
Cut Ha masih terus membasuh wajah di wastafel meskipun terlihat baru mandi. Rambutnya tergerai dan masih meneteskan titik air. Juga belum mengenakan baju dan hanya menggunakan handuk lilit.
Terus membasuh wajah dan tidak ada rasa puasnya. Terlihat sangat sedih meskipun sudah terlalu puas menangis. Merasa tangisannya sia-sia sebab orang yang ditangisi sudah tidak peduli sama sekali padanya. Bahkan untuk sekedar mengaktifkan ponsel dan melihat isi pesan pun tidak.
Cut Ha menyudahi membasuh wajah yang rasanya sudah seperti gelagapan dan terasa pedih matanya. Andres yang memaksa mencium di pipi kanan dan kiri di depan pintu, saat calon suaminya itu mengantar kembali ke kamar membuatnya menangis lagi dan sedih.
Sudah dipakai baju tidur panjang dengan rapi, kini duduk di meja rias dan menyisir rambut basahnya dengan pelan. Lalu dihair dryer rambutnya agar cepat mengering. Cut Ha ingin segera rebah sebab rasanya sangat lelah.
Sudah hampir tengah malam dan acara tunangannya memang baru saja selesai. Terpaksa undur diri terlebih dulu sebelum para tamu terlihat lengang, masih banyak para lelaki rekan Andres yang bergerombol di sana.
Mungkin setelah mengantar Cut Ha kembali ke kamar dan memaksa ciuman dua kali di pipi, Andres pun kembali ke sana untuk gabung begadang bersama. Lelaki suka sekali seperti itu.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi itu terdengar beberapa saat setelah ponsel Cut Ha berdering banyak kali. Namun, rasanya malas untuk mengangkat sebab yakin jika Andreslah yang sedang menghubungi. Kini ketukan di pintu kembali mengusiknya.
Merasa tidak etis terus mengabaikan, sebab mulai ragu jika jangan-jangan bukanlah Andres yang mengetuk. Cut Ha meletak sisir dan berdiri, menghampiri ranjang untuk menyambar ponselnya.
Sangat terkejut rasanya, dering ponsel bukan sebab Andres yang memanggil. Namun, nama Velingga tertera sebagai missed calls di layar ponselnya. Beberapa pesan dari sang sahabat yang disayang pun juga terkirim pedanya.
Cut Ha tidak membaca pesan dan langsung berjalan cepat ke pintu. Mengambil handlenya yang langsung diputar dan ditarik. Meski sudah diharap, sangatlah surprise untuknya. Velingga dan Errushqi sudah berdiri di depan pintu dan tersenyum.
"Ling, kamu nggak jadi pulang?? Mana Erick dan Erlika??!" tanya Cut Ha berseru lirih sebab malam telah larut. Sangat heran dengan Velingga yang sudah pamit pulang beberapa jam lalu, kini kembali tampak di matanya.
"Aku ingin bicara hal penting denganmu, Cut. Boleh aku masuk? Kamu tidak berkerudung?" tanya Velingga. Melirik Errushqi yang ternyata sudah berdiri memunggungi mereka.
"Aku baru saja mandi, Ling. Ayo masuk, mas Rushqi bagaimana?" tanya Cut Ha sambil menunjuk Errushqi.
"Biar menunggu sebentar di luar," jawab Velingga. Segera melesat masuk dengan sedikit mendorong Cut Ha ke kamar.
"Ada hal penting apa, Ling??" tanya Cut Ha tidak sabar.
"Apa kamu sangat ingin bertemu bodyguardmu??" tanya Velingga tergesa.
"Sebenarnya aku segan denganmu, Ling. Tapi aku sangat tersiksa. Aku ingin bertemu dia untuk yang terakhir kalinya." Cut Ha menampakkan raut segan dan sedihnya.
"Bukan saatnya bicara hal segan itu, Cut. Sekarang, jika kamu ingin bertemu dengan dia, mas Rushqi akan mengantar kamu." Velingga berbicara serius dengan rasa ibanya. Cut Ha nampak menangis lagi, mungkin memang sangat rindu dan ingin bertemu.
"Iya, Ling, akan kutemui. Antar aku, di mana dia?" tanya Cut Ha dengan bingung sambil mengelap air matanya. Tidak ingin bertanya bagaimana Errushqi bertemu dengan Khaisan.
"Bersiaplah, mana kerudung kamu, Cut?" Velingga mengamati rambut Cut Ha yang panjang dan berkilau.
Cut Ha nampak salah tingkah, memegangi rambut dan kepalanya.
"Aku lupa tidak membawa ganti, semua dibawa tukang rias. Bagaimana ini, Ling?" Cut Ha tampak resah dengan alibinya.
"Kerudung yang buat tunangan tadi?" tanya Velingga mengingatkan. Saat acara tukar cincin, Cut Ha bak dewi malam dengan gaun mewah berkerudung.
"Dibawa tukang rias juga, sama dengan gaunnya sekalian, Ling," jawab Cut Ha. Kali ini tidak berbohong, memang benar faktanya. Tim rias mengemas semua peralatan sesuai kebutuhan Cut Ha, tidak ingin kamar calon pengantin menjadi berantakan.
"Ya sudah, pakai yang ada aja. Ini sudah malam, tidak pantas lebih malam lagi. Nanti mas Rush akan menunggumu di luar. Kamu akan menemui bodyguardmu di kamarnya. Jangan lama-lama ya Cut, setan di mana-mana."
"Ini, pakai ini. Hanya sebentar kurasa tidak masalah, Cut. Tidak mungkin juga kupinjamkan kerudungku sama kamu, lalu aku pakai apa? Lagipula ini buru-buru. Aku khawatir bodyguardmu tiba-tiba pergi atau juga pindah kamar."
Velingga memasangkan handuk di kepala Cut Ha dengan rapi. Kemudian melepas salah satu pin jarum dari kerudungnya sendiri. Dipakai untuk mengunci lipatan kerudung handuk yang sudah dibentuk sedemikian rupa di kepala Cut Ha olehnya.
Cut Ha menahan sebak di dada. Rasanya sungguh sedih juga merasa malu sendiri. Cut Ha sangat terharu dengan perlakuan tulus Velingga padanya. Apalagi sikap Velingga yang tegas mempertahankan auratnya, padahal Cut Ha sudah tidak peduli lagi dengan hal itu lagi selama ini.
Rasanya sangat ingin menangis sebab perasaan yang bercampur baur tak menentu. Haru dengan kebaikan Velingga, kemunafikan dirinya sendiri, juga sebentar lagi akan bertemu dengan lelaki yang dirindu.
"Sudah, Cut. Kamu sangat cantik," puji Velingga sungguh-sungguh. Merasa jika kecantikan Cut Ha semakin berlipat dari tahun ke tahun. Tidak termakan usia yang terus saja bertambah.
"Di mana, Ling?" tanya Cut Ha saat Velingga masih mengamati dirinya.
"Untung kamu pakai baju tidur panjang, Cut. Ayolah," gumam Velingga lirih. Disambarnya tangan Cut Ha dan dibawanya keluar kamar.
"Mas, yuk kita antar. Sebaiknya aku juga ikut saja." Velingga lirih berbicara saat Errushqi sudah berdiri mendekati.
"Ayo. Ayolah, Cut." Errushqi mengangguk sambil menyapa Cut Ha dan kemudian memimpin berjalan.
Cut Ha dan Velingga berjalan di belakang sambil saling menggenggam tangan. Haru dan sedih yang Cut Ha rasakan, sedikit hilang melayang. Berganti degub debar sebab akan bertemu Khaisan. Yang entah tidak tahu di mana lelaki itu bermalam. Hanya terus mengikuti Errushqi yang berjalan cepat di depan.
Aula luas di lantai dua yang beberapa saat lalu masih ramai dengan gerombol lelaki, kini lengang tak seorang pun nampak di sana. Hanya temaram sebab lampu-lampu pun juga sudah dipadamkan. Errushqi merasa sangat bersyukur dengan keadaan yang menguntungkan ini.
Cut Ha dan Velingga yang sama-sama tidak tahu menahu, mengikuti Errushqi menyelip pintu di balik rumpun palem yang lebat. Mereka kini mulai berjalan di lorong.
"Mas Rush!" panggil Velingga berseru lirih. Errushqi berbalik dan kini mereka bertiga berhenti.
"Ada apa, Ling?" tanya Errushqi terheran.
"Aku berjaga di sini saja. Aku takut jika calon suami Cut Ha mencari. Andai seperti itu, aku bisa menahannya sebentar," ucap Velingga dengan tegas dan agak lirih.
"Baiklah, Ling. Aku hanya sebentar," Errushqi pun mengangguk patuh akan ucapan sang istri. Memandang Cut Ha dengan tatap meminta pengertian. Cut Ha pun mengangguk memahami.
"Aku paham, hanya sebentar," ucap Cut Ha sambil memandang Errushqi dan Velingga.
"Cut, jangan lama, ya. Ingat, jika kalian ngapa-ngapain, kami pun juga dosa. Aku tahu kamu rindu, tapi jangan buat iya-iya sama bodyguardmu di sana. Aku nganter kamu, sebab bodyguardmu akan pergi jauh setelah acaramu. Kupikir, tidak salah sangat jika kalian jumpa sebentar, sekedar say hello saja ya, Cut," ucap Velingga dengan lembut.
"Aku paham maksud kamu, Ling," sahut Cut Ha mengangguk.
"Ayo, Cut," tegur Errushqi. Cut Ha mengangguk dan berbalik mengikuti Errushqi. Berjalan cepat dan tidak lagi memandang Velingga.
Velingga tertegun memandang punggung Cut Ha yang cantik dan berayun. Merasa jika Cut Ha sedang tidak sungguh-sungguh pada janjinya. Merasa jika Cut Ha akan berbuat satu hal yang sudah disimpan rapat di kepalanya. Kata hati kecilnya seperti itu, entah benar atau tidaknya Velingga tidak tahu.
Rasanya cemas dan was-was. Tetapi apa bisa dibuat, Velingga sangat paham derita rasa sang sahabat. Mengingat dulu dirinyapun pernah terpuruk sebab sakitnya patah hati oleh orang yang sama.
Harapan dan doanya untuk Cut Ha agar meraih yang terbaik dan akhirnya bahagia. Velingga sangat tidak rela dan ikut merasa sakit andai Cut Ha ternyata menderita.
πΈπΈπππΈπΈ