
Theo sedang duduk menggelosor pada sofa panjang di kamar terselubung milik penguasa penginapan. Mengikuti gerak pemilik kamar yang berjalan mondar-mandir berkeliling kamar dengan ujung bola matanya. Theo yang merasa lelah sendiri, kini memilih memejamkan kelopak mata.
"Ini sudah sangat malam Theo, jadi diantar atau tidak?" tanya Khaisan yang seperti tidak suka jika Theo tertidur.
"Apa susah sangat bagimu menunggu? Simpan tenagamu untuk menyambut kedatangan istri orang itu, Bos Kha," sahut Theo dengan gerah.
"Jangan lupa, kamulah nanti yang keluar dan menjemput Cut Ha dari teman kamu itu, Theo," ucap Khaisan mengingatkan.
"Iyalah, ah! Calm down, Khaisan. Duduk saja dengan tenang, kekasihmu itu pasti akan datang sebentar lagi," ujar Theo merasa gemas dengan Khaisan yang tampak sangat resah.
"Kekasih? Aku ada kekasih??" gumam Khaisan sambil mendekati sofa dan duduk di seberang Theo. Wajah Khaisan tersenyum nampak cerah.
"Bucin," ucap Theo kembali menutup matanya. Memahami perasaan Khaisan yang sedang sangat jatuh cinta hingga sikapnya berubah konyol dan tidak bisa duduk tenang.
Theo ingin tertawa, tetapi takut karma. Merasa jika diri sedang hampa dengan tidak punya sesiapa pun nama wanita dalam benaknya. Rasanya juga rindu dan mengharap datangnya moment penuh debar dan semangat seperti yang sedang dirasa Khaisan saat itu.
"Te, apa pekerjaan Philips?" tanya Khaisan. Teringat bahwa Andres memiliki banyak uang dan ternyata sumber dompetnya dari Philips.
"Philips orang besar, Kha. Dia investor di Batam, punya banyak saham di beberapa industri perusahaan. Di Jakarta pun ada." Theo menerangkan sambil menutup mata.
"Bagaimana kamu bisa kenal baik dengan orang-orang seperti mereka?" tanya Khaisan lagi.
"Mereka ada paguyuban gay orang Riau, mantan istriku juga orang Riau. Meskipun perempuan, sering ikut pertemuan mereka. Aku pun juga dapat undangan dari klub mereka," ucap Theo.
"Apa di antara mereka ada yang menyukaimu??" tanya Khaisan sambil tersenyum lebar-lebar.
Theo langsung menggeliat dan meloncat bangun untuk duduk.
"Tidak ada!" seru Theo. Namun wajah itu tidak mampu menipu, wajahnya tersenyum!
"Kau bohong, Theo! Atau jangan-jangan kau ada menyukai mereka?!" Kali ini Khaisan tertawa terbahak.
"Kurang ajar kau, Khaisan!" Theo melempari Khaisan dengan beberapa bantal tanpa jeda. Khaisan membiarkan bantal-bantal itu mengenai wajah, dada dan juga di perut. Tidak ada niat untuk menangkisnya. Mereka berdua sama-sama sedang terengah sebab lelah tertawa.
"Hah, Theo, apa kau tahu, di mana Andres dan Phillips sering bertemu, haah?" tanya Khaisan di sela sisa engah tawanya.
"Tahulaahh!" sahut Theo cepat dengan sedikit tersengal.
"Di mana, Te?" Nafas dan ekspresi Khaisan sudah kembali ke mode normal.
"Mereka berjumpa tuh bukan sekedar makan saja. Pasti sambil melakukan hal itu. Tempat yang mereka suka ya di mana lagi kalau bukan di hotel??" jawab Theo dengan jelas.
"Bisakah kau membuat mereka mengunjungi penginapanmu?" tanya Khaisan tersenyum. Theo menoleh cepat pada Khaisan.
"Maksudmu membawa mereka agar menginap ke sini?" tanya Theo yang juga tersenyum. Khaisan tengah mengangguk.
"Jika sukses kubawa ke mari, kau mau membuat film dokumenternya?" tanya Theo tersenyum.
"Seperti itulah," jawab Khaisan dengan wajah yang masam.
"Untuk apa, kau mau ke mana, Te?" tanya Khaisan terheran.
"Senang-senang," sahut Theo.
"Jadi selama ini kau bekerja di sini, ternyata tidak merasa senang?" tanya Khaisan tersenyum. Rupanya pemilik penginapan itu sedang bagus susana hatinya hingga ingin terus saja bercanda.
"Selama ini aku pun sendiri mengurus penginapanmu ini. Sekarang, apa kau merasa tidak mampu mengurusi sendiri? Kau keberatan kutinggal sebentar saja??" tanya Theo dengan tidak tersenyum.
"Heish, kau pergilah senang-senang setelah urusanku beres, Theo. Aku curiga jika kau ini sudah kena gigitan Andres. Kau diam-diam sudah sedikit rabies,," Khaisan membuang muka dan tawanya.
"Kau semenjak bucin dengan istri orang semakin eror saja, Kha!" seru Theo sembil melempar bantalan lagi pada Khaisan.
Mereka sama-sama terkejut saat ponsel Theo nyaring berdering. Theo tersenyum masam dan mengangkat panggilan sambil memandang Khaisan yang terus saja tersenyum.
Khaisan mengangkat kedua alis pada Theo dengan maksud bertanya. Sang karib telah mengantongi ponsel ke dalam saku kemeja kembali beberapa detik yang lalu.
"Mereka sudah datang. Sebentar lagi kuantar istri orang itu ke kamar ini, buat saja sesuka hatimu. Tunggu dengan pergi gosok gigimu ke dalam kamar mandi!" seru Theo tersenyum sambil bangkit berdiri. Khaisan sedang menjeling geram padanya.
"Kau pikir apa yang akan kulakukan, Te?? Kurasa Andres memang sudah menularkan rabies padamu!" seru Khaisan sambil memandang punggung Theo yang hampir lenyap terhempas daun pintu. Lelaki itu keluar kamar melewati pintu balkon.
πΈ
Meski tidak ada rasa cinta segores saja pada Andres, tetap saja sangat sakit hatinya. Meski sebenarnya juga bahagia, Andres telah mengirimkan dirinya kepada lelaki itu, rasanya masih saja kecewa.
Tidak habis juga ratapan pernikahan gila penuh topengnya dengan Andres. Hanya lelaki tidak bermoral yang tega mengirim istrinya untuk dinikmati lelaki lain. Cut Ha merasa sangat muak pada suaminya. Tidak ada iba sedikit saja untuk Andres yang sebenarnya cukup miris dan tragis pada pilihan jalan hidupnya.
Seorang pria yang Cut Ha tidak pernah melihatnya, datang menghampirinya dan Andres di lobi. Cut Ha paham jika lelaki itu adalah pemilik nama dan identitas yang dipakai Khaisan pada acara kelam malam itu. Cut Ha bersiap untuk bermain topeng dengannya.
"Aku sudah memesankan kamar terbaik untuknya. Kau boleh meninggalkan hotel, aku sedang banyak kerja, Andria," ucap Theo pada Andres. Memandang Cut Ha dan segera tersenyum saat wanita mempesona itu memberinya senyum indah kepadanya.
"Aku mengerti, Bang Te. Bagaimana pelunasannya?" tanya Andres tampak bingung.
"Teleponlah aku satu jam lagi. Kita berbincang demi bicara tentang tarif dan pembayaran," ucap Theo dengan sikap acuh tak acuh.
Cut Ha memperhatikan Andres yang berinteraksi akrab dengan Theo Jayakarta. Merasa penampilan Theo cukup bergaya sehingga Cut Ha merasa penasaran dengan satu-satunya lelaki kepercayaan Khaisan di penginapannya saat ini.
"Sayangku, aku akan pulang. Sementara kau di sini dulu, kau bisa bertanya banyak hal jika bersamanya." Andres berkata serius dengan diiringi tunjuk jarinya pada Theo.
"Ayolah, Cut. Aku tidak sabar membawamu ke dalam kamar," ucap Theo kecil dan lirih.
"Ayolah, Theo." ucap Cut Ha sambil menyambar tas cantik dari meja sofa di lobi penginapan.
Cut Ha berjalan cepat melewati pintu lobi di bagian belakang. Theo baru saja membisiki jika Khaisan sedang berada di penginapan. Yang sekarang sedang menunggu dirinya di kamar pribadi Home Stay Te Ka, kamar dengan pintu rahasia di balik serumpun pohon palem.
πΈπΈπππΈπΈ