
"Cut, kamu tidak pergi memakai baju??" tanya Khaisan dari tempatnya. Merasa Cut Ha masih saja di ranjang dan tidak berjalan.
"Aku sedang memakai baju di sini. Tidak di kamar mandi. Jangan berbalik badan kemari," sahut Cut Ha dengan nada yang rendah.
Khaisan tidak menyahut, namun sangat paham maksudnya. Kian yakin jika Cut Ha sudah mengalami trauma. Khaisan berharap bahwa wanita itu tidak sedang menuju depresi. Khaisan benar-benar merasa demikian bersalah. Namun, Khaisan tidak ingin terlalu menunjukkan perasaan sesalnya pada Cut Ha.
Suasana kamar yang biasa ditinggali Felix setelah berpisah ranjang dengan sang istri terasa sunyi. Hanya bunyi gesekan kain yang samar terdengar. Khaisan yakin jika Cut Ha sedang memakai sepasang baju miliknya. Yang dia pilihkan paling kecil dan stok paling lama. Beberapa waktu dulu, badan Khaisan lebih kurus dari sekarang.
"Aku sudah memakai baju. Ayo kita pulang."
Suara Cut Ha benar-benar terasa dekat. Khaisan yakin jika wanita itu sudah berjalan mendekat dan kini berdiri tepat di belakangnya. Khaisan membuka pintu dan menariknya lebar agar Cut Ha bisa keluar dengan mudah. Lalu kembali ditutup lagi pintu itu.
"Tunggu," ucap Cut Ha saat berada di luar kamar. Lalu menghampiri sebuah wastafel wajah di sisi ruangan. Wanita itu membasuh wajah dan leher di sana agak lama. Khaisan terus menunggu dan diam dengan perasaan yang iba.
Khaisan kembawa Cut Ha keluar dari ruang tempat tinggal mantan manager di rumah inap. Namun, tiba-tiba Cut Ha berhenti dan memandang ke pintu yang baru saja ditutup Khaisan dengan rapat.
"Ada apa, Cut?" tanya Khaisan merasa bingung.
"Ponselku hilang di ruangan itu," ucap Cut Ha datar dengan memandang kosong ke pintu. Tidak jelas sedang berbicara dengan siapa. Yang jelas, hanya ada Khaisan yang sedang bertanya padanya.
"Aku sudah menyimpan ponsel kamu, Cut," sahut Khaisan. Ditepuknya pundak Cut Ha dan pelan diajaknya berjalan. Lelaki itu berjalan lurus ke depan tanpa menoleh Cut Ha lagi di sampingnya. Namun, hanya berjalan pelan mengimbangi langkah wanita itu.
"Benarkah sudah tersimpan, syukurlah," Cut Ha tiba-tiba bersuara lirih dan seperti bergumam dengan lambat. Seperti baru menelaah ucapan Khaisan tentang ponselnya.
Mereka berjalan dengan lambat. Cut Ha melangkah sangat pelan. Celana longgar dengan ikat pinggang yang kencang di pinggang kecilnya, membuat Cut Ha tidak nyaman berjalan. Rasanya menggantung dan seperti akan jatuh jika dibuat melangkah.
"Kenapa, Cut? Apa ada yang sakit?" Melihat cara berjalan Cut Ha, Khaisan khawatir. Lelaki itu berhenti yang membuat Cut Ha juga ikut berhenti.
"Ini bajumu?" tanya Cut Ha seperti bergumam dan lirih.
"Iya. Tidak enak dipakai?" tanya Khaisan menduga.
"Sangat besar. Rasanya akan jatuh," ucap Cut Ha tanpa ekspresi di wajah pucatnya.
"Apa kamu mau menunggu di penginapan ini sebentar, akan kubelikan baju wanita," ucap Khaisan menawarkan. Tetapi Cut Ha menggeleng dengan wajah tertunduk.
"Tidak, aku ingin sampai di rumahku dengan cepat," Cut Ha bersiap melangkah setelah berbicara. Khaisan menangkap tangan Cut Ha tiba-tiba. Dipalingkan pundak dan wajah Cut Ha padanya.
"Cut, aku sangat bersyukur kamu baik-baik saja. Sebab itu, aku ingin memberimu hadiah," ucap Khaisan sungguh-sungguh. Memandang Cut Ha dengan serius.
"Hadiah apa," ucap Cut Ha datar. Seperti tidak tertarik atau juga penasaran.
"Menggendongmu. Ayo kugendong, Cut," Khaisan berkata sambil tersenyum. Namun, tidak mendapat sambutan, Cut Ha tetap dengan ekspresi datarnya. Tidak terkejut, mengangguk atau pun menggeleng.
"Ayo, Cut. Naik ke punggungku." Khaisan telah berjongkok rendah di depan kaki Cut Ha.
"Cepatlah, Cut. Hadiah ini hanya bisa kamu dapat sekarang. Habis kamu menikah, tidak akan lagi," ucap Khaisan berusaha mengusik perasaan Cut Ha.
"Iya. Aku gendong," reapon Cut Ha cepat seraya menempelkan kaki di punggung dan memegang pundak Khaisan. Tidak terlihat ekspresi wajahnya.
Khaisan dengan cepat menahan kaki Cut Ha dan berdiri. Membenarkan posisinya agar aman tergendong di punggung sejenak. Kemudian berjalan dengan tenang dan tidak buru-buru. Seperti berusaha agar tubuh Cut Ha tidak terlalu mengguncang di punggungnya.
"Mobil siapa?" tanya Cut Ha saat diletak pelan Khaisan ke dalam mobil asing.
"Punya Home Stay Te Ka," jawab Khaisan yang menutup pintu nya. Berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi.
Mobil berlogo dengan tulisan Home Stay Te Ka telah meluncur menuju kota Nagoya pinggiran. Tidak begitu kencang, sebab jalanan cukup ramai dan padat.
Jalan raya dipenuhi para pekerja industri di kota Muka Kuning dengan jadwal kepulangan pukul delapan hingga pukul sembilan malam. Jam sekitar itu memang masih sangat sore dan belum terlalu malam di Batam.
"Apa kamu lapar, Cut?" tanya Khaisan berusaha mengajak Cut Ha berbicara. Wanita itu sering kedapatan melamun dengan pandangan kosong yang jauh ke depan.
"Aku belum makan cukup. Tapi aku tidak merasa lapar," jelas Cut Ha tanpa menoleh Khaisan. Sang tuan seperti terus menghindar untuk bertatapan mata dengan sang bodyguard.
"Kamu ingin singgah di rumah makan?" tanya Khaisan mengerti.
"Tidak. Aku malu dengan baju begini. Aku ingin cepat menukar," Cut Ha berkata jujur dengan memandang bajunya sekilas. Khaisan pun memakhlumi. Meski tetap terlihat bagus dipakai Cut Ha. Tapi kesan menly dengan warna sedikit pudar, masih saja terlihat.
"Aku belikan, kamu makan di mobil," ucap Khaisan memberi tawaran sekali lagi.
"Tidak," sahut Cut Ha, kali ini dengan nada tegas.
"Baiklah, Cut. Makan di rumah saja. Akan kutelpon Mariah," sahut Khaisan menanggapi. Nampak mengeluarkan ponsel dari saku kemeja.
"Jangan telepon. Aku ingin makan nasi goreng," ucap Cut Ha sambil menunduk.
"Maksudmu?" tanya Khaisan dengan isi kepala yang bermacam dugaan.
"Buatanmu, pengawal Kha. Apa keberatan?" tanya Cut Ha terdengar segan. Namun tidak juga memandang Khaisan. Tatapannya lurus jauh ke jalanan.
"Tidak keberatan, Cut. Akan kubuatkan." Khaisan berkata seraya menaikkan kedua alisnya. Lalu diturunkan dengan menghembus nafas yang tak sadar ditahan. Merasa bersyukur, Cut Ha yang selalu datar, tidak berekspresi dan dalam pengaruh trauma, ternyata masih memiliki kemauan dan keinginan. Khaisan akan menurutinya dengan senang hati.
πΈπΈπππΈπΈ