SUNMOON

SUNMOON
SM 39



...Selamat datang di novel karya...


...π‘†π‘žπ‘’π‘Žπ‘‘ π‘ƒπ‘’π‘›π‘¦π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ/PIMOYᢠᡃⁿⁿʸ 🌼...


...semoga kalian suka ya ☺️....


...Like, Vote, Koment, & klik β™₯️ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya ✌️...


...π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘”...


.....................


"Den sunny," bik Minah tampak tergopoh-gopoh menyambut kedatangan sunny.


"Bagaimana keadaan sora bik?" tanya sunny setelah mematikan mesin motornya.


"Tambah parah den, non Sora masih mengunci dirinya di kamar den. Bibik dan mang Paijo sudah mencoba membujuk tetapi nggak bisa den," ucap bik Minah khawatir akan nasib anak majikannya tersebut.


"Orang tuanya?"


"Tuan dan Nyonya belum bisa dihubungi juga den, bibik bingung," ucap bik Minah yang cemas. Tampak kejujuran di raut wajahnya yang sudah mulai menua itu.


"Bagaimana bisa orang tua melupakan anak kandungnya sendiri," gerutu sunny sambil berjalan menuju ke kamar Sora di lantai dua.


Bik Minah mengikuti langkah sunny menuju kamar Sora.


Tok


Tok


Tok


"Non, buka pintunya non," terdengar suara mang Paijo yang masih mencoba meminta anak majikannya itu membuka pintu kamarnya.


Braaaakkkkk!


Praaang!


Sunny cukup terkejut mendengar suara benda-benda yang terlempar di dalam kamar Sora. Dia semakin mempercepat langkahnya.


"Den sunny," sapa mang Paijo yang seketika mundur saat melihat kedatangan sunny.


Tok


Tok


Tok


"Pergiiiiiiiii!!!" terdengar suara teriakan Sora dari dalam kamar.


"Aku nggak mau dengar suara kalian lagi. Pergiiiiii! aku mau sendiri! Nggak ada lagi yang sayang denganku! Pergiiiiii!" teriak Sora kembali.


Praaaaaaang!!!!!


Suara pecahan benda pun kembali terdengar.


Sunny mencoba membuka pintu tetapi rupanya dikunci dari dalam.


"Apa perlu didobrak saja den?" ucap bik Minah.


"Sora, ini aku," sunny mencoba memanggil Sora yang tampaknya sedang kalap di dalam kamarnya.


Suara pecahan benda kaca sudah tak lagi terdengar saat sunny menyapa Sora.


"Den, kok malah sepi? nggak ada sahutan?" tanya bik Minah yang cemas.


"Kunci cadangan apa nggak ada bik?" tanya sunny kembali.


"Ada den, tapi disembunyikan oleh non Sora tempo hari pas bibik lengah den," ucap bik Minah.


Sunny mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sora!"


"Sora!"


"Buka pintunya Sora!" teriak sunny memanggil-manggil nama Sora.


"Kalau kamu nggak mau buka pintu ini. Aku akan mendobraknya sekarang," ujar sunny kembali.


"Satu!"


"Dua!"


"Ti..."


Kunci pintu terdengar dibuka dari dalam kamar.


Ceklek.


Tampak seorang gadis dengan muka awut-awutan keluar dari kamar yang sudah seperti kapal pecah tersebut. Dengan wajah yang sembab gadis itu langsung menghambur ke arah sunny dan memeluknya erat.


"Kakak.... aku kangen kakak. Aku nggak mau ditinggalin kakak lagi. Aku kesepian tanpa kakak, hiks...hiks... kakak."


Bug!


"Non Sora!"


"Sora!"


Sora pingsan dalam pelukan sunny. Segera sunny membopong tubuh Sora yang terasa panas tersebut. Entah sudah berapa lama anak itu menangis sampai wajahnya begitu sembab.


"Bawa ke kamar sebelah saja den, kamarnya den Soni," ujar bik Minah.


Mang Paijo membantu sunny mengangkat tubuh Sora dan membawanya ke kamar almarhum kakaknya Sora.


Setelah merebahkan Sora di kasur king size di kamar itu. Sunny meminta bik Minah untuk menyiapkan alat kompres dan washlap untuk menyeka wajah Sora.


Sunny juga meminta mang Paijo untuk menghubungi dokter Vania. Dokter yang biasanya menangani kondisi Sora selama ini. Sunny tidak mungkin membiarkan Sora seperti ini sendirian.


Sunny duduk di tepi ranjang milik almarhum Soni. Di nakas samping tempat tidur terdapat foto Soni yang tersenyum. Sunny hanya bisa menghela napas panjangnya melihat keadaan sora yang semakin memprihatinkan tersebut.


"Bang, apa yang harus aku lakukan? Maaf bang, aku bukannya tega melakukan hal ini kepadanya. Tetapi aku tidak mau dia terus-terusan lari dari kenyataan yang ada. Aku melakukan ini juga demi kebaikan dia bang. Maafkan aku ...." ujar sunny sambil menundukkan kepalanya.


TBC 🌼