
Felix kembali mendekat dan berusaha menyambar tangannya. Kali ini tangan besar Felix berhasil memegang tangan dan pinggang ramping Cut Ha yang tipis dan padat.
"Layani aku, Ke. Rasanya tidak sabar lagi, jangan coba mengulur inginku," bisik Felix seraya berusaha menarik Cut Ha agar berhadapan mendekat. Wanita yang sedang direngkuh terasa sedang kaku dan membatu.
"Kau lebih memilih siapa? Lebih mencintai dirimu sendiri atau lebih menyayangi ibumu??" tanya Felix mendesak.
Cut Ha kembali ditarik tangannya mendekat. Kali ini dengan kuat, penolakan dan pertahanan Cut Ha sama sekali tak bermakna.
Wanita yang setengah ragu antara diam dan melawan itu dengan mudah di bawa Felix ke atas tempat tidur. Felix menindih Cut Ha yang sedang berwajah sangat tegang, pucat dan bola matanya nampak melebar sempurna.
"Bersikap manislah, Ke. Akan kamu tahu jika denganku lebih menyenangkan daripada kamu lakukan dengan Dias!" gertak Felix di wajah Cut Ha.
"Jangan lakukan apapun padaku, Felix!! Aku sedang kotor!!" seru Cut Ha dengan keras.
"Kotor? Apa maksud kamu, Ke?" tanya Felix yang sudah mengungkung Cut Ha dengan rapat. Felix semakin menindihnya.
"Aku haid!!" lengking Cut Ha dengan keras.
Felix tertegun, menghentikan geraknya sejenak dan sedikit menjauhkan wajahnya.
"Wanita penipu!" hardik Felix setelah dengan cepat menyentuh milik Cut Ha di balik celana jins yang dikenakan. Tangan Felix berhenti di sana.
"Ini menjijikkan, menyingkir Felix!" Cut Ha berusaha menepis tangan Felix, meskipun usahanya sia-sia.
Bukan dengan tangan saja, tapi juga mendorong perut Felix dengan kaki dan tangan bersamaan. Tapi Felix sama sekali tak bergeser. Gerakan Cut Ha tidak ada kekuatan sedikit pun baginya.
"Jangan coba menipuku, Ke! Kamu bahkan tidak memakai penampung di inimu, hah!" gertak Felix yang kembali mengusapi milik Cut Ha. Tidak terasa menebal yang menandakan jika Cut Ha tidak meletak pembalut untuk menampung haidnya.
"Ini adalah hari-hari akhir haidku, hanya noda. Tapi tetap saja kotor. Apa istrimu tidak seperti ini? Apa kau terlalu buruk hingga tidak paham dengan siklus haid istrimu?!" tanya Cut Ha bertubi.
"Jangan bicara lagi, Ke. Tutup mulutmu!" seru Felix, tiba-tiba menggerakkan wajah lebih mendekat lagi. Felix akan mencium bibir Cut Ha.
"Aku ingin mandi. Biarkan aku bersuci dulu. Aku ingin keramas," ucap Cut Ha lirih berharap sambil memalingkan mukanya.
"Ah, alasan kamu, Ke! Kau hanya ingin mengulur waktu?!" hardik Felix nampak sangat kesal.
"Tidak, aku sungguh-sungguh. Setidaknya aku tak kan merasa jijik dan tidak kotor setelah mandi. Minggir Felix, aku ingin mandi. Sebentar saja!" seru Cut Ha dengan wajah memohon.
Felix yang sebelumnya tidak memiliki kasus apapun, sebenarnya adalah laki-laki baik. Hatinya sedang tertutup amarah, kecewa dan nafsu. Melihat tatapan mengiba Cut Ha, wanita yang pernah didamba, hatinya sedikit tersentuh.
"Tidak cukup lima menit. Dua puluh menit!" tawar Cut Ha dengan lantang. Meski terkejut dan merasa mual dengan ciuman yang baru dilakukan Felix padanya, Cut Ha berusaha nampak tenang. Segera meloncat bangun dan berdiri.
"Lima belas menit. Jangan sampai lebih. Lebih lama lagi, kau akan tahu akibatnya!" hardik Felix yang juga sudah duduk bersiaga. Berjaga jika Cut Ha mencuri melakukan sesuatu.
Cut Ha tidak lagi berkata-kata, kemudian berbalik badan untuk melesat ke dalam kamar mandi. Khawatir jika Felix berubah pikiran dan kembali menariknya ke atas tempat tidur. Cut Ha benar-benar ketakutan.
Tidak ingin menyulitkan diri, Cut Ha benar-benar mandi dan keramas. Ingin menarik simpati Felix agar menaruh rasa percaya padanya.
Mandinya tidak lama, sangat buru-buru dan tidak menghabiskan waktu lima menit. Rasanya sangat cemas andai Felix mendobrak pintu kamar mandi. Cut Ha merasa takut yang sangat.
Waktu tersisa sepuluh menit itulah yang digunakan Cut Ha untuk menata dirinya. Belati lipat kecil yang disimpan dalam saku hot pants masih aman tersangkut di dalam. Spray bius mini dia kembalikan di balik gelung lebat rambutnya. Berharap Felix tidak curiga dengan rambut basahnya yang digelung sebagian.
Tok! Tok!Tok!
Seperti putus saja rasa detak jantung di dadanya. Secepat kilat dipakai lagi celana jeans yang tadi belum dikenakan. Kini Cut Ha telah rapi kembali dengan celana panjang serta atasan blouse lengan panjangnya.
Ingin bersikap nampak manis, Cut Ha dengan cepat memburu pintu dan membukanya sambil merapal doa dalam hati. Yakin selalu ada keajaiban dariNya.
"Kamu sudah bersih, Ke?" tanya Felix dengan lembut. Tak disangka, Cut Ha memberinya senyum dan mengangguk.
Senyum Cut Ha membuat Felix merasa kalap seketika. Wanita yang sudah lama dipuja terlihat segar, wangi dan jelita. Darah Felix yang sudah memanas dan naik ke ubun-ubun kini terasa sudah jadi mendidih. Keinginan mesumnya tidak mungkin ditunda lagi.
"Felix, aku lapar sekali. Perutku sangat perih. Kamu tidak keberatan membelikanku makanan?" tanya Cut Ha dengan lembut memelas. Gelagat Felix yang meresahkan, ingin diulurnya dengan cara lain.
"Oh, Keke.. Beraninya kamu merasa lapar?!" hardik Felix dengan nampak geram. Wajah kerasnya memerah dan memandang Keke seperti akan menelan.
"Felix! Mau apa kamu?!" seru Cut Ha dengan rasa cemas dan takut.
Felix kembali menariknya. Cut Ha telah duduk di atas pangkuan Felix. Meski rasanya seperti mual dan jijik, ditahan untuk berusaha agar diam dan tenang. Tidak ingin membuat kemarahan Felix lebih tersulut lagi.
Felix sedang mengacungkan ponsel mini canggihnya. Cut Ha khawatir jika Felix bukan menggertak lagi. Namun, benar-benar melakukan ancamannya.
Cut Ha sangat takut jika aibnya kala dulu tersebar. Merasa belum saatnya melawan, Felix sedang siaga, tenaga lelaki itu sangat kuat luar biasa. Cut Ha harus bersikap manis sementara demi kondisi kesehatan sang mama yang harus diperjuangkan.
πΈπΈπππΈπΈ