The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
43. Mommynya



Mereka telah sampai di pelataran parkir dari lokasi sebuah bangunan megah kondominium elite di kota Nagoya pusat. Mereka berdua memasuki lobi dan disambut petugas keamanan dengan sigap.


Sebab Khaisan dan Cut Ha sekedar pengunjung, mereka diminta menunjuk segala identitas diri masing-masing. Sistem pengawasan di kondominium ini memang sangat disiplin dan ketat. Pihak pengelola sangat mengutamakan kenyamanan dan keselamatan bagi para penghuninya.


Setelah sesi pendataan selesai, Cut Ha mengikuti Khaisan berjalan menuju ke tempat lift di sudut lobi. Mereka akan meluncur ke lantai dua, di mana kondominium milik orang tua berada.


Hanya ada empat pintu kondominium mewah di lantai dua yang luas. Yang di desain dua pintu berseberangan dengan dua pintu lainnya. Khaisan mendekat dan menekan tombol di salah satu pintunya.


"Wa'alaikumsalam,,, heih anak bujang karatan momi datang jugaaaa!!!"


Seorang wanita berumur dengan postur besar tinggi, muncul di pintu dan menjawab salam yang dilontar Khaisan. Juga mengulur tangan untuk merangkul. Khaisan pun menyambut dan mereka sedang saling merangkul dengan rapat. Cut Ha menduga wanita yang masih nampak cantik itu adalah sang ibu dari Khaisan.


"Siapa ini, Kha?" tanya wanita itu memandang Cut Ha.


"Cut Ha, Mom. Bossku," terang Khaisan singkat pada ibunya.


"What?! Jadi diakah sebab kamu tak jadi temui mommy sama papimu hari itu???" ibunya nampak terkejut.


Memberi senyum untuk Cut Ha dengan manis. Cut Ha pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Cut Ha yang menyangka ibunya akan sinis ataupun sewot, merasa lega seketika. Ibu Khaisan nampak hangat dan ramah.


"Heih, Kha, cepatlah ajak bos kamu masuk sini. Ayo bossnya Khaisan, datanglah ke dalam," ucap ibu Khaisan pada Cut Ha dan anak lelakinya.


"Ayo masuk, Cut," ajak Khaisan sambil menepi memberi jalan lapang untuk Cut Ha.


"Aku segan. Apa aku mengganggu?" tanya Cut Ha yang berhenti dan berdiri di depan. Tiba-tiba merasa tidak enak hati dan ragu.


"Buang pikiran seperti itu. Kamu sudah berada di sini. Ayo, Cut. Ibuku pasti masak enak-enak di dalam." Khaisan menunjuk arah dalam di kondominium orang tuanya.


"Kha,,!" Terdengar panggilan dari sang ibu di dalam.


"Ya, mom!" sahut Khaisan lantang.


Khaisan tidak ragu menyambar lengan tangan Cut Ha dan membawanya masuk ke dalam. Cut Ha hanya diam mengikuti meski nerasa terkejut yang sangat.


Khaisan melepaskannya saat sampai di dalam, sang ibu memandangi mereka dengan raut yang heran. Merasa aneh dengan kelakuan anak lelakinya yang menggandeng tangan Cut Ha, meski bossnya sekalipun.


"Apa kalian sudah makan?" tanya sang ibu dengan memandang wajah Cut Ha. Mencoba abai dengan suguhan janggal dari anak lelaki.


"Belum, Mom, tadi aku buru-buru. Mana dedi? Apa kalian sehat?" tanya Khaisan dengan berjalan santai menuju dapur ibunya.


"Sehat.. Dedimu masih ke apotik beli vitamin, sekalian jemput calon mantunya," jawab sang ibu dengan santai.


"Ayo Cut Ha, bossnya Khaisan, duduklah di sini," ucap ibunya Khaisan, kemudian menarik Cut Ha mendekati meja makan. Menarik kursi dan mendudukkan Cut Ha di sana.


"Siapa lagi kali ini yang kalian pamerkan padaku, mom?" tanya Khaisan sambil menusuk satu keping paru goreng chrispy dengan garpu. Menyeret kursi dan memakannya di meja.


"Ayo, Cut Ha. Sarapan dulu. Ini asli semua bikinan mominya Khaisan. Maaf ya, hanya seperti ini," ucap ibunya Khaisan dengan tersenyum.


"Terimakasih, tapi ini semua nampak sedap. Apa tidak menunggu calon menantu Anda dulu, nyonya?" tanya Cut Ha berusaha nampak sopan.


"Masih banyak stoknya. Nanti momi keluarkan yang baru. Sudah cepatlah makan, momi sudah makan dari tadi." Ibunya Khaisan menyodor piring untuk Cut Ha dan Khaisan.


"Heih, Kha. Masakan Momi ini sedap semua, kendalikan mulutmu. Kamu mesti makan dua kali, makan sama bossmu juga makan sama calonmu."


Mommy nampak bingung sendiri. Kemudian juga ikut duduk di depan mereka. Memperhatikan Cut Ha yang sedang mengambil nasi. Juga Khaisan yang terus mengunyah paru nampak senang rautnya.


"Apa Cut Ha sudah menikah?" tanya mommy tiba-tiba. Cut Ha mengangkat wajah, menoleh Khaisan dan kemudian tersenyum pada mommy.


"Belum, nyonya," jawab Cut Ha dengan pelan.


"Heih, kamu bossnya putraku, tapi kamu sopan dan tidak sombong. Terimakasih, titip anak lelaki ya. Semoga kerjanya memuaskan,"


"Sebenarnya aku tidak ingin dia menjadi bodyguard, berbahaya. Tapi dia kemauannya keras sekali. Padahal, dia hanya kerja amal,,," keluh mommy pada Cut Ha.


"Kerja amal? Maksud anda,,?" sahut Cut Ha dengan cepat. Tertarik dengan ucapan mommynya Khaisan.


"Mom,," tegur Khaisan dengan pelan. Namun, sang mommy terlihat abai tak peduli. Masih berniat melanjutkan keluhannya.


"Cut Ha,, mommy bukan tidak suka dia gemar sedekah. Tapi janganlah sedekah nyawa. Dia itu jadi bodyguard, tidak mengambil pembayarannya satu sen pun. Dia itu susah disadarkan. Bukankah selain sedekah uang, diapun juga sedekah tenaga dan nyawa??" tanya mommy dengan raut yang sedih.


"Benarkah yang dibilang Momimu, pengawal Kha??" Cut Ha dirrect bertanya pada Khaisan.


Khaisan terdiam, menatap datar wajah sang mommy agak lama. Kembali menusuk sepotong paru dengan garpu. Lalu dimakannya sambil memandang Cut Ha di sampingnya.


"Benar, Cut. Tapi aku ikhlas saja melakukan. Sudahlah, tidak perlu membahas hal ini lagi. Cukuplah, mom," ujar Khaisan pada ibunya dan Cut Ha.


"Seluruh total pembayaran, kamu serahkan semua pada masjid melalui ketua agensimu??" tanya Cut Ha antusias.


"Hemm," gumam Khaisan tanpa menggeleng atau pun mengangguk.


"Lalu, selama ini kulihat kamu cukup royal. Uangmu nampak banyak. Darimana kamu dapat uang, pengawal Kha?" tanya Cut Ha nampak lebih antusias.


"Dapat dari orang tua, Cut," sahut Khaisan dengan cepat. Memandang sang mommy tercinta yang juga masih memandang Khaisan dengan raut protesnya. Tapi Khaisan menunjuk raut abai dengan terus mengunyah tusuk parunya nampak lezat.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


Vote ya, please... Otor agak sibukπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ“πŸ“