
Ketiga polisi diminta Khaisan untuk membawa Felix pergi dari kamar dan menunggu di luar. Sementara salah satu barang bukti selain belati, bius spray dan ponsel mini yang telah dibawa polisi, Dias sedang membujuk Cut Ha agar melepas sepasang bajunya. Dias tidak tahu jika baju yang dipakai Cut Ha sudah mengenaskan tampilannya.
Ingat akan hal itu, juga ingat pernah ada hubungan sesat antara Cut Ha dan Dias, Khaisan segera mendekati pembaringan. Dias sedang berusaha menarik selimut yang dipegang erat-erat oleh Cut Ha.
"Dias kamu tunggu saja di luar. Aku ingin berbicara dengannya," ucap Khaisan berbicara di samping Dias yang membungkuk.
Dias berdiri tegak dan memandang Khaisan, lalu mengangguk. Wanita itu meninggalkan Cut Ha bersama Khaisan dan keluar dari kamar. Lalu sang bodyguard membungkuk di depan tuannya.
"Cut, maafkan aku. Aku juga tidak akan menyalahkanmu. Tapi kuharap aku tidak sangat lambat menyusulmu. Polisi akan membawa Felix, bisakah kamu lepas bajumu? Polisi menginginkan barang bukti, Cut," ucap Khaisan dengan pelan pada Cut Ha. Mata itu masih saja menangis.
"Felix mengancamku. Aku takut dia akan,,," Cut Ha tidak menyambung ucapannya.
"Jangan khawatir, Cut. Felix sudah tidak memegang apapun. Handphone pun tidak ada. Aku sudah tahu tentang ancamannya padamu. Akan kuhapuskan semua akunmu. Sekarang berikan bajumu," bujuk Khaisan dengan lembut.
"Dia punya mata-mata. Apakah kamu??" tanya Cut Ha dengan ragu. Khaisan nampak kaget dengan pertanyaan Cut Ha.
"Sama sekali bukan. Dia tidak punya mata-mata apapun. Percayalah padaku. Sekarang aku ingin kamu buang baju koyak itu. Bisa, Cut?" Khaisan membujuk lembut dan memahami perasaan tuannya.
Meski Cut Ha merasa kurang paham dengan penjelasan Khaisan, tapi rasa aman mulai dirasakannya.
"Semua?" tanya Cut Ha lirih dengan tatapan yang enggan.
"Iya, biasanya semua. Hemm, baju yang koyak-koyak saja, Cut," ucap Khaisan meralat.
Pengawal yang sedang merasa sangat lega itu berbalik dan berdiri menjauh menghadap pintu. Memberi kesempatan pada tuannya untuk mengumpul barang bukti.
"Sudah." Terdengar Cut Ha berbicara.
Khaisan segera berbalik dan kembali mendekati ranjang. Cut Ha telah berselimut rapat lagi dengan setumpuk kain yang terkoyak di sampingnya.
Khaisan mengambil baju baju koyak itu dan memasukkan ke dalam bag bekas kotak terang bulan. Darahnya bergolak saat diraupnya baju itu. Bahkan bra Cut Ha pun juga terputus jadi dua bagian dan terpisah.
Khaisan segera mengucap istighfar berulang kali dalam hati. Meredam kemarahan yang kembali bergolak dalam darah. Berulangkali juga mengambil nafas dan menghembus dengan cepat.
"Akan kubawakan baju untukmu. Tunggulah sebentar. Apa ingin Dias menemanimu?" tanya Khaisan sebelum menjauh pergi dan keluar.
"Tidak. Jangan minta dia ke sini. Lebih baik aku sendiri dulu." Cut Ha berbicara tanpa memandang Khaisan.
"Aku mengerti, Cut," sambut Khaisan. Lalu berbalik dan benar-benar lenyap dari kamar.
Khaisan telah menyerahkan barang bukti dari korban kepada polisi. Juga meminta makhlum andai korban belum bisa memberikan sedikit saja keterangan.
Khaisan menyelipkan juga uang pelicin agar kasus di rumah inap Home Stay Te Ka tidak sampai menjadi sebuah berita di media sosial satu huruf sekalipun. Selain agar ketenangan Cut Ha tidak terusik, juga tidak ingin nama baik rumah inap Home Stay Te Ka tercoreng moreng.
"Apa kamu ingin istirahat dan bermalam di penginapan ini, Dias?" tanya Khaisan pada Dias yang nampak sedang bingung. Polisi baru saja berpamitan dengan mengusung Felix pergi bersama mereka.
"Aku ingin bertemu Cut Ha. Boleh aku masuk ke kamar menemuinya?" tanya Dias memandang Khaisan.
"Maaf, Dias. Biarlah sahabat kamu itu merasa tenang. Kalian jangan saling bertemu sementara. Aku tidak ingin dia juga depresi jika melihatmu." Khaisan berkata tegas pada Dias dengan pandangan yang tajam. Dias menunduk dan mengangguk.
"Maafkan aku. Baiklah aku mengerti maksudmu, pengawalnya Cut Ha. Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Dias berkata sambil membenarkan tali tasnya di pundak.
"Dias, akan ada mobil home stay yang mengantarmu pulang ke appartmentmu di teras lobi!" Khaisan berseru memberikan pesan pada Dias. Tapi tiba-tiba wanita berbadan besar itu berbalik. Memandang heran pada Khaisan.
"Kamu ini siapa?! Bukankah bang Felix adalah manager? Tapi dia sudah tidak ada di sini.." Dias bertanya dengan setengah bergumam. Merasa heran dengan kuasa Khaisan di bekas tempat kekuasaan suaminya.
"Sudah malam, Dias! Pulanglah! Mobil Te Ka sudah standby di bawah. Temui saja drivernya!" Khaisan berseru sambil berjalan pergi. Lelaki itu masuk ke dalam kamar yang bukan ditempati Cut Ha. Tidak peduli lagi dengan ekspresi heran Dias.
Khaisan mengambil baju ganti berupa kaos tebal dan celana pendek selutut dari almari. Juga sebuah ikat pinggang warna hitam. Akan diberikan pada Cut Ha.
Dias sudah tidak ada lagi di ruangan luar saat Khaisan keluar kamar dengan membawa beberapa potong baju. Yakin jika Dias sudah turun ke lobi seperti yang diarahkan olehnya.
Khaisan kembali membuka pintu bekas kamar Felix dan menyelip ke dalam. Mendekati ranjang dan mendapati Cut Ha sedang menangis kembali.
"Cut Ha, aku bawa baju ganti sementara untukmu. Pakailah," ucap Khaisan mengulurkan baju pada Cut Ha.
"Aku ingin pulang," sahut Cut Ha dengan lirih.
"Pakai baju dulu. Habis itu pulang. Salam dari temanmu, Dias. Dia pun sudah pulang," ucap Khaisan membujuk. Ingin agar Cut Ha lekas memakai baju tanpa perlu banyak tanya.
Cut Ha nampak bangun perlahan dan duduk. Selimut yang masih membungkus rapi tubuh depannya, dicengkeram erat oleh tangan kirinya. Cut Ha tidak ingin adanya drama selimut jatuh yang akan menampakkan polos tubuhnya di bagian depan. Itu pasti sangatlah memalukan. Cut Ha merasa sangat malu, hina dan begitu kotor di depan Khaisan.
"Aku akan menunggumu di luar, Cut," ucap Khaisan dan berjalan ke pintu.
"Tunggu saja di dalam. Pandanglah ke pintu," ucap Cut Ha bermaksud menahan Khaisan.
Meski heran, Cut Ha tidak pernah menyuruhnya menunggu di dalam kamar, tapi Khaisan dengan patuh pun menuruti. Berdiri tegak menghadap dinding dan pintu.
Meski segan, bagi Cut Ha ini cukup nyaman. Rasanya jadi aman dan tenang. Khaisan sedang jelas-jelas menjaganya.
Cut Ha tidak pergi ke kamar mandi. Namun, tetap bergerak di tempat dengan memakai baju yang diulur Khaisan barusan. Cut Ha yang tidak mengenakan apapun selain celanna dalamm, Felix belum mengusiknya. Cut Ha memakai baju dari Khaisan agak lamban.
πΈπΈπππΈπΈ