The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
58. Berpisah



"Ma,,! Bertahan sebentar, Ma! Kutelpon dokter Kalvin!" Pak Latif nampak panik namun terlihat sudah biasa. Kini sedang menghubungi seorang dokter keluarga.


"Apa perlu kubawa istri Anda ke kamar, pak Latif?" tanya Khaisan menyembunyikan resahnya. Pak Latif sudah mengakhiri panggilan pada dokter keluarga.


"Iya, tolong bawakan ke kamar. Setelah itu segera pergilah. Istriku sedang kambuh jantung lemahnya." Pak Latif berbicara canggung dan agak panik.


Khaisan segera mengangkat nyonya Latif dan mengikuti arah kamar yang ditunjuk pak Latif dengan sangat cepat. Nyonya Latif masih memejam dan meringis sambil memegangi dada sebelah kirinya.


"Terimakasih, pengawal Khaisan. Dokterku sebentar lagi datang. Kamu bisa pergi sekarang," ucap pak Latif kembali.


"Pernikahan antara putriku dan Andres sudah paten. Jangan berharap apapun lagi padaku."


"Tolong antarkan putriku pulang kemari secepatnya. Mamanya ingin dia datang dan menemaninya di sini. Setelah itu tinggalkan jauh-jauh putriku. Kumohon mengertilah, pengawal Khaisan," ucap pak Latif agak lirih.


Kali ini bicara pak Latif agak pelan, bukan lagi keras dan sinis. Namun, masih saja terasa tegasnya. Memandang Khaisan dengan gurat wajah yang cemas.


" Semoga istri Anda segera sembuh. Saya permisi, Pak Latif," pamit Khaisan tanpa basa-basi panjang lagi. Berusaha menghempas rasa bersalah dan khawatir.


Khaisan mengerti perasaan pak Latif sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Yakin jika keputusan dan penolakannya memang sudah tidak mungkin ditawar lagi. Meski terasa sakit dengan hati yang patah, Khaisan menyanggupi pesan lelaki kukuh itu.


πŸ•Έ


Cut Ha nampak berdiri di pintu saat Khaisan datang dan melewati pagar rumah. Lalu mengikuti hingga masuk ke dalam garasi. Menyongsong Khaisan yang sedang keluar dari pintu mobil.


"Pengawal Kha, bagaimana?!" sambut Cut Ha dengan tanya yang berdebar. Wajahnya lekat memandangi Khaisan.


"Ayo, kita masuk ke dalam rumah dulu, Cut!" sahut Khaisan mengambil tangan Cut Ha dan digandeng menuju ke dalam rumah.


"Bagaimana?" tanya Cut Ha lagi. Khaisan telah duduk di sofa panjang yang sama dengan yang ditempatinya. Mereka duduk saling menyerong berhadapan.


"Bersiaplah sedikit cepat, Cut. Ibumu sangat ingin melihatmu," ucap Khaisan lembut dan tegas. Sangat tenang dan sama sekali tidak ada kepanikan di wajahnya.


"Kenapa? Bagaimana hasil perbincanganmu dengan orang tuaku, pengawal Kha?" Cut Ha kembali bertanya tidak sabar.


"Kita bahas setelah sampai di sana. Ibumu sangat menunggumu, Cut," Khaisan memandang tegas Cut Ha sambil menepuk bahunya sekali. Bermaksud agar Cut Ha segera bersiap.


"Kenapa menjelaskan saja harus mengulur waktu. Kamu menikahi aku apa tidak??" tanya Cut Ha dengan raut kembali sedih. Matanya nampak berkaca-kaca. Mungkin Cut Ha sudah merasa gelagat kegagalan. Khaisan berpaling, tidak ingin melihat kesedihan di wajah cantik itu , sakit.


"Kuambil tas dan jaketku," pamit Cut Ha dengan suara sedihnya. Terdengar langkah kaki menjauh dari ruang sofa.


"Sudah siap, pengawal Kha!" panggil Cut Ha dengan langsung berjalan ke arah pintu dan keluar. Tidak lagi menunggu Khaisan bersamanya.


Mobil meluncur kencang di jalanan menuju ke pusat kota di Nagoya. Membawa Khaisan dan pemiliknya menuju rumah besar milik orang tua. Sang bodyguard yang sebentar lagi pensiun dini itu nampak mengemudi dengan suntuk dan tegang.


Cut Ha yakin dengan gulung serabut kusut yang sedang memenuhi kepala Khaisan. Menduga jika Khaisan sedang menanggung kekecewaan besar di hatinya. Lelaki itu telah gagal. Cut Ha merasa begitu sedih dan sakit tiba-tiba. Air mata yang sudah menggenang sedari tadi jatuh mengalir juga di pipinya.


"Cut, kamu menangis?" Khaisan bertanya dengan kesusahan. Ternyata sulit sekali berbicara. Mulut dan hati sama-sama serasa dikunci, sebab perasaannya sakit sekali. Ini adalah perjalanan menuju perpisahan. Kebersamaan terakhir dengan sang nona. Cut Ha akan ditinggal pergi Khaisan di rumah orang tuanya.


"Hik,,, hik,,, hik,,,"


Cut Ha hanya terus terisak menangis. Mungkin sama dengan Khaisan. Kesusahan berbicara. Yakin jika sangkaannya bahwa Khaisan mendapat penolakan dari orang tuanya memang benar.


"Sabar, Cut. Aku pun sakit sekali. Serasa tidak ada hari esok. Tapi ingatlah, Cut. Kita hanya tinggal menjalani. Semua sudah diaturNya. Ingatlah juga, masih ada orang tua yang sayang padamu. Ibumu melahirkan kamu, ayah dan ibumu membesarkan kamu dengan tulus. Sekarang saatnya membalas kasih sayang mereka. Patuhi saja apa yang jadi impian dan keinginan mereka."


Khaisan meredam tangis Cut Ha dengan lembut. Memposisikan diri sebagai anak yang juga mengasihi orang tua. Meski sakit dan retak yang dia rasa di hati akan sangat lama, tetapi Khaisan mencoba menutupi dan rela.


"Hik,,,, hik,,, hik,,, hik..."


Cut Ha masih terus saja menangis dan kini justru semakin kencang terisak. Pilu sekali mendengarnya. Khaisan hingga berkaca-kaca di kedua bola matanya. Tidak sanggup berkata-kata juga tidak mampu berbuat apapun.


Lebih tepat, Khaisan mengeraskan diri untuk membiarkan Cut Ha menangis sepuas hati. Perasaan sebab menangis akan terasa lebih baik setelahnya. Daripada berbicara atau pun dengah sebuah sentuhan yang akan selalu kurang dan tidak ada puas dirasakan.


Bahkan sampai di rumah orang tuanya pun, Cut Ha masih terisak dan tersedu. Khaisan duduk diam nampak tegar meski rasanya seperti dirajam. Menunggu Cut Ha hingga reda tangisnya atau memulai turun dari mobil lebih dulu. Namun, Cut Ha terus saja menangis.


"Cut, sabarlah. Mau bagaimana lagi, kita mungkin bukan jodoh. Jika jodoh, apapun yang menimpa, akan bersama juga, Cut," ucap Khaisan berusaha kembali meredam. Sakit juga membiarkan Cut Ha terus menangis tersedu.


"Lekas turun, Cut. Ibumu kritis. Mungkin shock dengan kedatanganku saat tadi," ucap Khaisan akhirnya. Seperti yang diharap, Cut Ha menoleh terkejut.


"Mamaku? Jantungnya kambuh?!" tanya Cut Ha nampak sangat cemas.


"Iya, mama kamu kritis," sahut Khaisan.


Cut Ha tidak lagi menunggu. Segera membuka pintu dan meloncat keluar. Seperti lupa dengan pilu hatinya sesaat yang lalu. Khaisan pun sangat memakhlumi hal itu yang memang sudah diduganya.


Bisa saja Khaisan langsung pergi dan meninggalkan Cut Ha begitu saja. Mengingat permintaan pak Latif memanglah demikian. Tapi perintah itu diabaikan, Khaisan turun demi berpamitan dan melihat Cut Ha terakhir kalinya. Bukan ikut masuk ke dalam rumah, tetapi hanya menunggu di teras samping belakang toko. Yakin jika Cut Ha akan keluar kembali untuk mencarinya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ