The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
55. Susah Tidur



Cut Ha telah berdiri bersama Khaisan di samping tempat tidur. Tangan sebelah nya masih berpegang di tangan Khaisan dan tidak berniat melepas.


"Tidurlah, Cut. Aku jaga kamu di sini." Khaisan berkata sambil mendudukkan Cut Ha di ranjang.


Cut Ha menariknya untuk ikut duduk juga di tepi. Ingin sekali membahas, tapi sangatlah susah untuk memulai berbicara, bingung sekali rasanya.


"Ada apa, Cut?" tanya Khaisan bingung. Cut Ha termenung memandang cukup lama.


"Tidak. Aku akan tidur. Jangan pergi, pengawal Kha," ucap Cut Ha kemudian.


"Tidurlah. Aku tidak akan ke mana-mana pun," ucap Khaisan. Cut Ha pun mengangguk dengan menatap resah pada Khaisan.


Merasa sangat susah membuka mulut dan bingung harus mulai bicara bagaimana. Merasa jika Khaisan tidak peka sama sekali atau justru hanya main-main dan menggodanya saja. Cut Ha mendadak jadi ragu dan khawatir mendapat malu.


Cut Ha telah melepas sentuhan di bahunya. Khaisan merasa lega dari sesak dan tegang yang terus berusaha ditahan. Wanita itu telah merebah di atas tempat tidur empuk di sampingnya. Meminta pada Khaisan agar tidak pergi dan terus duduk di tepian ranjang menemani. Khaisan mengikuti keinginan sang nona meskipun tidak paham kenapa Cut Ha jadi begitu manja padanya.


Namun, Khaisan juga merasa debar keras di dada yang berusaha dia samarkan. Sangat tidak ingin jika Cut Ha sampai mendengar detak jantungnya yang kencang. Apalagi, Cut Ha telah melepas jaket rajut kesayangan dan meletak di samping kepalanya di sana.


Cut Ha dengan tubuh seksi itu hanya berbaju tidur selutut, berleher rendah dan tidak berlengan. Rupanya Cut Ha juga menyukai model dress tidur seperti itu. Model itu sering dipakainya belakangan ini dengan warna dan branded berlainan.


Bahkan baju tidur selututnya telah naik tinggi di paha saat merebah. Menolak saat Khaisan mencoba membentakan selimut untuk menutupi. Cut Ha beralasan jika obat itu sudah bereaksi dan membuat tubuhnya jadi sangat gerah.


Khaisan hanya bisa menyamarkan sengal nafasnya, Cut Ha seperti sengaja menggoda Khaisan dengan kemolekan tubuhnya di ranjang. Cut Ha seperti abai akan batas antara dirinya dan Khaisan.


Cut Ha tidak juga nampak tidur. Sangat gelisah dengan bergerak bolak balik tidak tenang. Khaisan terus memperhatikan seksama dengan rasa heran yang tak bisa lagi ditahan.


"Ada apa, Cut? Kamu belum tidur juga? Ini masih pukul tiga lebih. Masih bagus untuk tidur." Khaisan berdiri sejenak demi meluruskan punggungnya yang pegal.


"Ingin dijaga dekat," ucap Cut Ha yang kali ini dengan suara mengambang seperti mengigau. Nampak sekali tidak tenang.


"Aku sudah sangat dekat, Cut," sahut Khaisan yang kembali duduk di sebelahnya. Semakin resah sekali rasanya.


"Dekat lagi. Kurang dekat," protes Cut Ha dengan nada yang manja mengambang. Matanya sayu menatap. Cut Ha benar-benar menggodanya.


Menepi sudah sedikit warasnya. Menipis juga iman tagwanya. Menguap lagi kepatuhan pada pesan ketua agensinya. Hanya keinginan hati di raga yang sedang dimenangkan olehnya. Khaisan telah menarik Cut Ha dan dipeluknya dengan duduk bersama di tepian.


Wanita yang dipeluknya terasa kaku dan tegang. Mungkin Cut Ha tidak menyangka jika rayuannya akan membuat Khaisan nekat memeluknya sedemikian. Yang Cut Ha pun memang ingin tahu seberapa jauh ketahanan Khaisan menghadapi pancingannya.


Namun, tindakan Khaisan yang mengejutkan itu membuat hatinya teruja dan senyum berdebar di bibir. Rasanya sangat hangat, nyaman dan bahagia. Seperti tidak rela jika dua jam free time sang bodyguard berakhir.


"Sudah sangat dekat aku menjagamu, Cut," ucap Khaisan serak dan terdengar sendat di bibirnya. Cut Ha berpikir jika Khaisan sudah merasa tegang dan bisa jadi menahan marah.


"Terimakasih. Biarlah seperti ini saja sebentar dan jangan lebih dekat lagi. Apa kamu marah, pengawal Kha?" tanya Cut Ha dengan wajah memerah dan merasa sangat tegang.


"Aku tidak marah, Cut. Tidak masalah jika hanya seperti ini sebentar. Kamu juga tidak keberatan?" tanya Khaisan dengan pandangan yang dalam dan hangat. Cut Ha merasa sangat suka. Digelangkan kepalanya pertanda sama sekali tidak keberatan akan pelukan Khaisan.


"Kenapa kamu nampak tidak tenang? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Khaisan dengan terus memeluk.


"Iya, aku memang tidak bisa tidur. Kepalaku sakit. Aku sedang banyak pikiran, pengawal Kha," ucap Cut Ha dengan kepala tengadah pada Khaisan. Mereka saling pandang dengan tatapan menyesakkan.


"Apa yang membuatmu banyak pikiran? Apa kamu memikirkan tentang acara pertunanganmu? Sudah kah kamu bilang calon suamimu jika kamu sudah menentukan tempat di Home Stay Te Ka?" tanya Khaisan beruntun yang bisa jadi akan membuat Cut Ha kian berat kepalanya. Namun Khaisan juga sedikit mengencangkan pelukannya.


"Tidak. Sama sekali bukan itu yang kupikirkan. Lagipula aku lupa memberitahu pada Andres akan tempat yang sudah kupilih," sahut Cut Ha dengan lirih. Kembali seperti mengeluh dan bergumam.


"Jika bukan, lalu kenapa banyak pikiran, Cut?" tanya Khaisan merasa iba dan jadi khawatir. Tidak ingin jika diam-diam Cut Ha kembali memiliki masalah serius yang dipendamnya sendiri, seperti masalah beratnya dengan Felix waktu itu.


"Sebab,,, sebab kamulah aku banyak pikiran, pengawal Kha," Cut Ha berkata dengan memandang tajam Khaisan. Seolah tidak ingin terlewat bagaimana reaksi Khaisan akan ucapannya.


Khaisan memang terkejut. Bahkan sempat melepas peluknya sejenak dan memandang Cut Ha lekat-lekat. Mencari kesungguhan bicaranya barusan.


"Benarkah yang kamu katakan? Kesalahan apa yang sudah kubuat dan membebani pikiranmu, Cut?" tanya Khaisan lirih dan memburu. Sedikit menduga apa yang sedang di kepala Cut Ha. Lalu merengkuh Cut Ha lagi dan memeluknya sangat erat. Ingin membujuk agar Cut Ha mengatakan segala hal yang membebani perasaan.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ