The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
45. Elvira



Memang rasanya bosan juga hanya duduk diam di meja makan setelah menghabiskan isi piring. Cut Ha pergi ke belakang untuk menghilangkan jenuh seperti yang dianjurkan Khaisan. Tidak berminat untuk menyusul Khaisan ke depan. Cut Ha merasa jika dirinya tidak ada urusan, meski sebenarnya juga merasa penasaran. Seperti apa perempuan yang sedang di upayakan oleh orang tua untuk Khaisan.


Meskipun di lantai dua, kondominium elite ini memiliki taman kecil dan kolam renang di tiap unitnya. Memang tidak luas, tapi cukup untuk menenuhi kebutuhan renang penghuninya.


Ternyata, ada juga mushola kecil dan juga ruang baca. Meski tidak ada tanaman lain kecuali tanaman hias lidah mertua dan pohon anggur merambat, rasanya sangat teduh. Suply angin sangat semilir dengan hawa yang segar. Terasa sangat menyenangkan sekali di belakang.


Sebenarnya sangat ingin merendam diri di dalan kolam renang. Air yang nampak steril dan jernih itu seperti melambai merayu agar diceburi. Tapi Cut Ha menahan keinginanya. Merasa malu sendiri dengan style kerudung pilihanya kali ini. Sedang berenang berkerudung, tentu sangat repot sekali bagi Cut Ha.


Cut Ha memilih tenggelam di ruang bacaan. Namun, bukan membaca, tetapi sekadar melihat buku apa saja yang disimpan dalam rak. Sebagian buku-bukunya bertulis huruf kanji negara Jepang. Yang Cut Ha sama sekali tidak mengerti dan merasa menjadi orang buta huruf.


Yakin jika itu adalah buku-buku koleksi ayah Khaisan. Atau juga Khaisan, bisakah lelaki itu membaca dan berbicara bahasa Jepang? Rasanya tidak mungkin tidak bisa. Demikian juga dengan mommynya. Tiba-tiba Cut Ha merasa menjadi orang yang kurang berwawasan di antara mereka.


Lama-lama bosan juga. Cut Ha yang tidak terlalu gemar membaca buku, hanya ingin melihat-lihat kategori buku. Dari buku-buku yang dipajang, Cut Ha bisa menduga bagaimana keluarga Khaisan.


Sang mommy, bisa jadi bernama Riana, sesuai nama yang tertulis tangan di sampul depan buku kebanyakan. Buku yang sebagian tentang resep memasak dan tips hidup sehat. Bisa dipastikan jika mommy Riana sangat suka memasak dan membuat aneka cemilan. Juga sangat rajin berolahraga.


Ayah Khaisan bernama Ahmed Tauji, sesuai yang banyak ditulis tangan di cover buku. Cut Ha menyangka jika ayah Khaisan juga menyukai ilmu dagang dan bisnisnya. Serta gemar dengan tanaman anggur dan pasti buah manisnya. Banyak buku yang mengulas tentang tanaman buah dan anggur.


Sudah sangat lama dan tidak ada lagi yang perlu ditinjau. Cut Ha ingin kembali ke dapur untuk mengambil minuman. Rasanya sangat haus meski beranda itu terasa sepoi dan semilir.


"Heih,, bossnya Khaisan! Sini duduk bersama! Momi baru bikin es jus anggur, manis dan segar sekali. Ini asli lho, anggur tanaman ayahnya Khaisan yang di sana."


Mommy Riana yang bersemangat itu melambai pada Cut Ha dengan membawa segelas minuman warna hijau. Tanaman anggur merambat di samping kolam memang sedang berbuah lebat dan sudah berwarna hijau cerah sedikit kekuningan.


"Ayo sini duduk lagi, kita minum anggur bareng-bareng," sambut mommy lagi saat Cut Ha hampir mendekati meja makan.


"Terimakasih," sahut Cut Ha sambil mengangguk pada mommy Riana.


Cut Ha menyapu penghuni meja saat itu. Benar yang disangka, Khaisan sedang makan, lelaki itu baru saja meneguk gelas anggur. Ada seorang perempuan muda berparas cantik di depannya. Mengenakan kerudung cukup lebar dan anggun.


Juga seorang lelaki berumur nampak tampan di samping Khaisan. Cut Ha menduga jika dia adalah ayah dari Khaisan.


"Duduklah, Cut. Kenalkan, dia ayahku," sapa Khaisan setelah meletak gelas anggurnya di meja.


"Iya," sahut Cut Ha merasa canggung.


Memandang lelaki tua berkharisma di samping Khaisan. Wajah mereka agak mirip. Rambutnya juga selebat Khaisan, hanya bedanya sudah muncul banyak uban yang jelas nampak dan tidak berminat di semirnya.


"Hai tuan, saya Cut Ha," sapa Cut Ha dengan melempar senyuman.


"Hai juga Cut Ha. Duduklah," sambut ayah Khaisan dengan membalas senyum Cut Ha.


Cut Ha duduk dengan pelan di sisi meja berlainan. Memandang perempuan muda cantik itu yang juga memandang pada Cut Ha.


"Dia Elvira, Cut Ha. Calon mantu Mommy."


"Terimakasih," ucap Cut Ha pada mommy setelah melempar senyum pada Elvira.


Wanita bermata agak sipit itu membalas dengan senyum lebar hingga nampak giginya yang rapi dan putih. Elvira cantik sekali.


"Cut Ha, kamu makan lagi?" tanya mommy.


"Tidak, terimakasih, nyonya." Cut Ha menggeleng.


"Apa kamu tadi mencicipi anggur dari pohon langsung?" tanya Khaisan. Memandang Cut Ha dan menghentikan gerak sendoknya.


"Tidak, aku tidak berpikir untuk itu. Lagipula letak buahnya sangat tinggi. Aku tidak sampai." Cut Ha menggeleng dan menjawab pada Khaisan.


"Itulah Dedi kamu, Kha. Menyiksaku, dia sengaja kasih rambat tinggi. Biar mommy nggak petik-petik," keluh mommy dengan sewot.


"Iya, sebab kamu asal petik saja, Mi. Bikin rusak tanamanku saja," sahut ayahnya Khaisan.


"Huh, memang papi lebih milih tanaman anggur ketimbang bikin hepi momi," keluh mommy Riana lagi.


"Mami kan bisa hepi dengan banyak cara lain. Kalo anggurku rusak, momi yang hepi, tapi papi yang lunglai," sungut sang ayah membela dirinya. Ayah Khaisan sangat fasih berbahasa Indonesia. Hanya logatnya sering jadi kaku.


"Emm, maaf. Pohon anggur itu siapa yang merawat jika Anda berdua kembali ke negara Jepang?" tanya Cut Ha pada orang tua Khaisan. Merasa jika hal ini cukup menarik untuk diketahuinya.


"Khaisan akan mengatur orang bagian kebun dari rumah penginapannya untuk datang ke sini. Mungkin satu minggu sekali," sahut mommy tersenyum yakin sekali. Matanya juga sambil menjeling pada anak lelaki.


"Mana ada satu minggu satu kali, yang ada pohon-pohon anggur Dedi akan mati. Tiga hari sekali itu, Mom," protes Khaisan pada kepedean mommynya yang sok paham.


"Momi kamu ini memang tidak menghargai jerih kita, Kha," sahut sang ayah memberi dukungan pada putranya.


"Sudah-sudah. Cepat habiskan itu makanmu. Khaisan itu buru-buru, dia lagi kerja." Mommy Riana memutus perdebatan dengan sang suami.


"Cut Ha, apa kamu keberatan menunggu Khaisan sebentar saja. Dia akan antar Elvira, Momi dan Dedi ke Nagoya Hospital. Atau kamu ikut??" tanya mommy Riana berganti topik.


"Apa pengawal Kha akan ikut pergi masuk?" tanya Cut Ha dengan memandang Khaisan.


"Tidak. Hanya mengantar mereka bertiga ke depan Nagoya Hospital. Apa kamu ingin ikut?" tanya Khaisan dengan pandangan yang teduh.


"Tidak, pengawal Kha. Maaf, kenapa kamu yang mengantar, bukankah Deddimu juga terbiasa sendiri?" tanya Cut Ha cepat.


Berpikir jika sebenarnya Khaisan sedang bekerja padanya. Merasa berhak membolehkan atau juga berhak melarang apa saja yang dilakukan sang bodyguard.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ