The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
24. Felix



Wanita jelita dengan sepatu high heels, sedang melangkah cepat dari pintu rumah menuju pintu di belakang toko yang tembus di depan. Diikuti lelaki gagah yang melangkah tegap bergegas mengikuti di belakang.


Mereka sedang menyongsong kedatangan seorang manager dari sebuah home stay yang sedang pesat berkembang. Akan membuat sebuah pesanan besar, berupa barang-barang elektronik yang diperlukan untuk kebutuhan kamar-kamar baru di penginapannya yang diperluas.


"Boss Kha!" sapa suara lelaki terdengar di samping mereka.


Lelaki berbadan tinggi dengan kemeja berdasi tanpa memakai jas, berjalan mendekati mereka. Yang tak lain adalah sang manager, Felix.


"Felix! Silakan berbincang dengan pemilik toko, nona Cut Ha," ucap Khaisan mempersilakan Cut Ha untuk berbincang dengan Felix.


"Selamat siang, pak Felix. Senang dengan kunjungan anda ke toko kami. Semoga barang yang anda inginkan akan anda dapat seluruhnya di toko kami," sahut Cut Ha dengan ramah. Namun, ada ekspresi tegang di wajahnya.


"Mari kita berbincang dalam kantor. Ada beberapa katalog yang barangkali memudahkan anda mencari barang yang anda perlukan," ucap Cut Ha dengan aura menyenangkan. Meski muncul raut tegang di wajahnya sesekali dan itu cukup mudah terlihat.


Meski Khaisan paham jika Felix dan Cut Ha sudah saling kenal, tapi gelagat ekspresi Cut Ha tidak bisa dipahami. Seperti ada sesuatu yang membuat wanita itu tertekan. Ada apa antra Cut Ha dan Felix sebenarnya? Khaisan sungguh merasa penasaran.


Cut Ha dan Felix sudah berada dalam kantor di toko hanya berdua. Khaisan dilarang sang tuan jelitanya untuk ikut masuk dan menunggu saja di luar. Namun, hingga Felix membuat pesanan dengan berbagai jenis barang dalam jumlah banyak, lelaki itu masih menahan Cut Ha untuk berbincang di ruangan.


"Berhentilah kamu dari terus mengancamku," ucap Cut Ha dengan nada yang dingin.


"Kenapa semalam kamu tidak datang?" tanya Felix dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak akan pernah datang," sahut Cut Ha dengan sengit.


"Kamu ingin foto-foto syurmu kusebarkan?" tanya Felix dengan seringai sinisnya. Wajah Cut Ha memerah dengan matanya yang melebar.


"Aku tidak menyangka jika Dias mendapat suami sebejat kamu!" Cut Ha berseru dengan lirih.


"Kalian sangat mengecewakanku. Kalian sudah menjebakku," ucap Felix dengan tajam.


"Jangan buruk sangka! Itu kemauanmu sendiri. Tidak ada yang memaksamu untuk menyukai Dias, tidak ada yang menuntut kamu agar menikahi Diaz!" seru Cut Ha membalas.


"Oh,, Keke.. Jadi kamu tidak merasa bersalah padaku? Kenapa waktu kamu menolakku, kamu tidak jujur jika kamu ini wanita kelainan. Kenapa?! Sampai aku menikah dengan Dias, dan akhirnya aku tau sendiri, jika kalian ini ternyata wanita menjijikkan??!" tanya Felix dengan emosi amarahnya.


"Kenapa kalian tidak mengatakan padaku dengan jujur. Mungkin saat itu aku bisa perlahan memahami. Tapi ini, aku sangat terkejut. Aku sangat-sangat kecewa pada kalian, Ke. Aku marah pada istriku juga sangat marah denganmu!!" ucap Felix dengan tajam.


"Kamu sudah jijik padaku. Lalu, untuk apa kamu mengancamku??" tanya Cut Ha berusaha tenang berkata. Menyembunyikan gemuruh resah di dadanya.


"Aku hanya ingin agar kamu paham. Lelaki lebih menyenangkan daripada kamu bermain dengan sesamamu, Ke!" ujar Felix mengancam.


"Apa aku salah? Kamu pernah bermain dengan lelaki?? Tidak pernah? Bagi kalian, alat-alat dari Jepang itu lebih menyenangkan??" tanya Felix dengan kalimat vulgarnya.


"Tutup mulutmu. Aku dan istrimu benar-benar sudah bertobat. Kamu tidak menghargainya? Siapa kamu?? Sedang Allah, Tuhan penciptamu saja akan mengampuni kami! Camkan itu, Felix!" seru Cut Ha dengan nada yang berapi. Mereka terus saling berseru dengan posisi yang sudah sama-sama berdiri.


"Sudahlah, Ke. Masih kuberi kamu kesempatan. Kamu jangan egois. Berkorbanlah sedikit untuk Dias, wanita yang pernah kamu cinta. Dias mungkin akan bunuh diri jika foto-foto kalian tersebar." Ancam Felix dengan dingin.


"Kamu keparat, dasar suami gila!" seru Cut Ha dengan rasa geram dan muak yang dahsyat.


"Ingat, Ke. Bukan kamu saja yang akan terkena. Tapi juga Dias. Maka, hubungi aku secepatnya. Tidak banyak, hanya satu kali saja, Ke," tandas Felix dengan dingin.


"Tidak sudi!" sengit Cut Ha dengan tajam.


"Oke, jika kesempatan kamu habis. Foto-foto itu akan terbit dengan menyertakan banyak tag. Tag namamu, Dias, orang tuamu, hingga toko besarmu ini atau juga toko milik orang tuamu??" tanya Felix dengan menyeringai mesum pada Cut Ha.


"Jangan melibatkan orang tuaku atau juga Dias!" seru Cut Ha sangat geram.


"Maka, tugas kamu menyelamatkan perasaan mereka, bukan? Berkorbanlah sedikit saja untuk mereka dengan tubuhmu, Ke," tandas Felix tanpa canggung. Pria ini diam-diam sangat terobsesi dengan Cut Ha.


"Lebih baik kamu tidak usah mengambil mengambil barang-barang dari tokoku! Aku seperti tidak sudi mengirim pesannanmu!" sengit Cut Ha meski tahu jika resikonya pun sama saja. Felix telah mengancamnya dengan tindakan yang sama.


"Kamu juga jangan coba-coba mempersulit urusan kerjaku, Cut. Kamu sudah mengerti akibatnya. Bersikap saja yang manis," ancam Felix dengan nada menekan. Cut Ha merasa muak yang sangat. Di matanya, Felix ibarat monster yang sangatlah menjijikkan.


"Apa bossmu di tempat kerjamu juga sama bejatnya denganmu?" tanya Cut Ha. Merasa heran dengan atasan yang memiliki seorang kaki tangan sebejat Felix.


"Kamu tidak perlu membahas orang lain. Baiklah, aku harus pergi. Ingat harga diri dan nama baikmu ada padaku. Kirimkan juga semua pesananku tadi ke home stay te ka secepatnya. Jangan coba-coba curang denganku, Ke."


Felix masih memberi ancaman lagi sebelum membuka pintu ruang kantor kecil itu dan pergi. Cut Ha bergegas membuntuti lelaki psikopat itu di belakangnya.


Tidak nampak Khaisan di sekitar luar kantor. Cut Ha mencarinya di luar dengan menyisir mata ke segala penjuru toko.


Merasa lega, lelaki yang dicari sedang memandangnya di ujung lorong toko. Khaisan nampak sambil berbincang serius denggan panggilan di ponselnya.


Khaisan baru menutup panggilan serunya dan berjalan mendekat ke arah Cut Ha yang sedang berdiri menunggu. Nampak juga sang manager yang berdiri di belakang Cut Ha, di ujung lorong yang berlawanan arah dengannya. Penampakan sikap tegang dan kaku di antara keduanya membuat Khaisan kian heran.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ