The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
73. Banyak Diminati



Khaisan berjalan lambat mengamati orang-orang di dalam aula dengan diikuti pendampingnya. Mendadak, wanita berkerudung modis dan cantik tampak berjalan menghampiri.


"Maaf, apakah anda bisa dipilih?" tanya wanita itu tanpa basa basi dengan nada yang lembut dan sopan. Terkesan memiliki dedikasi yang baik. Memandang seluruh penampilan Khaisan sekilas dan kembali fokus di wajah bertopengnya.


"Apa yang Anda ingin dariku?" tanya Khaisan juga menyambut tanpa basa basi.


"Saya ingin menyewa Anda malam ini," sahut wanita itu dengan berubah canggung. Sorot matanya tampak bimbang.


"Apakah nona belum menikah?" tanya Khaisan merasa iba. Gadis berkerudung modis itu sangat cantik.


"Sudah. Pernikahanku jalan tujuh tahun. Suamiku sudah putus asa, kami tidak juga memiliki anak." Wanita cantik itu sekilas tampak sedih.


"Apa suamimu tidak akan marah, istri cantiknya mengikuti acara seperti ini?" tanya Khaisan.


"Tidak, kami sudah sepakat. Ini adalah usaha kami untuk memiliki anak dengan mudah," terangnya dengan wajah merona.


"Kenapa tidak mencoba alternatif lain?" tanya Khaisan lagi. Melirik pendamping wanita itu, juga pendampingnya sendiri yang tampak bersikap tidak peduli.


"Aku takut mengikuti apapun program. Aku ingin memiliki anak dengan alamiah dan normal. Meskipun dengan cara seperti ini dan,,, mungkin juga tidak terpuji. Tapi aku merasa lebih aman seperti ini. Bagaimana, apa Anda bersedia kusewa?" tanya wanita cantik itu buru-buru.


"Ini sungguh kehormatan bagiku, Nona. Namun, maafkan aku, bukan maksud untuk menolak pilihanmu. Aku hanya tidak ingin menyebar benih demi menghasilkan anak di luar pernikahan. Maafkan aku, nona. Anda sangat cantik sekali, cobalah lanjut berkeliling dan memilih lagi. Maafkan aku," ucap Khaisan, raut bicaranya sungguh-sungguh dan berusaha sesopan mungkin.


"Apa tujuan Anda sebagai member?" tanyanya.


"Tujuan saya hanya ingin bergembira dengan melihat-lihat saja untuk sementara ini," jelas Khaisan. Wanita cantik itu terdiam dan menghela nafas.


"Baiklah jika prinsip Anda seperti itu. Saya datang ke sini sebab memiliki tujuan, yakni demi memiliki keturunan. Saat melihat Anda, saya tidak merasa ragu, tetapi Anda tidak bersedia. Maafkan saya. Permisi," pamit wanita itu tidak kalah sopan terdengar. Bicaranya jelas dan lembut. Belum beranjak dan masih berdiri di depan Khaisan.


"Semoga segera mendapat partner yang Anda cari, Nona," ucap Khaisan pada wanita yang masih memandangnya itu.


"Terimakasih. Mari, Tuan,," pamitnya dengan ucapan terkesan enggan meninggalkan Khaisan.


Tidak hanya sekali Khaisan dihampiri wanita yang ingin meminang. Namun, Khaisan terus menolak dengan bermacam alasan sopan yang tidak menyinggung. Khaisan terus berjalan, sampai pada sebuah pandangan yang sangat menarik perhatiannya.


"Apakah dikerubuti lelaki pertanda wanita itu sangat diminati?" tanya Khaisan pada pendampingnya, langkahnya terhenti.


"Tentu saja, Sir," sahut pendamping di belakangnya. Paham siapa yang dimaksudkan Khaisan.


Nampak di sudut aula yang agak remang gemerlapan, serta bersuasana syahdu dan roman, perempuan berambut indah sedang duduk tampak punggung cantiknya. Dikelilingi beberapa lelaki, ada yang berlalu pergi dan beberapa masih bertahan.


"Ikutlah aku melihatnya," kata Khaisan.


"Jika setelah melihatnya merasa tertarik, Anda bisa mengajukan agar wanita itu memilihmu, Sir. Sebab, dia tidak pernah mau dipilih. Dia hanya mendaftar sebagai pemilih. Berapapun pria mencoba menawarnya dengan nominal tinggi, wanita itu tidak mau. Jika beruntung, wanita itu akan tertarik dan memilih Anda sebagai pria sewanya malam ini," ucap pendamping.


"Andai dia memilihku, apakah dia akan membayar berapapun harga yang akan kuminta?" tanya Khaisan lagi.


"Iya, wanita jelita itu terkenal sangat royal. Meski seringkali adalah pengunjung pilihan yang mengajukan diri, tetapi dia tetap akan menyetujui sebanyak yang diminta pilihannya." Pendampingnya Khaisan terus menerangkan dengan jelas dan sabar.


Khaisan telah berdiri di antara lelaki yang mencoba merayu. Meski telah ditegaskan oleh pendamping jika si wanita tidak ingin dipilih, beberapa pria pemilih masih mencoba mengajukan dirinya.


Khaisan merasa penasaran dengan wajah pemilik punggung seksi dengan rambut berkilau. Mencoba menyelip di kursi pojok untuk bisa melihat bagian depan demi tampak wajahnya.


Wanita yang duduk di kursi dan menghadap pojok dinding itu sedang memegang ponsel, tidak peduli dengan para pria yang mengerumuni. Dipercayakan segala jawab penolakan kepada pendamping lelakinya.


Degub jantung Khaisan yang keras, semakin kencang dan seperti akan putus saja rasanya. Meski sedikit menduga wanita berambut indah itu siapa, tetapi sangat terkejut dengan kenyataan yang dilihatnya.


Ya, wanita yang sedang dicari dan sangat membuatnya penasaran, penyebab dirinya kembali ke Indonesia lebih cepat. Dia adalah Cut Ha, penghidup rasa ingin tahunya yang menggebu. Wanita yang membuat Khaisan terpaksa berkunjung di acara hitam ini dengan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.


Tidak bisa dipahami, bagaimana bisa dan alasan apa yang membawa Cut Ha hadir di acara sesat seperti ini. Apalagi wanita cantik itu hanya mendaftar sebagai pemilihnya. Khaisan benar-benar tidak habis pikir untuk mencoba memahami.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ