The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
81. Sepakat



Pelayan yang mengantarkan pesanan susulan baru saja berlalu. Andres dan Theo sama-sama sedang menyambar cangkir minuman mereka yang masih terasa hangatnya. Kemudian meletaknya lagi juga hampir berbarengan.


"Andria, aku ingin bertanya, jawablah jujur andai kau tahu jawabannya. Kudengar semalam istrimu mendesahkan satu nama lelaki. Istrimu bilang itu adalah nama bodyguardnya. Kau tahu siapa?" ucap Theo tiba-tiba. Andres tampak terkejut.


"Apa nama itu Khaisan??" tanya Andres kasar dengan sangat benar.


"Kau tahu?" tanya Theo. Melirik Khaisan di seberang, lelaki tampan itu sedang membenarkan duduknya.


"Istriku sempat bersitegang dengan orang tuanya sebelum kami menikah. Tentu saja aku tahu sebabnya, nama itulah masalahnya." Andres terdiam setelah berbicara.


"Kenapa kau tidak mencari lelaki itu demi membahagiakan istrimu?" tanya Theo.


"Tidak. Aku tidak suka istriku dengan lelaki itu," jawab Andres.


"Kenapa?" tanya Theo.


"Apa kamu paham jika kukatakan akupun ingin mendekati pengawalnya? Tapi aku sudah memiliki Phillips," sahut Andres. Wajah tampannya terlihat memerah. Tentu saja Theo terkejut, cepat diliriknya Khaisan yang sedang meminum moka dari cangkirnya dengan buru-buru.


"Jadi, ada kecenderunganmu juga menyukai bodyguard calon istrimu waktu itu?" tanya Theo. Berusaha untuk tidak tersenyum.


"Anggap saja begitu, Bang Te," sahut Andres membuang muka. Theo kembali melirik Khaisan yang sedang menggaruk rambut dan kepalanya.


"Tetapi, apa Philips tidak keberatan kamu menikah? Tidak takut kamu berselingkuh dengan istrimu sendiri?" tanya Theo mendesak.


"Apa kau lupa, Philips pun sepertiku. Juga menikahi wanita," ucap Andres dengan cepat.


"Apa dia juga punya anak?" tanya Theo sangat penasaran.


"Banyak, tetapi bukan anaknya, anak pria-pria lain," sahut Andres dengan lancar dan tidak keberatan menjawab. Theo mungkin sedang merapal doa penjinak dengan menyebut nama Andres.


"Jadi, kau ingin meniru lelakimu?" tanya Theo.


"Anggap saja begitu," jawab Andres.


"Bagaimana jika ternyata aku dan istrimu gagal memiliki anak?" tanya Theo yang seperti akan kembali ke topik masalah.


"Tidak masalah, asal kau bisa selalu menyenangkan istriku, Bang Te. Tetapi tolong usahakan agar istriku bisa hamil," ujar Andres penuh harap.


"Bagaimana, Bang Te? Apa kau bersedia??" tanya Andres tampak penuh harapan.


"Kubayar mahal. Jauh lebih banyak dari bayaranmu di penginapan ini," ucap Andres dengan angkuh menambahkan.


"Andria, baiklah, aku ambil tawaranmu. Tetapi ada syaratnya," sahut Theo.


"Apa??" tanya Andres tidak sabar.


"Seperti yang kau tahu, aku bekerja di sini dan tinggal juga di sini. Maka akan kubawa istrimu tinggal di sini. Jika kau tidak keberatan," ucap Theo dengan syarat setujunya. Andres nampak terheran.


"Bukankah kau hanya bekerja di sini? Apa atasanmu tidak masalah, kau menyimpan wanita di sini, Bang Te?" tanya Andres menyelidik tampak heran.


"Tidak akan masalah. Bosku sangat sibuk dengan urusannya sendiri Dia jarang di penginapan. Seringkali bolak balik antara Tokyo dan Batam," terang Theo meyakinkan.


"Lagipula, akan kudaftarkan istrimu sebagai pengunjung penginapan yang menyewa kamar atas namanya sendiri. Bagaimana, Andria?" tanya Theo pada Andres yang sejenak lalu karam pada puding susu dan madu lezat itu.


"Iyalah, Bang Te. Kutitip sementara istriku di sini. Jagalah baik-baik. Usahakan sendiri bagaimana agar istriku hamil dengan cepat," ucap Andres dengan memandang Theo sungguh-sungguh.


"Baiklah, aku paham. Habiskan puding dan minummu, sebentar lagi adzan maghrib," ucap Theo mengandung maksud bersegera.


"Bang Te," tiba-tiba Andres memanggil. Theo memandangnya.


"Ada apa?" tanya Theo.


"Bukankah kau sudah lama menikah, tetapi satu anak pun dengan Vega kau tidak punya?" tanya Andres mengejutkan. Theo melirik Khaisan sejenak, yang dilirik sedang menunjuk jempol lagi sambil menahan senyum. Theo kembali memandang Andres.


"Vega, kurang bagus bibitnya, itu kata dokter. Aku pun kurang paham. Jangan tanya lagi apapun padaku, Andria. Jika kau yakin, antarlah segera istrimu. Jika kau ragu, aku tidak masalah. Aku justru bebas mengikuti acara itu lagi," ucap Theo dengan santai.


"Baiklah, aku yakin dengan kemampuanmu, Bang Te. Setidaknya, kau mampu menyenangkan istriku. Aku terlanjur sayang pada Cut Ha, istriku."


Andres tampak berdiri, puding itu sudah habis. Sedang minuman dalam cangkir masih tersisa setengah, Andres tidak sanggup lagi menghabiskan. Suasana pun hampir remang, adzan maghrib sebentar lagi berkumandang.


"Salam buat Philips dariku," ucap Theo pada Andres yang berjalan di sampingnya.


"Akan kusampaikan. Mungkin dia akan terkejut saat kukatakan kau ada di Batam sini, Bang Te." Andres menimpali dengan terus lurus berjalan.


"Ya. Jangan katakan padanya jika kau membayarku untuk istrimu, Andria," ucap Theo yang merasa gengsi jika dirinya bisa jadi akan famous sebagai seorang gigolo.


"Aku tidak janji. Sebab mulutku tidak akan terkontrol jika bersamanya," ujar Andres dengan jujur.


"Kau sudah bucin sesat yang parah, Andria," keluh Theo menyayangkan. Sepertinya Andres sudah susah tertolong. Namun, masih ada bagusnya bahwa Andres tidak berupaya mengubah bentuk ciptaanNya!!


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ