
Cut Ha dan Khaisan telah selesai berbincang sangat panjang. Merasa begitu lega telah saling membuka rahasia hati masing-masing yang ternyata sama-sama saling menyambut. Perasaan bahagia dan ingin saling memiliki sedang menyelubung penuh di jiwa mereka. Berharap satu-satunya pagar tinggi yang menutupi jalan mereka menuju istana bahagia segera selamat dibuka dan dibentang.
"Aku mengantuk sekali, aku akan tidur. Meski free time kamu habis, itu tidak masalah. Tidurlah saja di kamarmu, pengawal Kha."
Cut Ha berbicara pelan sambil menengadah menatap dekat wajah Khaisan yang masih memperhatikannya. Namun, Cut Ha tidak melepaskan tangannya dari Khaisan yang terus membiarkannya bertingkah dengan sesuka hati. Mereka saling pandang lama dan lalu tersenyum.
"Kamu tidak mengajakku tidur bersama di sini, Cut?" tanya Khaisan lirih. Mencoba bercanda dan memberi teguran halus.
Cut Ha berubah pias dan cepat menarik tangan untuk melepaskan pelukan di punggung Khaisan. Menjauhkan diri saat Khaisan juga melepasnya.
"Apa yang mengganjal sudah kukatakan. Aku, lega sekali. Selamat berjuang, perjuangkan aku, pengawal Kha." Cut Ha telah duduk menjauh dari Khaisan.
"Iya. Aku berjanji, jangan khawatir. Akan kuusahakan. Tolong doakan aku, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar, Cut. Semoga Allah melembutkan hati orang tuamu" ucap Khaisan.
"Aamiin, pengawal Kha," sahut Cut Ha cepat.
Khaisan menepuk pelan pipi Cut Ha sekali, lalu bangun dan berdiri dengan cepat. Berniat keluar dari kamar. Sebentar lagi akan datang waktu subuh. Mereka berdua sudah cukup lama berbincang serta saling memeluk menguatkan. Jika lebih lama lagi, rasa nyaman dan senang itu bisa jadi akan berubah jadi hasrat yang kian menyesatkan.
Cut Ha telah berbaring dan membiarkan sang bodyguard menyelimuti rapat dirinya. Mengangguk dan menjawab salam saat lelaki itu berpamitan dan berjalan keluar. Cut Ha tersenyum bahagia sekaligus sedih dengan memandang punggung Khaisan yang lenyap dari pandangan di detik-detik berikutnya.
πΈ
Pandangan Cut Ha yang sedih dan sayu saat melepas dirinya berangkat menuju Nagoya Pusat adalah penyemangat Khaisan melaju di aspal jalan raya yang hitam. Menuju rumah orang tua Cut Ha demi memperjuangkan restu dari mereka berdua.
Sempat berpikir untuk membawa mommy dan daddynya. Namun, Khaisan khawatir jika mereka ikut justru kian merunsingkan suasana. Yang Khaisan putuskan lebih baik berbicara dengan mereka setelah orang tua Cut Ha jelas-jelas memberinya lampu hijau.
Khaisan sempat menawarkan jika lebih baik Cut Ha ikut bersama menemui orang tuanya. Namun, Cut Ha tidak bersedia sebab merasa takut dan tidak sanggup berhadapan dengan wajah orang tuanya.
Meskipun Khaisan menyayangkan sikap Cut Ha, tapi menganggap itu bukan masalah dan memang total tanggungannya sebagai lelaki yang pergi melamar.
Kini, seorang dirilah Khaisan duduk di ruang tamu dari rumah besar orang tua Cut Ha, di belakang toko elektronik milik keluarga. Berhadapan langsung dengan ayah dan ibu Cut Ha yang terlihat jauh lebih angkuh dari sebelumnya.
"Jadi, kenapa kamu datang sendiri dan Cut Ha tidak ikut?" tanya ayah Cut Ha, bapak Latif namanya.
"Sebab saya ada hal penting yang ingin saya bincangkan dan sangat berkaitan dengan putri Anda, Pak Latif," ucap Khaisan mulai menuju inti kedatangannya.
"Betul, Nyonya. Tapi masalah itu bukan berat andai Anda berdua rela membantunya," ucap Khaisan menjelaskan. Memandang ibu Cut Ha dan berdoa dalam hati agar wanita itu memudahkan niat baiknya dan Cut Ha.
"Katakan cepat, apa itu??" tanya ayah Cut Ha menyela. Khaisan merasa sifat ayah Cut Ha tidak pernah berubah. Agak keras dan pasti juga alot. Juga sangat perhitungan.
"Putri anda sekarang sedang sakit sebab merasa tertekan dan banyak berpikir," ucap Khaisan. Berpikir tidak salahnya jika mengatakan hal itu yang bisa saja menjadi senjata ampuh baginya.
"Maksudmu? Jelaskan cepat, pengawal Khaisan." Ayah Cut Ha sangat tidak sabar.
"Mohon maaf, pak Latif. Jangan berburuk sangka padaku saat kukatakan jika putri anda menyukaiku, begitu juga denganku. Kami saling menyukai. Bolehkan kami saling menikah? Kami berdua ingin menikah. Mohon izin Anda, Pak Latif, juga izin anda Nyonya Latif," ucap Khaisan dengan memberanikan diri terus berbicara. Yang akhirnya sampai di destinasi perbincangan.
"Apa?? Kau merayu anakku? Apa saja yang sudah kamu lakukan pada anakku? Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu ??!" tanya ayah Cut Ha dengan muka merah padam dan nada bicaranya sangat tajam.
"Saya tidak merayu. Saya juga tidak melakukan apapun pada putri Anda. Tapi kami saling suka begitu saja. Saya ingin meminta restu baik-baik pada ayah dan ibu berdua agar merestui hubungan baik kami," ucap Khaisan berusaha mengambil hati calon mertua.
"Itu tidak mungkin, bahkan aku dan besanku sudah terlanjur investasi bersama sebuah rumah mewah di tengah kota Nagoya. Akan kami berikan sebagai hadiah pernikahan anak-anak kami yang akan terselenggara tidak lama lagi. Tidak mungkin pengantin lelaki pernikahan ini ditukar denganmu, pengawal Khaisan," ucap ayah Cut Ha pelan namun sangat tajam dan sinis.
"Maaf, Pak Latif. Bagaimana jika seluruh biaya dari calon besan Anda serta seluruh pengeluaran Anda, saya yang mengganti seluruhnya?" tanya Khaisan sopan mencoba membujuk.
"Apa?? Kamu mengganti seluruh biaya? Itu tidak mungkin! Akupun juga tidak ingin merusak hubungan baikku dengan calon besanku. Tidak mungkin akan semudah seperti yang kamu bicarakan, pengawal Khaisan," tegas ayah Cut Ha dengan kesal.
"Kita belum mencoba. Alangkah baiknya jika kita mencobanya, Pak Latif," ucap Khaisan dengan berusaha terus membujuk dan bersabar.
"Apa kamu bilang?? Kita?? Aku tidak akan pernah sudi. Pernikahan ini akan terus kulanjutkan dengan Andres sebagai pengantin lelakinya. Lebih baik kamu pergi secepatnya dari sini. Juga tidak perlu lagi kamu mengawal putriku. Saat ini juga akan kuambil putriku dan kubawa kemari. Aku tidak ingin kamu mempengaruhi putriku."
Ayah Cut Ha sangat tidak ramah lagi pada Khaisan. Menanggapi dingin dan tidak berminat lagi berbincang. Berpaling muka dan tidak menganggap ada Khaisan di depannya.
"Auh, pah,,! Dadakuh,,pah, sakit,,paah!"
Nyonya Latif tiba-tiba merebah di sofa dan memegangi dadanya. Wajah itu meringis dengan mata memejam rapat nampak sangat kesakitan. Rupanya jantung lemah mamanya Cut Ha telah kambuh kembali.
πΈπΈπππΈπΈ