The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
48. Petik Anggur



Cut Ha merasa berdebar. Pandangan Khaisan nampak dalam dengan aura menggelap padanya.


"Kenapa? Kamu kenapa pengawal Kha?" tanya Cut Ha merasa waswas dan semakin berdebar.


Khaisan mengerjapkan mata beberapa kali dan menengadahkan wajah ke atas. Menatap pohon anggur merambat yang disatukan hingga membentuk atap lebar. Agak lama lelaki itu bertingkah demikian. Yang akhirnya meluruskan wajah lagi dengan menghembus nafas panjang.


"Tidak apa-apa, Cut. Tadi kamu sedang apa?" tanya Khaisan dengan lembut memandang tangan Cut Ha, masih ada stik besi yang dipegang di tangannya.


"Ingin petik anggur dan akan langsung kumakan. Sepertinya menyenangkan," jawab Cut Ha pada Khaisan.


"Lalu? Tidak sampai?" tanya Khaisan tersenyum dan bermaksud meledek.


"Ibumu juga tidak sampai memetiknya. Bukan aku saja yang pendek." Sanggah Cut Ha akan niat Khaisan mengejeknya. Yang sebenarnya mommy Riana dan Cut Ha bukanlah jenis perempuan yang pendek.


"Kubantu??" tanya Khaisan menawarkan diri membantu.


"Iya petikkan untukku, pengawal Kha," pinta Cut Ha dengan pelan penuh harap.


"Tidak mau, Petik saja sendiri," sahut Khaisan yang kembali ingin menggoda Cut Ha.


"Tadi bilang mau bantu, tipu," sungut Cut Ha kecewa.


"Aku bantu tapi kamu petik sendiri," ucap Khaisan dengan tatapan terselubung.


"Maksudmu bagaimana??" tanya Cut Ha merasa bingung.


"Sini," ucap lirih Khaisan.


"Ahh! Pengawal Kha!" pekik Cut Ha terkejut.


Tanpa izin, Khaisan telah menyambar cepat pinggul Cut Ha dan diangkatnya dengan mudah. Meski merasa terkejut hebat, tetapi Cut Ha tidak berontak ataupun menolak. Paham dengan tujuan Khaisan yang telah mendukungnya.


Khaisan mendukung dengan kokoh. Cut Ha merasa aman, tidak ada limbung goyang sedikit pun. Kekuatan tenaga di tangan Khaisan sangat tidak diragukan lagi.


"Aku akan lama memetik," ucap Cut Ha setelah merasa tenang dan berusaha bercanda. Namun, jantung di dadanya juga terus kencang berdegub.


"Petik saja yang lama. Hingga aku tertidur," sambut Khaisan dengan santai.


"Jangan tidur, pengawal Kha! Nanti aku jatuh!" seru Cut Ha setengah merayu. Merasa senang saja berada dalam dukungan Khaisan. Justru suka dipeluk erat olehnya. Merasa sangat hangat dan nyaman.


"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Petik dan makanlah sepuasmu," sahut sang bodyguard.


Khaisan memeluk pinggang dan pinggul Cut Ha sangat erat. Dengan wajah Khaisan yang dijauhkan dari perutnya. Menjaga agar tidak sampai menyentuh. Meski terlapis gaun gamis, tapi jika wajahnya tersentuh, pasti akan terasa sensinya. Khaisan berusaha menghindari hal-hal yang sebenarnya di inginkan.


"Pengawal Kha, aku sudah mengambil dua tangkai anggur. Turunkan aku," ucap Cut Ha terdengar dari atas.


"Cepat sekali? Makan saja di atas dengan tenang, Cut!" respon Khaisan seperti kecewa. Cut Ha merasa jika Khaisan kembali menggodanya.


"Nanti dilihat momi dan dedimu. Aku tidak mau dianggap merayu anak lelakinya," ucap Cut Ha menanggapi.


"Momi dan dedi pergi ke Home Stay Te Ka dan menginap di sana. Kamu bebas merayuku!" sambut Khaisan tak kalah isengnya.


"Pengawal Kha, turunkan aku!" ucap Cut Ha terus berdebar. Merasa sudah tidak sanggup lagi menggoda Khaisan.


"Buru-buru sekali, Cut. Sampai malam pun aku sanggup." Khaisan kembali meluncurkan godaan gombalnya.


"Jangan sombong, pengawal Kha. Turunkan aku!" sahut Cut Ha dengan berseru. Menutupi gemuruh di dadanya.


Hup!


Dalam sekelip mata, Cut Ha telah diturunkan Khaisan dengan membungkuk dan meletaknya dengan pelan. Tubuh harum itu telah berpijak kembali dengan selamat. Tanpa ada gesekan dua badan seperti yang sempat terlintas di kepala Cut Ha. Merasa ingin tertawa sendiri dengan pikiran konyolnya. Cut Ha berpikir jika dirinya ibarat wanita genit yang ingin dirayu dan digoda sang bodyguard.


"Anggur ini memabukkan, Cut. Namun, aku ingin upah yang lebih memabukkan dari setangkai anggur ini," ucap Khaisan semakin menjadi. Entah sungguh-sungguh, atau hanya ingin terus menggoda Cut Ha.


"Apa yang lebih memabukkan dari anggur?" Cut Ha pun menanggapi.


"Berenang. Ayo kita berenang bareng, Cut. Akupun sudah sangat lama tidak berenang." Khaisan berbicara dengan pandangan redupnya.


"Berenang? Di kolam ini??" tanya Cut Ha dengan binar matanya. Seperti suka dengan ajakan Khaisan.


"Iya," jawab Khaisan membenarkan.


"Tapi aku malu jika tiba-tiba orang tuamu pulang ke sini," sahut Cut Ha nampak ragu.


"Mereka tidak datang hari ini. Momi dan dediku akan menginap di home stay hingga esok," jelas Khaisan.


"Tapi bajuku bagaimana?" tanya Cut Ha kembali bingung.


"Apa kamu tidak keberatan pakai baju renang lelaki?" tanya Khaisan tersenyum.


"Tidak, aku tidak mau. Lebih baik aku tidak usah berenang. Kamu saja yang berenang, pengawal Kha." Cut Ha bimbang namun menolak. Serasa trauma memakai baju milik Khaisan yang pasti kebesaran. Tentu sangat tidak nyaman jika dipaksakan untuk berenang.


"Baiklah, aku mengerti. Biar aku saja yang berenang, aku tidak akan memaksamu. Duduklah di sini, biar aku mudah mengawasimu," ucap Khaisan tersenyum.


"Kamu mengawasiku? Dari apa? Di sini tidak mungkin ada penjahat, di sini sangat aman. Bilang saja jika kamu ingin kutunggui, pengawal Kha," sahut Cut Ha dengan senyum lebar menahan tawanya.


"Iya. Temani aku," ralat Khaisan yang juga tersenyum sangat lebar.


"Bodyguard durhaka," sungut Cut Ha dengan raut canda dan masih terus tersenyum.


Cut Ha dan Khaisan sama-sama merapat bibir, mendadak ponsel Cut Ha berdering, pertanda sedang adanya panggilan yang masuk.


"Andres," ucap Cut Ha bimbang pada Khaisan.


"Angkatlah," ucap Khaisan menganjurkan.


"Aku tidak mau," jawab Cut Ha cepat.


"Kenapa? Bukankah kalian akan pergi pass cincin bersama? Ayo kita berangkat," ucap Khaisan tegas pada Cut Ha. Lelaki itu menyambar ponsel yang sempat diletak di meja taman. Berdekatan dengan dua tangkai anggur milik Cut Ha.


Ponsel Cut Ha terus saja berdering. Namun, tetap juga diabaikan oleh pemiliknya.


"Cut, jawab panggilan itu," tegur Khaisan sekali lagi. Cut Ha justru sedang memandangnya.


"Tidak mau." Cut Ha menjawab dengan kalimat yang sama.


"Kenapa?" tanya Khaisan mengulang.


"Aku ingin menunggui kamu berenang dulu di sini." Cut Ha berbicara datar tetapi memandang lekat Khaisan.


"Benarkah, Cut?" tanya Khaisan terdengar tenang. Dalam hati tidak menyangka dan terkejut.


"Aku ingin melihat gayamu berenang," ucap Cut Ha mengambang. Melawan rasa gundah hatinya.


"Baiklah, Cut. Aku akan berenang sebentar. Perhatikan dan ingatlah. Kamu bisa menjadikan gaya renangku sebagai referensi renangmu kapan pun," ucap Khaisan dengan lembut.


Keinginan Cut Ha membuatnya berkali-kali menghembus nafas panjang. Merasa tidak habis pikir, Cut Ha lebih ingin melihatnya berenang daripada pergi menemui Abdres demi mengurus hari bahagia mereka yang sakral.


Khaisan tidak mengerti kenapa Cut Ha justru mengabaikan sang calon suami. Khaisan merasa jika wanita calon istri orang itu kembali membuatnya gemas dan sedikit sakit di kepalanya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ