
Khaisan terus menunggu dengan gelisah. Berjalan hilir mudik dan berkeliling mondar mandir di sepanjang lebar teras.
*Hingga li*ma belas menit kemudian..
"Pengawal Kha!" seruan yang memanggil namanya adalah Cut Ha. Merasa tidak sia-sia telah menunggu wanita itu dengan rela. Segera disongsongnya wanita yang memang sangat ditunggunya. Mata yang biasa bening dan indah itu sangat sembab dan memerah.
"Kamu merokok? Ternyata kamu bisa merokok? Kamu jangan merokok, pengawal Kha!" hardik Cut Ha dengan ekspresi yang sedih. Tangisnya kembali tumpah di depan Khaisan.
"Aku lihat ada rokok di meja teras. Aku hanya ingin mencobanya. Ternyata rasanya masih tidak enak, Cut," sahut Khaisan dengan jelas. Sambil buru-buru dibuangnya puntung rokok itu di luar teras. Cut Ha memandang dengan mata yang basah.
"Bagaimana kondisi ibumu?" tanya Khaisan mengeraskan hati dengan tangis Cut Ha yang berdiri dekat di depannya.
"Sedang tidur. Sudah dirawat, dokter sudah datang," terang Cut Ha di sela tangisnya.
"Syukurlah. Ibumu adalah segalanya bagimu. Jaga dan temanilah hingga kapan pun. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan ibumu, sama juga dengan ayahmu. Mereka adalah orang yang sangat berarti untukmu. Aku bahkan tidak ada artinya dibanding siapa ibumu dan siapa ayahmu, Cut Ha."
"Relakan kebersamaan kita yang hanya sebentar. Menikahlah dengan Andres. Dia adalah pilihan orang tua kamu. Semua sudah terlanjur. Jangan pernah disesali. Semoga hidupmu bahagia. Pernikahanmu berjalan sempurna dan akan bertahan selamanya. Maafkan aku, Cut. Ikhlaslah," ucap Khaisan dengan melindas sedihnya.
"Pengawal Kha,," gumam Cut Ha. Bersama dengan hamburan dirinya pada Khaisan. Telah dipeluknya sang bodyguard dengan sangat erat tanpa mendapat balasan. Khaisan berdiri kaku dengan tangan lurus dan diam. Dilema yang sangat bagi Khaisan.
"Cut Hanah!!!" lengking suara lelaki yang tak lain adalah pak Latif. Cut Ha justru memeluk Khaisan lebih erat.
"Pengawal, Kha. Tetap jadwalkan acara tunanganku di home staymu. Jangan ada yang tahu jika kamu adalah pemiliknya. Aku tidak mau papa tahu dan memindahkannya di tempat lain," bisik Cut Ha dengan kaki berijinjit. Terus memeluk Khaisan dengan tak peduli pada suara langkah pak Latif yang mendekat.
"Cut!!!" sang ayah kembali melengking. Tidak tinggal diam, sambil ditariknya kuat Cut Ha dari memeluk Khaisan. Meski pak Latif berbadan kurus, Cut Ha pun terjauhkan dari Khaisan sebab tidak melawan.
"Memalukan, kamu ini perempuan yang sudah ada calon suami. Sebentar lagi menikah. Jangan membuat aib yang memalukan ayah dan ibumu, Cut!!" sentak pak Latif pada Cut Ha. Yang disentak terus menangis dan menunduk.
"Kamu, untuk apa masih di sini?! Pergilah!!" Pak Latif bicara sangat keras sambil menuding pada Khaisan. Mungkin sudah merasa kesal luar biasa pada Khaisan.
"Maaf, saya ingin menyerahkan kunci mobil. Permisi," pamit Khaisan sambil meletak sebiji kunci ke meja teras dengan cepat.
Menanggapi kekesalan pak Latif yang baru saja menyuruh pergi alias mengusir dirinya. Khaisan berlalu tanpa melirik Cut Ha lagi sebentar pun. Berjalan cepat meninggalkan Cut Ha di rumah orang tuanya yang aman.
"Pengawal Kha!"
"Khaisaaaan!" seru Cut Ha saat sang ayah mencengkeram tangannya dan membawa masuk kembali ke dalam rumah. Menyisakan lolong tangis yang sayup terdengar oleh Khaisan di ujung lorong teras toko.
πΈ
Selama mengurusi dan pergi bolak balik, tidak sekali saja berjumpa dengan sang bodyguard. Semakin membuat Cut Ha merasa tersiksa dan penasaran. Ingin sekali melihat Khaisan dengan mata dan kepalanya secara nyata. Tapi kesempatan itu tak juga didapatinya.
Ke mana sebenarnya Khaisan pergi? Di rumah belakang toko besar Cut Ha,, selalu saja tidak ada. Hanya ada Mariah sang asisten rumah sajalah di sana. Bahkan sudah tidak ada satu barang pun milik Khaisan tertinggal di sana.
Apakah Khaisan pergi ke kondominium? Tetapi, saat Cut Ha nekat datang ke sana, tidak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Penjaga bilang, kondominium keluarga Khaisan sedang kosong tanpa seorang pun menghuni.
Lalu, ke mana Khaisan pergi? Apakah mengambil job tugas lain? Di mana dan sebagai apa lagi dia bertugas? Gundah sekali rasanya. Sangat tidak suka andai Khaisan mengambil tugas untuk mengawal wanita lain.
Sedang ponsel Khaisan, terakhir Cut Ha menghubungi adalah untuk mengisi data pemesanan sewa tempat dan waktunya. Khaisan berbicara dan membalas pesan secara formal seperlunya. Akan abai pada pertanyaan Cut Ha di mana Khaisan berada dan tinggal.
Mantan Bodyguard itu hanya menjawab singkat jika sedang tinggal nomaden dan berpindah. Setelah semua urusan sewa tempat selesai, ponsel Khaisan tidak lagi aktif dan tidak dapat dihubungi. Sesak sekali yang sedang Cut Ha rasakan saat itu.
πΈ
Satu minggu kemudian...
Sang mama sudah sehat wal afiat ke sedia kala. Sangat bahagia dengan adanya Cut Ha yang pulang ke rumah dan ada selalu menemani. Cut Ha hanya sesekali perlu pergi sebab demi mengurusi acara pertunangan yang waktunya sempat diundur.
Datang juga hari itu, hari terbaik yang dipilih dua keluarga untuk pelaksanaan acara tunang tukar cincin antara Cut Ha dan Andres. Dengan tempat pilihan yang sudah ditentukan oleh pihak calon pengantin perempuan, yakni di rumah penginapan Home Stay Te Ka.
πΈ
Malam ini di sebuah kamar super premium VIP di lantai dua Home Stay Te Ka, seorang wanita setengah tua sedang berdiri di samping meja rias. Menunggui wanita muda yang jelita dan sedang di rias untuk terlihat jauh lebih sempurna dari hari biasanya.
"Cut, jangan sampai nangis lagi kamu ya. Kasihan itu yang ngrias, nggak jadi-jadi kalo di tambal-tambal. Tahan, kamu kan sudah janji sama mama. Ikhlas ya,,," tegur sang ibu yang merasa bingung dengan kesedihan putrinya.
"Iya, Cut Ha sudah ikhlas, Maa. Tetapi kenapa tiba-tiba ayah mendekatkan acara tunanganku dengan waktu nikahannya, Ma? Ini sangat mendadak, Papa sangat egois!"
Cut Ha sangat kesal, sedih dan putus asa.
Nikahan yang rencana digelar satu minggu setelah acara tukar cincin. Tiba-tiba sang ayah menginginkan waktu yang direct. Acara pernikahan diadakan di malam berikutnya setelah malam acara pertunangan. Yang semua disepakati dengan sukaria oleh Andres beserta keluarganya.
"Sabar, Cut. Pasti ada hikmahnya. Tidak seketika dirasakan, bermakna lain hari akan dirasa juga hikmahnya. Yakin itu, ya,," ucap sang mama yang juga nampak gelisah.
Nyonya Latif sangat mengerti apa yang dirasa Cut Ha namun tidak berdaya membela. Total sang suamilah yang memegang kemudi rumah tangga. Meski suaranya juga seringkali berguna, tetapi untuk acara perjodohan kali ini menjadi suara yang sangat percuma.
πΈπΈπππΈπΈ