The Bodyguard's Secrets

The Bodyguard's Secrets
41. Jogging



Sujud terakhir pada shalat subuh yang singkat baru saja berakhir. Setelah mengaminkan doa-doa dengan raupan khidmat kedua telapak lebarnya, Khaisan mengakhiri ibadah rutin itu pagi ini.


Menukar sarung dan kokonya yang longgar menjadi lebih ketat dengan baju olahraga. Sengaja ingin berlarian kecil pagi ini. Selain sudah lama tidak melakukan, tapi juga ingin mengajak Cut Ha untuk mengasah kesehatan jasmaninya. Yang tentu akan diikuti dengan kesehatan rohaninya.


"Ada apa?" tanya Cut Ha saat membuka pintu dan mendapati Khaisan adalah orang yang menotoki kamarnya.


"Sudah shalat?" Khaisan memandang Cut Ha menelisik. Wajah bangun tidurnya seperti tidak ada jejak air wudhu di sana.


"Belum, kenapa??" Cut Ha sambil memperhatikan Khaisan dengan baju olahraganya yang menempel tepat di badan bagusnya.


"Ikutlah berolahraga denganku pagi ini, Cut." Meski ucapan Khaisan adalah ajakan, tapi terkesan memaksa. Namun, Cut Ha merasa tidak keberatan.


"Sebentar, pengawal Kha," ucap Cut Ha dan melesat masuk ke dalam kamar. Khaisan menunggu di depan pintu meski Cut Ha akan keluar kamar agak lama. Mengingat jika Cut Ha belum menunai subuhnya pagi ini.


Setelah sekian lama, Cut Ha pun keluar dengan sepasang baju olahraga yang melekat sempurna di badannya. Baju green tosca dengan atasan dan bawahan yang serba panjang namun tidak longgar, telah membalut cantik di badan. Cut Ha nampak segar dan mempesona dengan penampilan kostum press bodynya. Kian pembuktian bahwa Cut Ha tidak gemuk.


"Nona Cut Ha! Mau ke mana, Anda?!" Mariah yang sedang memasak di dapur berseru. Merapikan meja makan dengan memandang takjub pada Cut Ha.


"Mariah, aku akan jogging," sahut Cut Ha dengan mengikuti Khaisan di belakangnya.


"Hati-hati nona Cut Ha!" Mariah menyerukan pesan sambil melambai. Meskipun Cut Ha sudah tidak lagi menolehnya.


Bukanlah tempat yang jauh atau juga sebuah fasilitas. Hanya mengelilingi toko elektroniknya yang besar itu sajalah Khaisan membawa Cut Ha berlari santai mengeliling. Meski bukan di lapangan dan tidak ada matahari yang menyengat pagi itu, telah mampu membakar kalori ekstra yang tersimpan di badan. Keringat nampak membulir di dahi keduanya.


"Sudah?!" seru Khaisan saat Cut Ha memberlambat lari dan kemudian berhenti. Mereka sudah sampai di dekat pintu belakang toko.


"Sudah lelah." Cut Ha mengangguk dengan sahutan engahnya. Nampak sengal sejenak yang kemudian kembali bernafas tenang.


Khaisan yang juga sedang engah dengan membuang nafas di mulut, mendekati Cut Ha dan berdiri di depannya.


"Sebenarnya ada olah raga yang jadi tidak pernah lagi kulakuakan sejak ada kamu," kata Cut Ha dengan memandang Khaisan.


"Olahraga apa, Cut? Fitness?" tebak Khaisan. Cut Ha cepat-cepat menggeleng.


"Berenang," jawab Cut Ha dengan berpaling muka ke samping.


"Kenapa kamu tidak pergi berenang?" tanya Khaisan merasa heran.


"Kamu pasti terus ikut. Aku kan risih," keluh Cut Ha. Khaisan memandang Cut Ha tidak menanggapi. Hanya bibir tipisnya sedang tersenyum.


"Itu sudah cara kerjaku. Anggap saja aku patung seperti yang kamu bilang saat aku awal bekerja," ucap Khaisan. Kali ini bodyguard tampan itu tidak tersenyum.


"Inginku memang begitu. Tetapi ternyata tidak mudah, pengawal Kha," ucap Cut Ha kembali seperti mengeluh. Khaisan meraup wajah dan memandang Cut Ha serius.


"Ke mana?" Cut Ha juga memandang dengan raut ingin tahu.


"Akan menjumpai orang tuaku. Kami belum bertemu," jelas Khaisan akan maksud izinnya. Ekspresi Cut Ha nampak sedang memikirkan. Kemudian menganggukkan dagu pada Khaisan.


"Oh, sebab akukah kalian belum saling bertemu? Maaf. Boleh saja, tapi bawa aku. Aku ingin ikut, pengawal Kha. Apa boleh?" tanya Cut Ha kembali dengan nada membujuk. Mata indah dan bening itu memandang berharap.


Khaisan berkernyit dahi dan menautkan dua alis. Merasa ambigu dengan sikap Cut Ha yang terkesan manja penuh harap. Bukan lalu merasa risih, tetapi justru merasa suka dan gemas. Namun, Khaisan berusaha merespon dengan sikap yang biasa.


Bagaimanapun, Cut Ha bukan lagi anak kecil, tapi sudah kelewat dewasa yang sama dengan dirinya. Wanita yang berusaha selalu dia jaga itu sebentar lagi akan menjadi istri orang. Mungkin sebaliknya dirinya pun demikian.


"Aku tidak lama menemui orang tuaku, Cut. Tidak ada dua jam, sebab ini bukan hari Jumat. Sebaiknya kamu di rumah saja."


Khaisan menggerak-gerakkan kaki setelah berbicara pada Cut Ha. Berusaha menegaskan putusannya dan tidak terpengaruh akan wajah Cut Ha yang berekspresi kesal padanya.


"Baiklah, kamu tidak akan kuikuti. Tapi, jika aku diculik orang, kamulah yang akan merasa paling bersalah."


Cut Ha berkata sungguh-sungguh dan seperti mengancam. Memandang Khaisan dengan sorot mata yang mengecil.


"Kamu sudah dewasa, Cut. Berusahalah untuk jaga diri serta melindungi dirimu sendiri. Jika mau, kamu bisa kursus bela diri, Cut," pungkas Khaisan. Memandang Cut Ha dengan senyuman.


Khaisan terlihat lebih tampan dengan wajah berkeringat dan rambut yang lembab. Mungkin jika jambang dan kumis itu lenyap atau pun samar saja, Khaisan akan terlihat jauh lebih tampan lagi.


"Apa kamu bisa bela diri? Kamu yang akan memberiku kursus?" tanya Cut Ha antusias.


"Tidak, bukan aku." Khaisan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak kamu saja, pengawal Kha?" tanya Cut Ha nampak heran.


"Kepala agensi melarangku memberikan kursus pada wanita. Kecuali nanti setelah aku menikah dan memiliki sendiri seorang wanita pribadi yang sah dan halal." Khaisan menjelaskan dengan berdiri tegak dan membuang jauh pandangannya.


"Maksudmu setelah menikah dan kamu memiliki satu orang istri??!" tanya Cut Ha menanggapi dengan antusias.


"Tentu saja satu orang, Cut." Khaisan mengangguk dan tersenyum lebar.


"Maksudku seorang istri, pengawal Kha!" ralat Cut Ha.


Wajahnya nampak kesal namun juga tersenyum. Kemudian berjalan mengikuti di belakang Khaisan. Sang bodyguard justru telah melangkah meninggalkannya. Yang diam-diam juga sedang menyembunyikan senyuman.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ“πŸ“πŸ™πŸ™πŸ•ΈπŸ•Έ