
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
...............
Sore itu dipemakaman umum di kota J. Beberapa pelayat sudah meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa keluarga inti yang masih berada di tanah pemakaman yang masih basah dan juga penuh dengan taburan bunga.
Vania masih menangis di dekat pusara keponakannya. Ya, Sora dinyatakan telah menghembuskan napas terakhirnya saat di dalam penjara. Dia melukai dirinya sendiri di tengah malam dengan cara membenturkan kepalanya sendiri di tembok. Tetapi memang kondisi Sora sejak dibawa ke kantor polisi sudah tidak baik-baik saja. Dia tidak pernah mau menyentuh makanan yang selalu diberikan oleh pihak kepolisian.
Sora berniat menghabisi dirinya sendiri. Di akhir hidupnya bahkan dia menyebutkan nama sang mama dan kakaknya.
Vania didampingi terus oleh suaminya, Vano. Karena istrinya itu sedang hamil muda. Sudah beberapa kali sang istri pingsan saat mengetahui bahwa Sora telah berpulang. Vano sampai harus berkali-kali mengingatkan Vania jika dia sedang mengandung. Dan Vania harus ingat bahwa dia sedang tidak seorang diri. Ada dua nyawa dalam tubuhnya.
Vano melirik ke arah sang istri yang masih melamun. Diapun kemudian memberikan kode kepada Juna. Keduanya lalu mengajak Vania untuk meninggalkan pemakaman. Hari sudah akan berganti malam. Tidak bagus juga untuk kondisi Vania yang sedang berbadan dua.
"Kami pergi duluan mas," pamit Vano kepada sandi yang masih duduk di depan makam sang putri.
Sandi hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa lagi berkata-kata setelah tadi melihat jasad sang putri yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Dia seolah Dejavu dengan apa yang pernah dia alami sebelumnya. Sang istri yang pergi lebih dulu, lalu putra pertamanya, dan kini kepergian putrinya. Kekuatan sandi seketika hilang setelah mengetahui sang putri benar-benar pergi meninggalkannya.
"Maafkan papa nak, papa tidak bisa menjaga kalian berdua. Maafkan aku Stefani. Maafkan aku tidak bisa menjadi suami dan ayah dari anak-anak kita. Aku bukan ayah yang baik sehingga Tuhan menghukumku seperti ini. Tuhan lebih mempercayakan mereka untuk ikut bersamamu. Aku tahu aku bersalah Stefani. Aku akan menanggung segala dosaku ini. Kamu benar, aku memang lelaki brengsek yang tidak bertanggungjawab. Aku pantas mendapatkan hukuman," sandi memeluk nisan sang putri yang masih baru.
Drrrttt
Drrtttt
Drrrttt
"Tuan, ada telepon dari nyonya," ujar pengawal pribadi Sandi. Dia memberikan handphonenya kepada sang majikan.
"Halo."
"Mas, kembalilah hiks... hiks...hiks..Steven mas...Steven kejang-kejang dan dokter mengatakan hidupnya tidak lama lagi, kembalilah mas...aku takut ..."
Sandi memejamkan matanya dan kembali air matanya menetes mendengarkan apa yang dikatakan oleh istri keduanya. Anak mereka sedang meregang nyawa juga di sana. Sandi hanya bisa menahan rasa sesak dalam dadanya.
"Baiklah, aku akan segera kembali."
"Siapkan penerbangan ku malam ini juga," ujar sandi kepada pengawalnya.
"Baik tuan."
Stefani, Soni, Sora, papa akan menanggung semua dosa papa karena sudah melukai dan menyakiti hati kalian bertiga. Dan papa akan terima semuanya ini jika memang ini adalah hukuman karena aku dan Sarah sudah menyakiti hati kalian.
...----------------...
Bersambung πΌ