The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
79. Andreas Abdullah



Khaisan membuka pintu kamar setelah mendapat ketukan bertubi berulangkali. Tertunda untuk langsung dibuka sebab dirinya sedang menunaikan shalat dzuhur.


Ceklerk


"Ada apa, Theo?" tanya Khaisan dengan wajah suntuk saat pintu dibukanya. Mimik Theo tampak tegang dengan sikapnya yang tergesa.


"Kabar buruk, Kha," sahut Theo dengan menyebut Khaisan nama saja. Khaisan segera paham, ada satu hal yang cukup serius terjadi.


Diikutinya Theo yang melesat ke jantung kamar dan menghempas pahanya di sofa. Khaisan tidak duduk di hamparan sofa, tetapi menyangkutkan diri di pinggiran ujung sofa tepat di samping Theo.


"Kabar buruk itu apa, Theo?" tanya Khaisan mendesak. Berharap sang asisten segera membuka mulutnya.


"Suami wanitamu, baru saja menghubungiku. Ingin bertemu empat mata denganku sore ini. Apa saja yang kamu lakukan pada istrinya semalam?" tanya Theo dengan senyum mengejek pada Khaisan.


"Kamu pikir wajar jika dua orang dewasa saling rindu dan berada di satu kamar tanpa melakukan apapun, haah?!" tanya Khaisan tersenyum sambil melempar bantalan ke dada Theo.


"Dasar bujang lapuk! Apa kau masih perjaka??" tanya Theo dengan wajah seriusnya.


"Theo, kau kan sudah tahu dengan kasusku lima tahun lalu sebab wanita yang kini justru membuatku seperti gila dan bodoh?" Wajah Khaisan memuram sejenak. Menunggu respon dari Theo padanya.


"Untuk kasus lama itu, anggap saja kau ini belum pernah menggunakan milikmu dengan sesungguhnya, Kha. Iya, kau memang sungguh bodoh, Khaisan. Jika diingat, orang tuamu sudah berapa kali mencarikan gadis-gadis untukmu, namun justru istri orang yang kau beratkan," gerutu Theo merasa terheran.


"Lebih baik kau diamkan saja mulutmu itu, Theo," hardik Khaisan dengan datar, namun juga menahan senyum masam di wajahnya.


"Kau sendiri, sudah berapa lama menikah, Theo? Milikmu sudah tahunan kau pakai, tapi byatanya tidauk berguna. Satu anak pun kau tidak punya," Khaisan membalas ejekan Theo dengan telak. Namun, telah mendapat hadiah lemparan bantal sangat keras dari Theo.


"Jadi, sekarang aku harus bagaimana? Suami wanitamu ini ingin bertemu denganku sepulang dia kerja. Mungkin habis ashar," ucap Theo dengan malas.


Khaisan memandang dengan dahi berkerut dan bertaut alis merapat. Memandang Theo dengan tatap meminta.


"Totalitaslah membantuku, Theo," ucap Khaisan.


"Iya, Theo, terus bantu aku, Please,," sahut Khaisan dengan sangat berharap.


"Menurutmu, apa yang akan dilakukan atau dikatakan lelaki itu setelah aku menemuinya?" tanya Theo.


"Aku tidak bisa menduganya. Tetapi, aku akan mengikutimu dan mengawasi kalian. Kau jangan khawatir dengan keselamatanmu, Theo," ucap Khaisan memberi semangat dan dorongan pada sang sahabat.


"Bagaimana jika kubawa lelaki itu untuk datang saja ke mari di home stay te ka saja, Kha?" tanya Theo dengan sikapnya yang terus tampak malas.


"Jika itu membuatmu mudah, lakukanlah. Aku juga akan merasa lebih mudah. Andres, lelaki yang ingin menemuimu, Theo Jayakarta , tidak tahu bahwa akulah pemilik rumah di penginapan ini. Jadi terserah kamu, tetap bertemu di sini pun juga bisa. Aku justru sangat suka dan gembira."


Khaisan berbicara dengan terus menatap wajah Theo. Agak heran saat mendapati Theo nampak penuh dengan raut heran dan terkejut.


"Ada apa, Theo?" tanya Khaisan merasa bingung.


"Siapa nama lengkap lelaki itu tadi, Kha? Apakah Andreas Abdullah?!" tanya Theo berseru. Serta merta duduk tegak dengan meluruskan punggungnya.


"Ada apa Theo? Memang benar, nama suami Cut Ha adalah Andreas Abdullah. Ada apa dengan nama itu?" tanya Khaisan dengan sangat penasaran. Theo sedang sangat tajam menatapnya.


"Andreas, suaminya, dia itu bukan lemah syahwat, Kha," ucap Theo dengan jelas dan sangat mengejutkan Khaisan.


"Apa maksud kamu, Theo? Apa kamu akan mengatakan jika Andreas adalah,,," ucap Khaisan menggantung dengan ekspresi terkejuthya. Namun, Theo dengan cepat telah mengangguk, membenarkan dugaan Khaisan tentang Andres.


"Ternyata kau sudah menenalnya, Theo?" tanya Khaisan dengan semakin terheran. Yang lagi-lagi disambut satu kali angguk kepala oleh Theo.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ


"Otor sedang kayak baling-baling kipas angin.. Sibuuuuukkk muter2πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜βœŒ