The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
50. Bertemu Andres



Cut Ha tertidur di ruang tamu saat Khaisan keluar dari kamar. Telah siap dengan baju rapi dan beraroma sangat wangi. Merasa enggan membangunkan Cut Ha yang nampak terlelap dengan membujur miring di sofa.


Enggan, sebab khawatir jika Cut Ha akan kembali membuatnya tergoda. Yang ternyata Khaisan mudah lena dan merasa sebagai lelaki lemah jika berhadapan dengan Cut Ha. Bahkan tidak disadari jika reaksi dirinya sudah sangat memalukan setelah berinteraksi rapat dengan Cut Ha.


Yang apesnya, Khaisan baru tahu tampilan miliknya ketika hendak mandi. Seketika hilang harga diri rasanya. Wibawa sebagai bodyguard dengan tarif selangit serasa tergadai dan dipertaruhkan.


Merasa tidak mungkin jika Cut Ha sampai tidak menyadari dan mengerti. Dia adalah wanita dewasa yang tentu sudah sangat berpengalaman. Meskipun Cut Ha belum pernah tidur bersama seorang lelaki sekalipun. Hanya berharap bahwa Cut Ha cukup berwawasan dan memahami jika hal seperti itu adalah reaksi normal dari seluruh lelaki di muka bumi.


"Pengawal Kha, kamu sudah siap?!" tanya Cut Ha terkejut. Kemudian melompat bangun dan meraih ponsel di meja yang sedang nyaring berdering. Cut Ha terbangun sebab itu.


Khaisan terdiam dengan memandang Cut Ha yang sedang menulis sebuah pesan. Cut Ha tidak ingin mengangkat panggilan Andres sebentar pun.


"Pengawal Kha, kenapa kamu lama sekali? Berapa kali kamu ini harus mandi sebenarnya? Aku jadi ketiduran menunggumu," tanya Cut Ha sambil menyimpan ponsel ke dalam tas. Kedua matanya sedang bekerjap beberapa kali berusaha menghempas nafsu tidurnya.


"Sorry, Cut. Perutku sempat sakit," jawab Khaisan beralasan. Namun nampak canggung dan hanya sekilas memandang Cut Ha.


"Sakit perut? Apa kamu masuk angin, pengawal Kha?" tanya Cut Ha perhatian. Nada cemas terdengar dari tanyanya.


"Tidak, Cut. Hanya sakit perut biasa. Sekarang sudah lega," sahut Khaisan menjelaskan.


Khaisan kembali tidak menatap Cut Ha seperti biasanya. Masih terbayang bagaimana perjuangannya di kamar mandi untuk menundukkan tegang miliknya agar tidak lagi menggarang tanpa disadari. Itu akan membuatnya malu pada Cut Ha jika sampai terjadi sekali lagi. Tidak ingin membuat Cut Ha merasa tidak nyaman bersamanya.


"Pengawal Kha, apa kita pergi sekarang? Benarkah perutmu sudah tidak sakit lagi?" tanya Cut Ha sambil berdiri. Ekspresinya biasa saja dan santai. Hal itu membuat Khaisan merasa aman dan lega.


"Iya, Cut. Ayo kita turun sekarang," sambut Khaisan. Telah bersikap santai dan tenang kembali. Mereka berdua pun meninggalkan kondominium dan menguncinya. Berjalan menuju lift dengan beriringan seperti hari-hari biasanya.


πŸ•Έ


Cut Ha bersama Khaisan telah meluncur meninggalkan kondominium menuju Nagoya Mall di mana Andres telah sangat lama menunggu. Panggilan Andres benar-benar berakhir saat Cut Ha menjanjikan sampai di lokasi lima belas menit kemudian.


"Jika kamu tidak sedang mengawal, apa kamu pulang ke sini, pengawal Kha?" tanya Cut Ha. Rasanya tidak suka jika Khaisan membungkam.


"Iya, Cut. Tetapi juga perlu pergi ke Home Stay untuk membuang jenuhku," jawab Khaisan.


"Hanya sebab bosan? Bukan bekerja? Apa Felix bekerja sangat bagus?" tanya Cut Ha. Teringat lelaki gila suami sahabat yang pernah mencoreng harga dirinya.


"Dia bekerja sangat bagus untukku, Cut," gumam Khaisan menjawab.


"Kamu merasa sangat kehilangan?" tanya Cut Ha datar. Merasa kecewa andai Khaisan iba pada Felix.


"Pengawal Kha, kamu baik sekali padaku," sahut Cut Ha lirih. Merasa bersyukur memiliki Khaisan sebagai bodyguard nya.


"Itu sudah tugasku, Cut," ucap Khaisan menegaskan.


"Hanya sebab tugas?" tanya Cut Ha berguman sangat lirih.


Khaisan menghembus nafas sangat panjang. Meskipun lirih, namun juga mendengar gumaman Cut Ha. Menduga-duga apa maksud ucapan Cut Ha yang lirih itu. Apakah Cut Ha mengharap hubungan istimewa dengannya? Apa Cut Ha ingin sebuah hubungan yang lebih dari sekadar bodyguard?


Namun, Khaisan membungkam tidak menanggapi. Tidak ingin membuat gangguan di detik-detik mendekati hari bahagia Cut Ha dan keluarganya. Merasa iba andai Cut Ha berubah goyah dan menjalani pernikahan bersama Andres dengan terpaksa. Khaisan sadar jika dirinya harus menjaga jarak dengan Cut Ha.


Mereka sampai di Nagoya Mall tepat waktu. Andres telah menunggu di dalam mall, di tempat penempahan perhiasan terbaik di seluruh kota Batam.


Khaisan sempat melihat seorang lelaki tampan yang bersama Andres, buru-buru pergi saat Cut Ha sedang berjalan menuju ke ruang tunggu di toko pemesanan perhiasan. Yakin jika Cut Ha yang lebih pendek darinya itu tidak bisa melihatnya.


Ruang tunggu itu terasa nyaman, menyerupai cafe mini dan bernama sama dengan toko pemesanan perhiasan. Meja Andres telah ada dua gelas moca susu dan dua potong puding madu. Lelaki tampan itu berdiri demi menyambut kedatangan sang calon istri yang sangat anggun dan jelita dengan kerudung di kepalanya.


"Apa kabar, Cut. Tumben kamu berkerudung. Kamu cantik sekali, Cut." Andres memuji sambil menarik kursi empuk untuk Cut Ha. Khaisan pun menyusul dan berdiri di belakangnya. Andres sempat melirik wajah Khaisan yang tampan dengan tajam.


"Terimakasih, bang Andres. Maaf aku sangat terlambat," ucap Cut Ha berusaha menunjuk rasa sesalnya. Meskipun Khaisan yakin jika itu hanyalah topeng tipuan.


"Tidak masalah, Cut. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu, kenapa tidak mengangkat panggilanku," terang Andres dengan pandangan hangat pada Cut Ha.


"Apakah ini tidak melebihi jam istirahatmu?" tanya Cut Ha. Ingat jika Andres adalah pegawai negara dan hari ini bukanlah waktu libur.


"Tidak masalah, Cut. Aku adalah kepala cabang, memiliki kebebasan menggunakan waktu," ucap Andres dengan tersenyum lebarnya.


Andres yang kian tampan dengan senyuman, namun tidak bagi Khaisan. Di matanya, Andres adalah lelaki yang memiliki sifat sombong. Pegawai pemerintah yang suka membanggakan jabatan dan memanfaatkan kedudukan.


Andress merasa memiliki kebebasan menggunakan waktu. Sedang Khaisan menganggap jika Andres merasa bebas mencuri waktu saat kerja.


"Selamat siang, apakah Anda berdua akan memesan sepasang cincin berlian?" Seorang wanita cantik berseragam dan memasang logo toko di dada menghampiri dan menyapa.


"Benar, berikan katalog modelnya pada calon istriku," ucap Andres angkuh.


Ekor matanya sedang melirik Khaisan yang kebetulan juga sedang memandang. Hati Andres merasa puas saat Khaisan mengalihkan tatapan mata darinya. Andres menganggap bahwa bodyguard Cut Ha yang berpenampilan gagah dan sangat rupawan itu merasa segan akan dirinya yang terhormat.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ