The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
76. Diharap Hamil



Tok! Tok! Tok!


Cut Ha berpaling dari memandang Khaisan, kakinya bergegas menuju pintu dan membuka. Sang pendamping telah berdiri bersama seorang pramusaji penginapan. Membawa trolley makanan dengan banyak menu sajian. Mendorong ke dalam dengan cepat.


Pramusaji lelaki itu menurunkan beberapa nampan makanan di meja sofa. Juga minuman dalam poci dan beberapa gelas pun menyertai. Sempat memandang sekilas pada Khaisan, wajah pramusaji itu datar saja yang sepertinya tidak mengenali bos besar di tempatnya menambang rupiah dan dollar.


Pramusaji bergegas keluar kamar bersama trolleynya. Cut Ha menyambar pintu dan segera menutup kembali dengan cepat. Meski sekilas, Khaisan dapat melihat jika Cut Ha telah mengunci pintu kamar. Khaisan merasa lega, itu adalah pertanda angin segar untuknya. Meski sikap Cut Ha tidak tampak manis sedikitpun padanya.


"Makanlah sepuasmu. Jangan khawatir, ini semua gratis dan sudah kulunasi seluruhnya."


Cut Ha bergegas duduk di sofa den menuang minuman jeruk dari poci ke gelas. Meletak saja di meja tanpa terus meneguk isinya.


Khaisan menyusul dan duduk dekat di sampingnya, Cut Ha diam tidak memberikan ekspresi dan reaksi. Diambilnya segelas minuman jeruk yang dituang Cut Ha tadi dan diminumnya hingga habis. Lalu diisinya lagi dengan air jeruk di poci pada gelas yang sama.


"Benarkah semua pria yang kamu bawa ke kamar tidak menyentuhmu?" tanya Khaisan setelah mengelap basah bibirnya.


"Sudah kukakatakan, tidak terkecuali kamu. Namun, mereka tidak seberani ini duduk denganku," ucap Cut Ha sambil menggeser duduk untuk menjauh dari Khaisan. Namun, Khaisan dengan sigap menangkap pinggang rampingnya.


"Jangan menjauh, sudah kubilang jika aku sangat merindukanmu, Cut," ucap Khaisan penuh tekanan.


"Aku,, aku akan berteriak," ucap Cut Ha bimbang. Membuat Khaisan semakin abai akan gertak sambal yang Cut Ha selalu katakan.


"Jawablah jujur, kenapa suamimu sebejat itu? Mengantarmu ke sini, lalu menjemputmu pagi-pagi?" tanya Khaisan. Cut Ha nampak terkejut.


"Kamu sudah tahu?" tanya Cut Ha terheran.


"Sudah rahasia umum tentangmu di sini, Cut," jawab Khaisan dengan tenang.


"Jawablah, kenapa suamimu sebodoh itu?" tanya Khaisan kembali. Sebelah tangan masih melingkar di pinggang Cut Ha dan mengunci gerakannya. Wanita itu mulai terasa jinak dengan sentuhan tangannya.


"Cut, katakan kenapa," tegur Khaisan sebab Cut Ha masih diam.


"Lepaskan dulu tanganmu, aku ingin duduk menjauh darimu," ucap Cut Ha dengan cepat. Ternyata masih juga merasa perlu bersikap angkuh dan menjaga jarak.


"Katakan," ucap Khaisan setelah menepikan pelukan tangannya perlahan. Disimaknya lekat wajah cantik yang sedang merambat menjauh darinya.


"Andres lemah syahwat," ucap Cut Ha sangat lirih. Wajahnya sambil ditekuk dalam ke bawah.


"Kamu yakin, Cut?" tanya Khaisan dengan lembut, mengenyahkan rasa terkejutnya. Wajah jelita tanpa bosan dipandang itu memandang Khaisan sebentar, kemudian kembali mengangguk dan menunduk.


"Sejak kapan? Apa akhir-akhir ini?" tanya Khaisan lembut dan perlahan.


"Sejak dulu, sejak awal menikah," sahut Cut Ha tetap dengan menunduk.


"Andres tidak pernah menyentuhmu, Cut?" tanya Khaisan merasa begitu iba dan trenyuh.


"Dia menyentuhku dengan caranya," ucap Cut Ha gemetar. Bahunya mendadak berguncang, kini kembali menangis terisak.


"Tidak sering. Sebab aku keberatan, aku tidak mau." Cut Ha mengusapi mata dan pipi yabg basah dengan tisu hotel di nampan.


"Andres tidak marah?" tanya Khaisan lagi. Cut Ha kembali mendongak memandangnya.


"Tidak, tetapi sesekali juga memaksaku. Namun, dia tetap tidak mampu melakukannya." Cut Ha kembali menangis terisak.


"Lalu dia mengantarkanmu ke sini?" tanya Khaisan hati-hati. Wajah indah yang basah itu kembali mengangguk.


"Kamu sangat tersiksa, Cut?" tanya Khaisan dengan rasa sangat sedih. Cut Ha memandang lekat Khaisan, wajahnya ternyata menggeleng.


"Lebih baik aku dikirimnya ke sini, daripada dia memaksa memuaskanku dengan caranya yang memuakkan. Tapi.." Cut Ha kembali menangis sesenggukan.


"Kenapa?" Khaisan semakin melembutkan nada suaranya, sangat trenyuh rasa jiwa dengan nasib Cut Ha yang tarnyata sangat miris.


"Andres berharap kehamilanku dari mengirimku ke sini. Orang tua kami mulai bertanya," terang Cut Ha masih terus lirih.


"Kamu sama sekali tidak pernah melakukan dengan lelaki bayaranmu, Cut?" tanya Khaisan memberanikan diri, seperti sesak saat menunggu Cut Ha menjawab apa adanya.


"Tidak, tidak sekali pun. Tempat ini kuakui sangat bagus, sangat profesional. Orang-orang yang datang cukup berwawasan dan pengertian. Sangat menghargai prinsip penolakanku. Juga,,, asal mereka sudah mendapat uang sewa dariku," ucap Cut Ha tampak sendu.


"Tapi, kamu membawa mereka semua ke kamar juga, Cut?" tanya Khaisan.


"Andres sangat teliti. Dia akan tahu apa saja yang kulakukan. Namun, tidak untuk apa yang kulakukan di dalam kamar," terang Cut Ha dan Khaisan pun akhirnya memahami.


"Apa uang Andres sangat banyak? Dari mana saja sumber uangnya, Cut?" tanya Khaisan ingin tahu.


"Aku tidak tahu. Namun, andai aku tahu, tidak akan kukatakan padamu. Bagaimanapun, Andres memperlakukanku sangat baik, dia sangat royal padaku," sahut Cut Ha tegas dan terdengar agak dingin.


"Apa sebab itu kamu bertahan di sampingnya?" tanya Khaisan dengan nada kurang suka.


"Aku pernah membicarakannya. Namun, dia sudah bersumpah tidak akan pernah menceraikan aku. Orang tuaku juga memandang bahwa Andres adalah lelaki serta suami yang begitu sempurna. Aku sangat lelah," sahut Cut Ha yang kini tanpa ekspresi sedikit pun.


Khaisan merasa sangat iba dan hatinya sangat nyeri sekali. Di matanya, Cut Ha sudah sangat putus asa dan tidak lagi memiliki sedikit saja harapan untuk hidup bahagia.


"Cut, apa kamu tidak ingin memiliki anak?" tanya Khaisan dengan lembut.


Lelaki itu kembali bergeser dan berpindah duduk dekat Cut Ha. Merasa lega, Cut Ha terus membiarkannya.


"Cut, bercerailah dengan Andres. Aku ingin menikah denganmu. Mintalah bercerai dari suamimu," ucap Khaisan tiba-tiba.


Cut Ha tampak terkejut sejenak. Namun, mata cantik yang berbinar itu semakin dingin menatapnya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ