The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
51. Tempat Acara Bertunang



Khaisan dan Andres sama-sama memandang Cut Ha yang sedang membolak balik katalog berisi model perhiasan cincin berlian. Wanita cantik itu nampak tidak fokus dan hanya memandang sekilas dari tadi.


"Bagaimana Cut Ha, kamu sudah melihat-lihat seluruh modelnya? Sudah ada yang kamu suka?" tanya Andres dengan nada yang lembut dan hangat. Cut Ha mengangkat wajah dan memandang Andres sejenak.


"Aku sangat suka yang ini, apakah terlalu mahal?" tanya Cut Ha terkesan segan pada calon suaminya. Khaisan tahu jika Cut Ha hanya menunjuk asal dan buru-buru pada salah satu gambar model cincin di sana.


"Semahal berapa pun tidak masalah, Cut Ha. Coba tunjukkan padanya," ucap Andres seraya menunjuk pada pelayan toko perhiasan. Juga tidak berniat sebentar pun melihat seperti apa model yang dipilih Cut Ha untuk pertunangan mereka.


Cut Ha lekas mengulur katalog dan menunjuk pilihannya pada pegawai toko perhiasan. Pegawai toko nampak serius menyimak dengan wajah cerah kemudian. Memandang Cut Ha penuh binar.


"Nona yang cantik, pilihan anda istimewa sekali! Model ini adalah limit edisi dan hanya akan dibuat sepasang saja. Tidak ada pasangan lain yang akan menyamai cincin tunangan anda berdua. Anda sungguh sangat jeli!"


Pujian pegawai toko yang panjang itu sungguh lebay sekali bagi Cut Ha. Bukan tidak paham jika seluruh pegawai toko berlian akan mengatakan hal yang sama. Sedang dirinya pun merasa sama sekali tidak membuat pilihan. Hanya telunjuk di jari sajalah sang penentu modelnya.


"Terimakasih, kak," respon Cut Ha merasa perlu memberi apresiasi bagusnya. Bagaimana pun, dirinya juga seorang pedagang yang hampir serupa gaya dan cara menjerat sang calon pelanggan yang terhormat di toko eletroniknya.


Pegawai itu agak mendekat pada Andres setelah nenulis seuatu di sebuah buku kecil.


"Apakah anda ingin melunasi pembayaran secara cash atau melalui transfer?" tanya pegawai dengan sangat sopan pada Andres.


"Transfer. Aku akan membayarnya sekarang juga. Kapan di antar cincin pilihan calon istriku ini?" tanya Andres sambil mengeluarkan dompet kulit, tetapi dengan dua warna perpaduan garis hijau dan garis kuning.


Khaisan memperhatikan dengan merasa heran pada selera warna barang pribadi milik Andres yang terkesan tidak sesuai. Menghindari rasa berburuk sangka, Khaisan berharap jika Andres adalah seorang lelaki yang penyayang perempuan. Terlebih lagi kepada sang calon istri, Cut Ha.


Pembayaran untuk sepasang cincin tunang berlian yang mencapai ratusan juta telah selesai. Andres baru saja mengakhiri transaksi pembayaran di mesin register mini serbaguna yang dipegang oleh pegawai toko. Yang terakhir mendapat bukti sah pembayaran tunai dari pegawai wanita tersebut.


Telah disepakati jika sepasang cincin berlian akan diantar tepat di hari pertunangan Andres dan Cut Ha. Sedang tempat pertunangan dan hari tepatnya pun belum ditentukan.


Namun, Andres sempat mengatakan jika kemungkinan acara tunang akan dilakukan lusa malam. Yang semua biaya akan ditanggung segalanya oleh keluarga pihak lelaki. Cut Ha pun mengangguk pasrah dengan apapun rencana yang dikatakan Andres padanya.


"Bagaimana jika tempat, hari dan waktu, aku saja yang menentukan, Bang Andres?" tanya Cut Ha setelah Andres selesai menerangkan.


Andres memandang Cut Ha dan mengangguk kemudian."Apapun yang kamu inginkan dan kamu akan bahagia, lakukan saja Cut Ha. Aku akan mengiyakannya seluruh inginmu dengan senang hati," ucap Andres, pandangan matanya menyiratkan rasa puas. Andres dan Cut Ha sama-sama saling melempar senyuman.


"Terimakasih, Bang Andres. Akan kukabari secepatnya padamu," ucap Cut Ha nampak lega pada Andres.


"Iya, akan aku usahakan, Bang Andres. Serahkan urusan menentukan tempat dan waktu itu hanya padaku," sahut Cut Ha dengan memandang Andres yang kembali memotong puding susu. Andres nampak suka dengan puding.


"Oke, Cut Ha. Apapun inginmu saja,"


"Itu pudingmu tidak kamu makan? Rasanya sangat lembut dan sedap sekali. Cobalah," ucap Andres yang kali ini nampak bersikap perhatian.


"Terimakasih," sambut Cut Ha mengangguk. Demi menghargai Andres, diambilnya juga pisau pemotong dan penusuk puding. Apa yang dikatakan Andres memang benar. Puding madu susu itu rasanya lembut dan legit sekali.


Cut Ha hampir saja menawarkan puding itu pada Khaisan. Sebab rasanya sangat enak, jadi latah ingin berbagi dengan sang bodyguard. Akhir-akhir ini, rasanya ingin terus berbagi rasa suka dan gembira bersama bodyguard nya.


Bagi Cut Ha, Khaisan sangatlah baik dan hangat tak terkata. Perhatian dan perlindungan Khaisan sudah bersarang di benaknya. Meskipun mulut berkata tidak ingin lagi dijaga, tapi hati di dada menginginkan sebaliknya. Andai mungkin, berharap sekali dijaga bodyguard Khaisan hingga seterus inginnya.


Cut Ha terus menutupi kata hati. Juga membungkam mulut dengan susah payah agar tidak peduli lagi dengan Khaisan di belakangnya. Cut Ha tidak ingin Andres berpikir lain dan beranggapan yang tidak-tidak antara dirinya dan Khaisan. Perasaan nyaman itu cukup dirinya saja yang paham.


"Bang Andres, mengingat urusan cincin sudah clear, kamu juga sedang bekerja, dan aku pun ingin berbincang mengenai tempat dengan temanku, bisakah kita akhiri dulu pertemuan kita ini?" Cut Ha telah menghabiskan hampir setengah bulatan puding dan ternyata jadi enek rasa di mulutnya. Bukan lagi senikmat saat awal makan.


"Oke, Cut Ha. Kita akhiri perjumpaan ini. Sampai bertemu di hari pertunangan nanti. Atau jika ada apa-apa dan harus bertemu, hubungi aku cepat saja, Cut Ha," pesan Andres yang disambut anggukan oleh Cut Ha. "Permisi, Bang Andres," Cut Ha berpamitan dan berdiri. Kemudian meninggalkan Andres sendirian di mejanya.


Lelaki itu sudah menghabiskan seluruh bulatan puding tanpa bosan. Rupanya Andres adalah tim lelaki yang menggemari rasa manis. Bahkan segelas moka susu miliknyapun juga telah sukses dikeringkan.


Cut Ha berjalan cepat meninggalkan area toko pemesanan perhiasan. Menuju pintu keluar Nagoya Mall di bagian belakang. Pintu bagian belakang mall yang menghubungkan bagian dalam Nagoya Mall dengan pelataran parkir luas di belakang bangunan Mall.


Khaisan mengikuti dengan langkah tenang di belakang Cut Ha. Meskipun Cut Ha berjalan cepat dan buru-buru, tetapi tetap mampu diimbangi Khaisan dengan langkah tegapnya yang perlahan dan santai.


"Pengawal Kha, aku ingin berbicara. Apa aku mengganggu?" tanya Cut Ha dengan pandangan sayu dan malas. Khaisan sudah meluncurkan kendaraan di jalan raya meninggalkan latar parkir Nagoya Mall.


"Tentang apa, Cut?" tanya Khaisan menoleh sedetik. Lalu kembali berpaling wajah di jalanan dengan cepat.


"Tentang tempat yang kupilih untuk acara tunanganku dan Andres. Aku ingin acara tunangan itu di tempatmu, pengawal Kha," ucap Cut Ha dengan pelan. Nampak jika wanita jelita itu sedang tegang dengan menahan hembus nafasnya. Terlebih saat Khaisan menoleh cepat dan tajam menatapnya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ