The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
39. Berdua



Setelah mendapat sambutan dan komentar dari Mariah yang begitu heboh, sekaligus mendapat komentar tidak sedap pada bajunya, Cut Ha masuk ke dalam kamar tanpa ingin diikuti. Menolak anjuran Khaisan agar Mariah membantu dan menemani.


Saat Mariah bertanya, Khaisan pun menjelaskan sekilas pada Mariah sedikit kronologi pengejarannya pada Cut Ha dan Felix. Asisten rumah itu nampak mengangguk-angguk mencoba cepat mengerti, yang memang dipahaminya kemudian.


"Biarkan saja nonamu di kamar menenangkan diri, Mariah. Tolong buatkan saja kopi pahit untukku," arah Khaisan pada Mariah.


"Siap, pengawal Khaisan. Tunggulah Anda sebentar." Asisten bermata lebar itu berjalan pergi menuju arah dapur.


Khaisan duduk menyandar dan meletak kepalanya di sandaran sofa. Merasa sangat iba pada Cut Ha yang justru mengalami gangguan berat menjelang hari bahagianya. Baik orang tua Andres atau orang tua Cut Ha, sama-sama ingin mempercepat proses pernikahan anak-anak mereka yang usianya sudah kelewat dewasa.


Mariah telah meletak cangkir berisi kopi yang masih nampak berkebul asap sangat panas. Asisten itu sama dengan dirinya, anti menggunakan air termos untuk menyedu kopi. Hanya air mendidih yang langsung diangkat dari api sajalah yang dipakai.


Khaisan bangun dari ketiduran di depan televisi yang menyala. Seperti biasa dengan Mariah yang setia merebah di sofa dan ditonton televisi. Gadis itu sudah nampak lelap dengan pejamnya.


Kopi yang tidak disertakan penutup cangkir, bahkan sudah dingin tetapi Khaisan belum sekali pun meneguk isinya. Segera disambar dan diminum beberapa teguk masuk ke dalam mulutnya.


Mengingat malam hampir larut dan Khaisan punya janji pada Cut Ha, segera dibawa diri menuju kamar. Ingin mandi air hangat sebentar demi menghempas lelah tubuhnya.


Kamar yang lapang menenangkan, tetapi Khaisan hanya menyinggahi cepat sesekali. Hampir tidak pernah Khaisan merebah santai di dalamnya. Hanya tidur duduk di sofa bersama Maria dan Cut Ha lah yang sering dilakukan.


Dengan kemeja lengan pendek serta bercelana panjang, Khaisan keluar kamar dan berhenti di depan pintu kamar tuannya. Berniat mengajak membuat nasi goreng bersama. Agar kenangan buruk dikepala Cut Ha sedikit terlupakan.


"Ada apa?" tanya Cut Ha lirih setelah menyembulkan diri di pintu.


"Masih ingin nasi goreng buatanku? Ayo kita buat bersama, Cut." Khaisan memandang Cut Ha, menilai jika muka cantiknya tidaklah sepucat tadi.


"Aku pakai jaket," ucap Cut Ha dengan ekspresi seperti sebelumnya, datar.


"Jika kamu rasa gerah, tidak berjaket pun tak masalah, Cut," respon Khaisan cepat.


Merasa lega jika Cut Ha masih ingat dan peduli dirinya. Baju tidur yang dikenakan tidak terlalu terbuka, tapi lagi-lagi tanpa lengan. Sepasang baju usang milik Khaisan, entah ke mana dibuang.


Cut Ha memilih mengenakan jaket. Wanita itu masuk kembali ke dalam kamar dan Khaisan masih menunggu di luar pintu kamar. Ini belum terlalu malam, jadi belum tiba waktu Khaisan untuk mengambil dua jam free time malamnya. Yang mana seringkali diambil setelah dini hari dan sebelum waktu subuh.


Cut Ha kembali keluar dengan mengenakan sweater mini warna biru cerah yang menggatung di dada dan perut. Meski dengan dress tidur, Cut Ha terlihat sangat modis dan jelita.


"Ayo, Cut," ajak Khaisan setelah terdiam memandang Cut Ha di pintu kamar. Disambut anggukan dan Cut Ha pun berjalan. Diikuti Khaisan yang membuntuti pelan sebagaimana cara jalan tuannya.


" Aku melihat saja. Aku tidak ingin membantu," ucap Cut Ha menolak saat Khaisan menyodor pisau dan bawang di depannya.


"Oke, Cut. Lihat saja dan jangan menjauh," sahut Khaisan seraya memberi senyum pada Cut Ha.


"Iya," sambut Cut Ha dengan wajah datar, tetapi memandang Khaisan dengan matanya yang bening. Sepertinya Cut Ha belum mengantuk sama sekali saat itu.


Khaisan menyiapkan segala yang diperlukan untuk membuat nasi goreng dengan cepat. Cut Ha terus berdiri di tempat mengawasi apa yang dibuat Khaisan tanpa minat. Tatapan mata indah itu seringkali kosong dan terkadang melamun. Tidak fokus mengikuti gerak-gerik Khaisan.


"Acara lamaran jadi lusa, Cut?" tanya Khaisan demi mengembalikan fokus Cut Ha.


"Cut,,,?" tegur Khaisan sebab Cut Ha masih menatapnya kosong tanpa kata.


"Iya, lusa lamarannya," sahut Cut Ha kemudian. Bukan tidak ingat pertanyaan Khaisan, Cut Ha enggan menjawabnya.


Khaisan memandang Cut Ha agak lama. Kemudian kembali mengaduk nasi di panci.


"Cut, kamu sudah dengar, jika perampok yang melukaimu sudah ditangkap di Nongsa?" tanya Khaisan.


"Iya, aku lihat di berita kemarin," sahut Cut Ha dengan pandangan jauh ke panci.


"Apa kamu akan tetap ingin kujaga, Cut? Kamu sudah membayarku setengah semester," ucap Khaisan mengingatkan.


Cut Ha nampak melebarkan mata memandang Khaisan. Seperti biasa, tertegun sejenak dan ragu berbicara. Kali ini Khaisan membiarkan hingga Cut Ha sendiri merasa waktunya membuka mulut.


Nasi Goreng yang dibuatkan Khaisan sudah jadi. Sengaja memberikan piring kosong pada Cut Ha agar mengambil sendiri dari panci. Ingin agar Cut Ha ada aktivitas yang dilakukan. Bukan sekadar diam terpekur memandangnya.


Cut Ha telah mengisi piringnya dengan segunung nasi goreng yang diambilnya sendiri dengan lambat. Entah sadar atau tidak, piring yang dipegang terus diisinya hingga tinggi menggunung. Khaisan sengaja membiarkan dengan terus melihat, meski tidak yakin Cut Ha mampu menghabiskan. Yang akhirnya disudahi juga oleh Cut Ha sendiri.


Khaisan tidak mengisi piring dengan nasi goreng sebanyak punya Cut Ha. Bahkan setengahnya saja pun tidak ada. Khaisan tak ingin terlalu kenyang dan justru membuat matanya akan mengantuk. Hal itu sangatlah pantang baginya.


"Pengawal Kha," panggil Cut Ha setelah mengambil minum air putih di gelas.


"Ada apa, Cut Ha?" tanya Khaisan sambil duduk. Cut Ha sudah duduk mendahului diinya.


"Kapan kamu menghapuskan akun-akunku?" tanya Cut Ha dengan pandangan redup pada Khaisan. Wanita cantik itu telah menyendok nasi goreng dan melahapnya.


"Setelah makan. Sehabis ini. Cepat habiskan punyamu," sahut Khaisan cepat sambil menunjuk piring Cut Ha.


"Tapi ini banyak sekali." Cut Ha memandang piringnya sendiri.


Khaisan terheran dan menyimpan tawa dalam hatinya. Benar yang disangka, Cut Ha mengisi piring sambil melamun.


"Tapi kamu harus belajar bertanggung jawab dengan sikapmu. Termasuk mengambil makanan dalam piringmu. Usahakan jangan melamun lagi, Cut," ucap Khaisan berusaha menyadarkan Cut Ha akan kebiasaan barunya yang buruk.


"Iya. Maaf, pengawal Kha." Cut Ha bicara sambil menatap Khaisan dengan redup. Mungkin Cut Ha mulai merasa segan dan tidak enak hati.


"Tidak masalah,, jangan paksakan diri. Makanlah seperlu perutmu saja Jangan merasa segan padaku," sahut Khaisan.


Pandangan Cut Ha nampak memelas dan berekspresi. Sedikit menunjukkan isi hatinya. Khaisan merasa suka, berharap Cut Ha akan kembali responsive dan ekspresive seperti hari-hari sebelumnya. Melihat Cut Ha jadi seperti itu, rasanya sangat marah dan kecewa pada Felix berterusan.


Cut Ha mengakhiri suapannya dengan piring yang masih tertimbun nasi goreng. Sudah tidak sanggup lagi meneruskan. Berpikir lebih baik menyudahi meski rasa segan pada Khaisan, daripada kekenyangan dan akan membuat perutnya terasa mual tidak nyaman.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ