The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
69. Lambat



Seluruh rentet kegiatan perawatan sebelum pernikahan sangatlah tidak menyenangkan bagi Cut Ha. Semua dilakukan secara terpaksa dengan wajah yang tanpa senyuman. Kegiatan kebugaran itu terasa menyiksa dan sangat menguras energinya. Semakin tidak rela, maka kian kepayahan saja yang dirasakan oleh Cut Ha.


Untung sekali,, kegiatan terakhir adalah pemijatan di ruangan khusus yang nyaman dengan aromatherapy memabukkan. Sangat cocok dengan pijatan oleh tangan terampil dan terlatih yang membuat Cut Ha terasa dilenakan. Cut Ha benar-benar tidur dengan perasaan nyaman dan menyenangkan. Lupa sejenak dengan beban batin yang digenggamnya.


Calon pengantin wanita itu dibangunkan saat semua pijatan selesai dan kemudian dimandikan. Wanita jelita yang sedang merana itu tidak iizinkan mandi sendirian.


Namun, beberapa orang telah membawanya ke dalam kamar mandi untuk membantu totalitas pembersihan. Cut Ha baru dibiarkan leluasa saat berendam air bunga banyak rupa dalam bak besar kamar mandi. Cukup menenangkan meski waktu yang diberikan tidak lama.


"Ibu selalu melihatmu menangis. Sekarang pun kamu menangis. Ibu sangat sedih melihat air matamu. Jika mungkin, biar ibu saja yang menggantikanmu menikah, Cut," keluh ibunya.


Cut Ha selesai mandi dan baru saja shalat dzuhur. Beberapa orang telah menunggu demi lanjut merias dan menyulapnya untuk menjadi indah sempurna dengan tiada tandingan malam ini.


"Maafkan aku, Ma. Aku janji, ini adalah tangisanku yang akan Mama lihat terakhir kalinya." Cut Ha menimpali ucapan sang mama.


"Terimakasih, kamu yang semangat ya sayangnya mama," ucap mamanya sambil mencium kedua pipi Cut Ha berulangkali. Putrinya sedang mengangguk mengiyakan.


Cut Ha mengambil tisu dan mengelap matanya saat orang dari tim rias itu datang menghampiri. Mereka akan mulai meriasnya dzuhur ini. Sang ibu selalu setia mendampingi dan tak sekalipun beranjak dari kamar. Mungkin perasaan ibunya sedang sangat sedih, atau juga bercampur rasa lega bahagia.


πŸ•ΈπŸ“


Wanita dengan digelayuti dua anak kecil sama umur dan berbeda gender itu telah mengenakan make up rias yang sempurna. Berpadu matching dengan gamis dan kerudung di kepalanya. Velingga tampak anggun dan cantik malam itu.


Namun, raut wajahnya tidak secerah riasan dan penampilannya. Tampak muran dan seringkali menggerutu tidak sabar. Beberapa kali terlihat mengeluarkan ponsel dan melihat waktu di layarnya.


"Papa kalian lama sekali dandan, salah sendiri nggak mau cepet-cepet. Sudah di pesen untuk pulang awal, juga nggak pulang-pulang," ujar Velingga menggerutu. Tidak sadar jika yang ditunggu sudah berdiri menjulang di belakang punggungnya.


"Sabar darliiing, memang kamu saja yang boleh cantik? Aku pun juga harus terlihat tampan dan gagah, tidak boleh kalah darimu," ucap Errushqi di belakang Cut Ha.


"Tetapi pria kan harusnya lebih cepat. Ini, lama bangeet. Pakai lipstik!" sungut Velingga ingin meledek sang suami.


"Aku tidak pernah pakai lipstik, Ling. Ini asli, aku tidak pernah satu kalipun merokok," ucap Errushqi tersenyum sambil memonyong bibir merahnya ke depan. Meski sang istri berniat sekadar menggoda, tapi Errushqi juga suka menanggapi.


"Iya, tapi jangan lambat bangun, Ling. Kita pulang habis subuh tepat," sahut Errushqi bersetuju.


"Jangan ingkar janji. Nanti tiba-tiba kamu egois, enggak mau dan batal nginepnya," sindir Cut Ha akan hal yang mengecewakannya kemarin.


Kesepakatan menginap, tiba-tiba dibatalkan oleh Errushqi sebab rasa cemburu sepihaknya pada Khaisan. Yang akhirnya terbukti tidak ada apa-apa diantara Velingga dan Khaisan.


Keinginan untuk menginap dan bermesra ria di penginapan pun juga gagal. Malam itu, setelah meninggalkan Cut Ha di kamarnya, Errushqi dan Velingga yang sudah mulai berbuat yang iya-iya dalam kamar penginapan, terpaksa menunda sebab bu Yanti menelepon.


Bu Yanti mengabarkan jika Erick dan Erlika terbangun dan menangis. Merasa kecewa sebab papa dan mamanya tidak berada seorang pun dalam kamar. Maka Errushqi dan Vellinggapun buru-buru meninggalkan penginapan. Tidak lagi mengurusi apapun yang dilakukan Cut Ha di kamar Khaisan


"Aku janji, kita nginep," ucap Errushqi sebelum meluncurkan mobilnya beberapa detik kemudian.


Seperti kesukaan biasanya, Velingga akan menuruti keinginan dua kembar untuk duduk di depan bersama ayah mereka yang mengemukan mobil di jalanan. Erlika di pangkuan sang mama, sedang Erick duduk sendiri dengan agak terjepit di tengah.


"Acara nikahannya sudah selesai,,, cuma dapat pestanya saja. Kasihan Keke,, kamu sih mas,, lambat-lambat pulang.." Velingga kembali mengeluh. Mereka sudah berjalan meninggalkan latar parkir di Home Stay Te Ka.


"Maaf, Ling. Di kantor ada tim pelawat dari Korea, nggak mungkin kutinggal. Tadi kan sudah kusaranin pergi duluan, tapi kamu nggak mau, nunggu aku. Ya sudah, cobalah ikhlas. Nanti kita minta maaf rame-rame sama Keke," ucap Errushqi menghibur.


"Iya,, tapi kasihan saja pas akad nikah, kita nggak ada, Mas," ucap Velingga dengan nada yang sedih.


Errushqi menggenggam tangan Velingga dengan erat. Ada Erlika dalam gendongannya. Sedang Erick, lebih suka berjalan dengan dituntun sang ibu.


Mereka telah meninggalkan lift dan sedang berjalan menuju aula. Gempita musik pernikahan telah terdengar menembusi keluar dari dalam aula. Meskipun bukan dirinya, tapi Velingga juga merasa bagaiman sedih yang sedang Cut Ha rasakan di dalam sana.


Duduk bersanding dengan orang yang sudah menikahi tanpa adanya rasa cinta. Tidak bisa dibayangkan betapa berat jika hal itu menimpanya.


Terlebih, ada nama lelaki lain yang ternyata sudah bersarang di hati. Ini akan lebih sakit dan tersiksa rasanya. Lain cerita jika Cut Ha tidak memiliki nama lelaki lain, mungkin akan lebih mudah mencoba pasrah dan rela. Ah, betapa berat ujian pernikahan yang sedang dialami sang sahabat.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ•ΈπŸ•Έ