te. Aku akan membayarmu sangat mahal, jauh lebih mahal dari yang istriku bayarkan padamu semalam," ucap Andres menyambung.


"Jangan khawatir dengan pembayaranku, uang Philips tidak akan berhenti mengalir padaku," ucap Andres lagi seperti membujuk.


Andres tidak menyadari jika lelaki berkacamata di sebelah sedang meremas donatnya hingga berkerut kecil dan menipis. Namun, Theo baru saja melirik sekilas dan mengerti perasaan Khaisan.


"Tetapi, Andria, kau tidak sadar jika perbutanmu ini sangat tidak adil, bahkan cenderung kejam pada istrimu. Dia itu wanita yang punya perasaan, bukan hewan betina yang sesukamu saja kamu kawinkan."


"Kasihan sekali istrimu itu, Andria. Lebih baik kamu bercerai saja, berilah dia kehidupan yang layak sebagai seorang wanita. Kamu pun juga tidak perlu lagi berpura-pura. Tidak sedikit lelaki sepertimu yang hidup lajang abadi dan mengangkat anak, mereka tidak peduli dengan siapa pun, Andria," ucap Theo tegas. Ikut merasa kesal dengan Andres.


"Bang Te, tolong jangan nasihati aku dengan hal seperti itu, aku sudah bosan. Kembali pada keinginanku, membayarmu. Apa kamu bersedia, Bang Te?" tanya Andres lembut dengan memelankan bicaranya. Mungkin jiwa wanitanya yang merayu sedang mendadak muncul di depan Theo.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ