The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
71. Dua Tahun Kemudian..



Negeri Sakura sedang bertabur bunga pink sakura yang berguguran. Menghampar indah memenuhi jalanan di sepanjang jalur perkotaan yang belum sempat dibersihkan. Pohon yang ditanam di sepanjang jalan sebelah kiri dan kanan, serasa tidak pernah kehabisan stock bunga untuk digugurkan bersama hembusan angin semilirnya.


Negara Matahari Terbit yang berposisi di paling ujung timur belahan bumi dunia itu sedang mengalami musim gugur. Dengan hawa khas yang hangat dan sedikit terasa dingin. Yang mana musim gugur adalah peralihan dua musim, dari musim panas menuju musim dingin. Waktu sangat tepat untuk menjelajahi alam raya di Jepang dengan rasa sangat nyaman, tidak akan kepanasan juga tidak terasa kedinginan.


Di Bandar Udara International Narita, Jepang..


Pria tegap berkacamata hitam kelam, sedang menuju badan pesawat dengan jalan super cepat. Demi mengikuti arahan pramugari untuk bergerak laju, sebab dirinya datang hanya lima menit sebelum pesawat dijadwalkan bertolak. Pesawat yang dinaiki akan mengudara dari bandara Narita-Jepang menuju pulau Batam-Indonesia.


Tiga belas jam kemudian...


Pria berkacamata itu terlihat sangat tampan setelah menghempas penutup mata gelap di wajahnya. Berjalan menuju pintu keluar setelah mendapat berbagi rentet prosedur periksa dari petugas dengan singkat. Tanpa bertele-tele, pria mempesona itu dilepas begitu saja dengan mudah.


Kini telah meluncur kencang dengan seorang driver yang telah setia menunggu menjemputnya. Membelah jalan raya meninggalkan bandara internasional Hang Nadim di Nongsa-Batam menuju kota industri Muka Kuning di Batam.


Driver telah membawanya dengan aman memasuki sebuah penginapan super bersih dan terasa amat nyaman. Properti sekaligus aset besar milik pribadi yang sudah dua tahun tidak pernah dilihatnya. Dari orang kepercayaan terpilih sajalan pria tampan itu akan rutin mendapat laporan detail penginapannya.


"Kamu katakan pada Theo untuk menemuiku," ucap pria tampan itu pada driver penginapan.


"Apakah di kamar pribadi anda di lantai dua, sir?" tanya driver muda itu. Pria tampan yang tak lain bernama Terraputra Khaisan, pemilik sah penginapan sedang mengangguk membenarkan.


"Katakan untuk menemuiku tiga puluh menit lagi, aku akan mandi sebentar," terang Khaisan dengan wajah cerah dan berwibawa.


"Baik, Sir. Permisi," pamit driver sambil berundur yang kemudian berbalik dan berjalan pergi.


Khaisan melangkah cepat dan panjang menuju kamar pribadi melewati pintu yang terselubung rumpun palem di aula. Bisa saja Khaisan langsung melewati pintu depan di balkon. Namun, dirinya lebih suka melewati lorong panjang dan lengang di belakang.


Baginya, melewati lorong akan memberikan kesan mendalam, sekaligus pengingat bahwa penginapan itu masih selalu miliknya dan terus menunggunya datang kembali.


Namun, jika melalui pintu depan, akan kurang berkesan. Sebab sangat mudah memasuki ke dalam dan serasa sama dengan hotel-hotel lain yang sering Khaisan kunjungi. Hal itu akan membuatnya seperti lupa akan beban dan tanggung jawabnya pada Home Stay.


Tok! Tok! Tok!


Khaisan baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk lilit kecil di pinggul. Bergegas menuju almari dan mengeluarkan baju handuk yang terlipat dan wangi. Kedatangannya ke penginapan telah disiapkan oleh Theo dengan sempurna.


Theo adalah asisten sekaligus kaki tangannya di penginapan. Pendatang dari kota Jakarta yang sedang bermasalah dengan rumah tangganya.


Sang istri yang berdarah Riau, bermain curang di belakangnya sekaligus menggelapkan hampir seluruh kekayaan Theo dengan lihai. Gayung pun tersambut, Theo yang sedang gulung tikar pun bertemu Khaisan yang sudah terlalu lama saling kenal.


Belajar dari pengalaman, dikhianati wanita terdekat dan bagian dari separuh nafasnya dengan tidak disangka, Theo jadi semakin berdedikasi, jeli, dan loyal. Tidak sia-sia Khaisan memilih Theo sebagai asisten dan kaki tangannya di Home Stay Te Ka.


"Masuk, Theo," sapa Khaisan saat berjabat tangan dengan Theo.


Khaisan membawa Theo ke dalam kamar. Mereka duduk bersama di sofa. Theo berselonjor dan bersandar, pria dengan status tidak jelas, duda bukan suami pun tidak, tampak sangat lelah dan sedikit pucat.


"Kamu tidak sehat, Theo?" tanya Khaisan dengan memperhatikan seksama pada wajah Theo.


"Rebahkan saja kepalamu," ucap Khaisan sambil melempar bantalan pada Theo.


"Terimakasih," sahut Theo sambil benar-benar merebah.


Khaisan pergi ke almari dan menarik selembar boxer. Memakainya di depan almari dengan santai. Sambil melirik Theo yang sudah memejam mata, tapi tidak tidur.


Theo adalah teman akrab saat tinggal bersama di rumah kontrakan kota Malang. Saat itu, mereka sama-sama masih sebagai mahasiswa dan kuliah di universitas yang sama. Yaitu Universitas Negeri Brawijaya kota Malang.


Theo yang berasal dari kota Jakarta, sering mengikuti Khaisan pulang mudik ke rumah kakek dan neneknya di Blitar hampir tiap minggu. Merasa terlalu jauh jika harus kembali ke Jakarta dengan waktu libur yang tidak panjang. Maka itu, tidak ragu jika Theo dan Khaisan cukup akrab dan tidak nampak saling segan. Sikap keduanya sangatlah biasa dan tidak lagi jaga image apapun.


"Theo," panggil Khaisan.


"Ya, Boss," sahut Theo yang ternyata tidak tidur.


"Pertemuan mereka malam ini tidak diundur?" tanya Khaisan. Menggelosor juga di sofa panjang, mereka berseberangan.


"Pertemuan tidak diundur, tapi waktunya lebih malam lagi, boss." Theo menerangkan.


"Tidurlah jika lelah, Theo. Aturlah sendiri waktumu." Khaisan tiba-tiba bangun dan duduk.


"Mau ke mana kamu, Boss??" Theo bertanya sambil menoleh. Lalu memejam mata kembali.


"Aku akan mencari makanan di dapur, sekaligus melihat orang-orangku," sahut Khaisan.


Khaisan pergi ke almari mencari pasang baju yang masih menjadi trend fashionnya. Yakni celana bahan hitam dengan atasan kemeja panjang warna abu-abu sangat gelap.


Dihempasnya baju handuk serta handuk lilit ke kursi di samping almari. Khaisan membiarkan tubuh tegap, kekar dan memukaunya itu tanpa baju dan hanya dengan boxer. Sebelum ditutup lagi dengan baju beberapa saat kemudian.


Lalu dibawa kakinya pergi keluar melewati lorong panjang. Menuju pintu rahasia penghubung ke aula.


Aula yang telah disewa super eksklusif beberapa kali, termasuk juga nanti malam. Acara yang terdaftar sebagai reuni VIP high level, tetapi nyatanya adalah acara terselubung dan rahasia. Yang berakhir dengan penyewaan kamar unguk digunakan para pasangan ilegal yang menyewa.


Mulanya, melalui Theo, Khaisan tidak ragu akan mendatangkan petugas razia perhotelan di penginapan. Namun, sebuah data rahasia telah ada di tangannya. Data yang berhasil dihackernya sendiri, sebab Khaisan memang memiliki keahlian bidang IT (Information and Technology).


Data berisi nama-nama pengunjung acara terselubung. Yang mana untuk bergabung dalam acara itu, harus menjadi member dengan membayar nominal yang fantastis. Selain biaya sebagai member, juga harus menguras dompet lagi untuk iuran tiap kali mengikuti acara pertemuan.


Yang membuat Khaisan tercengang, sebuah nama ada di antara baris pengunjung wanita. Nama yang masih menggetarkan jiwa dan raga saat dibaca dan disebut. Nama yang memaksa Khaisan untuk kembali ke pulau Batam, Indonesia lebih cepat.


Urusan yang bisa dihandle Theo pun, ingin ditinjaunya langsung dengan mata dan kepalanya sendiri. Demi sebuah nama yang terus terukir di jiwa, Cut Kemalasari Hanah..


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ