The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
74. Menawarkan Diri



Khaisan bergeser kembali dan mendekati pendamping yang setia menunggunya. "Aku ingin kamu bantu pengajuan diriku pada wanita ini. Aku akan berdiri di tempatku barusan. Teruslah buat pengajuan sampai wanita itu mau melihatku dan berminat padaku. Aps kamu paham?" tanya Khaisan.


Pria bermember palsu itu bukan sekadar berbicara, juga sambil menyelip beberapa lembar rupiah merah pada pendampingnya.


"Saya mengerti, Sir. Kembalilah ke sana," ucap lelaki itu menunjuk kursi pojok di depan Cut Ha yang baru ditinggal Khaisan.


"Sir, apa tidak sebaiknya melepas topeng?" tanya pendamping dengan sopan.


"Kurasa belum waktunya kulepas," ucap Khaisan, memahami niat baik pendampingnya.


"Baiklah, Sir. Silahkan kembali ke sana," sahut pendamping.


Khaisan bergeser lagi menuju kursi pojok tempatnya tadi berdiri demi melihat lagi wajah wanita pemilih yang memanglah benar Cut Ha.


Lelaki tegap itu kini berdiri gagah di sana. Memandang pendamping yang telah siaga dan bergerak mendekati Cut Ha. Menyelip di antara para pria yang masih berdiri dan ada juga yang duduk seperti Cut Ha.


"Maaf, Nona. Tuan saya sangat tertarik dengan kecantikan Anda. Harap pilihlah tuan saya malam ini. Dia sedang berdiri di depan Anda di kursi pojok," ucap pendamping itu dengan agak membungkuk.


Cut Ha menutup layar ponsel, mengambil gelas minumnya, lalu meneguk sambil memandang lurus ke depan. Memang benar, sedang ada lelaki bagus berdiri di kursi pojok. Namun, tanpa sedikit pun ekspresi, wajah cantik itu kembali menunduk dan memandangi ponsel di pangkuan.


Pendampingnya Khaisan kembali membungkuk dan berbicara pada Cut Ha.


"Maaf, nona. Tuan saya adalah member baru dan ini pertama kali untuknya. Dia sedang mengalami kemelut rumah tangga. Namun, dia berpribadi sangat menarik. Telah beberapa kali menolak wanita cantik yang ingin memilihnya. Dia telah menemukan Anda dan hanya tertarik padamu, Nona. Kurasa dia sangat kooperatif untuk dibawa bincang seperti apapun yang Anda inginkan. Lihatlah, betapa menariknya dia, Nona," ucap sang pendamping. Coba mempromosikan Khaisan.


Tidak sia-sia, Cut Ha memandang Khaisan lagi cukup lama. Pria dengan rahang dan bibir sempurna itu tampak tersenyum dan samar mengangguk. Berharap wanita yang kian jelita dari tahun ke tahun, mendapat kesan padanya. Ingin sekali melepas topeng dan menunjukkan wajah, tetapi Khaisan tidak yakin bagaimana reaksi Cut Ha mendapati dirinya.


Seperti tadi juga, setelah lama memandang, Cut Ha kembali menunduk tanpa sepatah pun berkomentar. Berekspresi datar dan kembali memandang layar ponselnya.


Khaisan merasa hanya sia-sia jika terus berdiri saja di sana. Kemudian bergeser dari kursi pojok mendekati pendampingnya dan Cut Ha. Lebih mendekat lagi pada wanita teridola itu dan lalu membungkuk dekat di leher jenjangnya yang cerah.


"Kutunggu kabar baik darimu di mejaku. Aku tidak meminta tarif, hanya berharap agar kamu memilihku saja sudah cukup. Mejaku tepat di depan panggung. Benar- benar kutunggu," bisik Khaisan pada Cut Ha.


Penguasa penginapan yang tidak melihat jika Cut Ha sedang terkejut dan tertegun, kini berdiri tegak dan mundur. Cut Ha tidak tampak meresponnya. Wanita yang cukup diidolakan banyak pria dalam acara gelap itu tampak tidak peduli dengan permohonan yang diajukan Khaisan.


"Bujuklah sekali lagi pada wanita ini. Jika dia memilihku, dan jika kamu ingin, bekerjalah baik-baik padaku. Aku akan membayarmu dengan bagus," bisik Khaisan sangat lirih pada sang pendamping.


"Akan saya usahakan, Sir," sambut pendamping sambil mengangguk.


Khaisan segera berlalu dari meja Cut Ha menuju ke mejanya semula. Tidak ingin terlihat lama ikut mengelilingi Cut Ha, juga tidak ingin menjadi bagian pemuja wanita yang sedang teridola. Namun, Khaisan juga sedang berpikir keras, bagaimana cara mendapatkan wanita spesial itu malam ini.


Tenyata, moment duduk telah membuka kesempatan pada para wanita pemilih untuk coba meminang Khaisan. Kini sang pemilik penginapan tak ubahnya seperti yang sedang dialami oleh Cut Ha.


Khaisan menghadapi dan menolaknya sendiri saat sendirian. Pendampingnya datang sesaat kemudian, sedikit membungkuk dan berbisik pada Khaisan.


"Apa tuan tidak ingin mempertimbangkan mereka sedikit pun?" tanya pendampingnya.


"Sudah saya duga. Saat Anda duduk, akan lebih banyak wanita yang akan menghampiri meja Anda, Sir," ucap pendamping itu dengan senyum yang terbit di bibirnya. Khaisan menaikkan kedua alis lebatnya tinggi-tinggi. Pendampingnya yang masih muda itu belum pernah tampak senyum sedari datang.


"Siapa namamu?" tanya Khaisan pada pendampingnya. Para wanita peminang telah berhasil ditolak halus agar berlalu dan belum ada yang datang kembali.


"Raul, Sir," jawab pendamping dengan nama Raul.


"Berapa umur kamu, Raul?" tanya Khaisan.


"Dua puluh enam, Sir," jawab Raul dengan jelas.


Khaisan terdiam setelah memberi anggukan tanda mengerti. Sudah menyangka jika Raul jauh lebih muda darinya, kini Khaisan berusia jalan di usia tiga puluh lima tahun. Khaisan terlihat sebagai pria matang dan kelewat tampan di balik topeng Zorronya.


"Sir, pendamping wanita jelita itu sedang berjalan. Kurasa sedang menuju ke mejamu." Raul berbisik tiba-tiba di samping Khaisan.


Meskipun ini kejutan, Khaisan berusaha tenang. Tetap duduk lurus dan santai di posisinya semula. Gejolak untuk berpaling pada orang yang disebut pendampingnya, ditindas dengan detak jantung yang kencang. Kian laju saat terasa ada orang lain tengah mendekat padanya.


"Selamat malam, tuan. Nonaku yang tadi anda inginkan, berminat untuk membawa Anda bersamanya malam ini. Jika Anda masih menginginkannya, silahkan tunggu dipintu keluar lima menit lagi," ucap pendamping yang dimaksudkan oleh Raul padanya. Khaisan tidak ingin mengulur waktu lebih lama.


"Katakan padanya, aku akan berjalan menuju pintu keluar sekarang juga," sahut Khaisan sambil berdiri dengan cepat.


"Terimakasih, Tuan. Permisi," pamit pendamping itu, berjalan cepat menjauhi meja Khaisan. Merasa lega dengan sambutan baiknya yang cepat.


"Raul, kita berhasil," ucap Khaisan tidak lagi menyembunyikan ekspresi cerah gembiranya.


"Anda tampak sangat gembira. Padahal wanita-wanita yang Anda tolak tadi, beberapa juga terlihat mempesona luar biasa," ucap Raul dengan nada yang heran. Mereka telah berjalan menuju pintu keluar di aula.


"Raul, apa kamu tahu, kenapa wanita yang memilihku itu mendatangi acara ini?" tanya Khaisan pada Raul di belakangnya. Abai pada ucapan Raul barusan.


"Kami kurang paham alasan tepatnya, Sir. Namun, dia datang dengan diantar suaminya, pulang juga selalu dijemput suaminya. Mungkin juga seperti wanita berkerudung itu, menginginkan keturunan, Tuan," ucap Raul.


"Selama saya mendampingi member lelaki di acara ini, baru Andalah memberku yang dipilihnya. Saya merasa ikut senang. Wanita yang Anda inginkan memang sangat cantik menggoda dan seksi, Tuan," ucap Raul tersenyum. Khaisan menoleh dengan mata terpicing.


"Raul, lebih baik kamu diamlah. Jangan pernah bahas tentang wanita itu dengan siapa pun." Khaisan tiba-tiba melempar hardikan pada pendampingnya dengan aura serius dan tajam.


"Saya mengerti, maafkan saya," sambut Raul dengan menyimpan rasa heran akan ekspresi Khaisan yang baginya mengejutkan.


"Dia sedang menyusulmu menuju kemari, Tuan," ucap Raul. Ingin menepis rasa canggungnya pada Khaisan. Lelaki Bertopeng yang sangat gagah itu baru saja mengangguk.


"Dia memang sangat indah, Raul," gumam Khaisan lirih, tetapi masih bisa didengar.


Raul terusik dengan gumaman Khaisan yang berisi pujian. Diperhatikannya bola mata tajam yang tampak berkilat itu di balik topeng. Ada sorot puja dan damba pada tatapan di kedua bola mata sang Tuan.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ