The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
34. Dengan Felix



Felix erat melingkarkan sebelah tangan di pinggang Cut Ha. Dengan sebelah tangan memegang ponsel yang kini nampak fokus disimaknya.


Felix juga menyimpan nomor Khaisan, sedang Khaisan tidak memiliki nomor baru miliknya. Felix sedang menerima laporan masuk dari ponsel mini, ada di mana posisi kartu yang digunakan Khaisan.


Yakin jika lelaki berdarah Indonesia, Jepang dan Turki itu sedang memburunya di hotel ini. Felix tidak habis pikir, dengan apa lagi Khaisan bisa tahu di mana dirinya berada.


"Ke mana, Felix??!!" seru Cut Ha bertanya. Felix telah berdiri menurunkan dari pangkuan lalu menarik kasar tangannya dengah tergesa.


"Kamu hanya perlu mengikutiku dengan sikap manisnu, Ke!" sahut Felix sambil menyambar tas kecil di kursi milik Cut Ha. Lalu diberi pada wanita yang sedang dibawanya.


Mereka sudah disambut dengan mobil hotel yang menunggu di teras lobi. Yang kemudian meluncur kencang membawa kedua penumpang membelah jalanan senja Batam Centre.


Sang sopir mengikuti arahan Felix untuk membawa mereka berdua keluar dari hotel berbintang di Batam Centre yang belum ada satu jam lalu disinggahi itu. Kini menuju ke destinasi yang sangat tidak asing lagi baginya. Yang sebenarnya Felix sangat ingin menyimpan Cut Ha di sana dari semula. Tempat pribadi yang membuatnya nyaman, meski itu bukan miliknya.


Sadar jika ini penuh resiko untuk berhadapan langsung dengan Khaisan, Felix sudah tidak peduli. Yakin jika kariernya pun akan berakhir tidak lama lagi. Hal itu sudah siap ditanggungnya. Dengan kompensasi, Cut Ha harus mengandung anaknya.


Meskipun merasa bingung dengan sikap Felix dan tempat apa lagi yang diinginkan lelaki itu, Cut Ha terus mengikuti dengan patuh. Cut Ha merasa tidak ada harapan bahwa Khaisan akan mencari dan menemukannya. Hanya berharap pada diri sendiri dan perlindungan ajaib dariNya.


Felix meminta mobil untuk membelok ke sebuah penginapan. Yang Cut Ha sangat tahu jika itu adalah penginapan Home Stay Te Ka. Kembali ke tempat awal jugalah lelaki itu membawanya. Cut Ha sama sekali tidak tahu menahu isi pikiran di kepala sang manager Felix yang gila. Kakinya terseret-seret oleh tarikan Felix yang cepat.


Lelaki gila itu membawanya kembali ke ruang super luas di mana ponselnya tadi sempat terjatuh. Tapi tidak ditemui saat matanya terus berusaha mencari. Hingga Felix menarik Cut Ha ke dalam salah satu kamar. Ada dua pintu kamar di dalam ruangan.


"Lepaskan, Felix. Sakit!" gerutu Cut Ha setelah berada dalam kamar. Mengibas tangannya dari Felix. Lelaki itu sangat kuat, tangan Cut Ha terlepas bukan sebab kibasan, tetapi kerelaan Felix sendiri melepasnya kemudian.


"Terimakasih, Ke. Kamu mengikutiku dengan manis. Sangat tidak membuatku kecewa," ucap Felix.Tangannya menyentuh dagu Cut Ha dan merambat ke leher. Sepertinya Felix sudah mode on untuk melakukan misinya kembali.


Cut Ha berdebar resah dan cemas. Wajah Felix nampak menggelap dan berkabut. Cut Ha paham jika lelaki itu sudah kembali bersiaga.


"Felix, tapi aku lapar. Kamu sudah membelikanku terang bulan itu di jalan. Boleh aku makan sebentar?" tanya Cut Ha lembut. Menatap dalam mata Felix.


Felix mendengus cepat dan agak menekan sentuhan jarinya di leher Cut Ha. Seperti sedang manahan kesal dan mencoba bersabar.


"Makanlah, lima menit," ucap Felix dengan suara yang serak.


Lelaki itu duduk di ranjang dan memandang Cut Ha. Mengawasi saat Cut Ha mengambil bag terang bulan dan segelas minuman coklat sealer. Kini wanita pujaannya sedang makan dengan pelan.


Felix membiarkannya. Meski sangat tahu jika Cut Ha berusaha mengulur waktu, tetapi juga tidak ingin merasa dosa besar jika wanita yang dicumbu ternyata memang sedang kelaparan.


"Ah, Felix!" Cut Ha menjerit terkejut.


Felix telah menarik dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Lelaki itu telah habis sabar kali ini. Cut Ha merasa buntu, alasan apa yang bisa dipakai untuk mengulur waktu lagi.


"Jangan!" jerit Cut Ha ketakutan. Felix telah menindih dengan menggigiti lehernya tiba-tiba. Cut Ha merasa jijik dan mual.


"Aku tidak mau!! Aku tidak mau!!" jerit Cut Ha ketakutan. Kakinya terkunci, tetapi tangan masih bisa bergerak.


"Supportif saja, Ke. Jangan membuatku murka," bisik Felix padanya.


Cut Ha sangat panik, merasa tidak boleh menunggu lagi. Berani atau tidak, harus segera bertindak. Felix masih asyik bermain di lehernya. Berusaha berpaling pun tidak akan berguna. Bibir Felix masih saja leluasa.


"Aargghh!!" Felix berteriak terkejut. Dengan cepat mengangkat dirinya dan menjauh dari Cut Ha. Wanita itu telah menikam punggungnya, atau lebih dekat ke pinggang.


Cut Ha nampak bangkit juga dengan cepat. Rautnya gemetar dan memandang Felix dengan tatap ketakutan.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa tidur denganmu, Felix!! Kumohon, hapuskan seluruh akun-akunku tempo dulu. Kumohon Felix!!" Cut Ha mengiba dengan gemetaran pada Felix.


Rasanya sangatlah putus asa. Felix nampak segar bugar dan bahkan belati lipat itu sudah dicabut sendiri oleh Felix. Lelaki itu menyeringai dan tidak nampak kesakitan sedikit pun. Bahkan kini sedang mendekati Cut Ha dengan belati berdarah di tangannya. Cut Ha merasa takut yang sangat.


Dengan gemetar diraba-rabanya sanggul rambutnya. Merasa seperti hilang waras saja, barang yang dicari tidak ada. Sanggulnya kosong. Harapan terakhir telah patah, di mana bius spray itu jatuh?


"Tidak tahu diuntung kau, Ke! Kau ingin membunuhku?? Sayangnya kamu tidak punya bakat menyakiti, Ke! Itulah yang kusuka darimu!" bentak Felix dengan keras tepat di depan wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan Felix?!!" Cut Ha menjerit. Felix sedang mengarahkan belati padanya.


"Sebaiknya kau diam. Atau belatimu ini akan merobek kulit mulusmu sendiri? Diam dan berfikirlah, bagaimana agar kau bisa lolos dengan selamat dariku. Benar begitu, Ke?!"


Sentak Felix mengejutkan. Bibirnya tersenyum mengejek pada Cut Ha. Felix sedang mengoyak blouse atasan Cut Ha dengan belati. Wanita itu nampak gemetaran tanpa kata-kata.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kau kehilangan ini, Ke??? Kau ingin menumbangkanku? Lalu melapor polisi atau mencari bantuan? Apa kau lupa dengan mata-mataku? Aku ada orang yang membantuku di luar sana!!!" bentak Felix menggelegar.


Felix sedang menunjuk satu benda yang membuat Cut Ha kian lunglai. Tabung bius spray mini sudah ada di gemggaman Felix. Cut Ha tidak tahu kapan Felix mendapatkannya. Rasanya sangat lemas, merasa tidak ada satu benda pun yang sudi berpihak kepadanya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ